Nilai Kemanusiaan Jadi Kunci Membangun Ho Chi Minh City yang Modern dan Berbelas Kasih

Ilustrasi by AI

Ho Chi Minh City — Nilai seperti kreativitas, kepedulian, toleransi, tanggung jawab sosial, dan semangat beradaptasi dinilai menjadi modal penting bagi Ho Chi Minh City dalam membangun kota yang beradab, modern, dan berbelas kasih. Kesimpulan tersebut dikemukakan Tran Thi Chau dari University of Social Sciences and Humanities, Vietnam National University Ho Chi Minh City, dalam artikel yang diterbitkan pada 2026. Artikel tersebut mengkaji sistem nilai manusia masyarakat Ho Chi Minh City, perkembangannya dalam kehidupan perkotaan, serta perannya dalam mendukung pembangunan kota berkelanjutan. Artikel tidak mencantumkan periode khusus pelaksanaan penelitian, tetapi membahas kondisi sosial perkotaan dalam konteks perkembangan kontemporer.

Menurut Chau, pembangunan kota tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi, modernisasi infrastruktur, teknologi, atau tata kelola pemerintahan. Kualitas manusia dan nilai yang hidup dalam masyarakat juga menentukan apakah pembangunan mampu menghasilkan kehidupan perkotaan yang berkelanjutan.

Dalam artikel yang diterbitkan di Indonesian Journal of Interdisciplinary Research in Science and Technology (MARCOPOLO), Chau menyebut sistem nilai manusia sebagai fondasi spiritual kehidupan sosial sekaligus sumber daya internal yang memengaruhi kualitas dan kedalaman pembangunan kota.

Lima nilai utama masyarakat Ho Chi Minh City

Chau mengidentifikasi sejumlah karakter yang dianggap menonjol dalam sistem nilai masyarakat Ho Chi Minh City. Nilai-nilai tersebut terbentuk melalui sejarah panjang kota sebagai pusat perdagangan, pertemuan berbagai kelompok penduduk, serta interaksi antara tradisi dan modernitas.

Pertama adalah dinamisme, fleksibilitas, dan kreativitas. Karakter ini berkembang seiring sejarah ekonomi perdagangan dan jasa di kawasan Gia Dinh–Saigon. Masyarakat dinilai memiliki kecenderungan untuk bersikap praktis, proaktif, cepat beradaptasi, serta berani mengambil langkah baru dalam kehidupan ekonomi dan sosial.

Kedua adalah belas kasih, humanisme, dan semangat komunitas. Di tengah kehidupan metropolitan yang cepat dan penuh tekanan, masyarakat tetap mempertahankan tradisi saling membantu. Nilai compassion atau nghĩa tình terlihat melalui kegiatan sosial, bantuan kemanusiaan, dukungan terhadap kelompok rentan, hingga berbagai gerakan berbasis komunitas.

Ketiga, masyarakat Ho Chi Minh City dinilai memiliki penghargaan terhadap moralitas, kejujuran, dan prinsip kebenaran. Gaya hidup yang terbuka dan langsung dianggap dapat membantu menciptakan hubungan sosial yang lebih transparan serta membangun kepercayaan dalam kerja sama.

Keempat adalah toleransi dan keterbukaan terhadap perbedaan. Sebagai kota yang dihuni masyarakat dari berbagai daerah serta latar belakang etnis dan agama, Ho Chi Minh City berkembang dengan kemampuan adaptasi sosial yang relatif kuat. Keterbukaan tersebut memungkinkan masyarakat menerima nilai baru tanpa harus sepenuhnya meninggalkan identitas budaya yang telah berkembang sebelumnya.

Kelima adalah patriotisme, kesadaran sejarah, dan tanggung jawab sosial. Nilai ini menghubungkan perkembangan individu dengan kepentingan masyarakat dan negara. Menurut Chau, kombinasi tersebut menjadi bagian penting dari identitas masyarakat kota dalam menghadapi perubahan sosial dan integrasi internasional.

Nilai manusia berpengaruh terhadap kualitas pembangunan kota

Chau menempatkan sistem nilai manusia bukan sekadar sebagai identitas budaya. Nilai tersebut juga berperan dalam menentukan bagaimana masyarakat merespons perubahan ekonomi, teknologi, dan sosial.

Dinamisme dan kreativitas, misalnya, dapat mendukung inovasi, kewirausahaan, pengembangan sumber daya manusia, serta kemampuan masyarakat beradaptasi dengan perubahan akibat ekonomi pasar dan Revolusi Industri Keempat.

Sementara itu, belas kasih dan orientasi komunitas dapat memperkuat kohesi sosial di tengah kepadatan penduduk dan kesenjangan sosial. Nilai toleransi, keterbukaan, dan penghormatan terhadap prinsip moral juga dinilai dapat membantu menciptakan perilaku perkotaan yang lebih tertib, kooperatif, dan menghargai keberagaman.

Dengan demikian, pembangunan kota yang modern tidak dipandang hanya dari sisi ekonomi. Kualitas hubungan sosial, budaya, tanggung jawab warga, dan kemampuan masyarakat mempertahankan nilai kemanusiaan juga menjadi bagian dari keberhasilan pembangunan.

Kemajuan berjalan bersama sejumlah tantangan

Artikel tersebut juga mencatat sejumlah perkembangan positif dalam promosi nilai manusia di Ho Chi Minh City. Kota ini disebut memiliki sekitar 4,9 juta penduduk usia kerja, dengan lebih dari 85 persen di antaranya telah memperoleh pelatihan dan keterampilan. Indeks pembangunan manusia atau HDI kota juga disebut berada di atas 0,8.

Dalam aspek sosial, selama periode 2021–2025, lebih dari 69.000 rumah tangga miskin dan hampir miskin disebut berhasil keluar dari kategori tersebut berdasarkan standar kemiskinan multidimensi. Berbagai program bantuan sosial dan kegiatan kemanusiaan juga dinilai memperkuat nilai kepedulian masyarakat.

Namun, perkembangan tersebut menghadapi tekanan dari urbanisasi cepat, polusi, kemacetan, keterbatasan ruang publik, kesenjangan pendapatan, perubahan struktur keluarga, penuaan penduduk, serta perkembangan ruang digital.

Artikel mencatat bahwa proporsi penduduk lanjut usia di Ho Chi Minh City telah melampaui 12,5 persen dan terus meningkat. Pada saat yang sama, perubahan pola keluarga dapat mengurangi proses pewarisan nilai moral dan tanggung jawab antargenerasi. Media sosial dan ekonomi digital juga membawa tantangan baru, terutama ketika perubahan nilai tidak diimbangi dengan orientasi etika yang memadai.

Pendidikan dan warga menjadi bagian penting

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Chau mengusulkan agar sistem nilai manusia ditempatkan di pusat strategi pembangunan kota. Pembangunan ekonomi, transformasi digital, reformasi administrasi, pengembangan kota cerdas, dan pengembangan sumber daya manusia perlu berjalan bersama dengan pembangunan kualitas manusia.

Pendidikan juga dinilai memiliki peran penting. Nilai seperti kepedulian, tanggung jawab, penghormatan, kreativitas, kemampuan beradaptasi, dan kesadaran komunitas perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan dan perilaku nyata, bukan hanya disampaikan sebagai slogan. Keluarga, sekolah, komunitas, lembaga budaya, dan ruang publik dapat menjadi tempat utama untuk membentuk perilaku tersebut.

Chau juga mendorong keterlibatan warga secara langsung dalam pengelolaan kota. Masyarakat tidak hanya diposisikan sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi juga sebagai aktor yang ikut memberikan masukan, melakukan pengawasan sosial, membangun inisiatif komunitas, dan menciptakan lingkungan perkotaan yang layak huni.

Di sisi ekonomi, nilai kreativitas dan kewirausahaan perlu didukung melalui kebijakan yang mendorong inovasi, ekonomi berbasis pengetahuan, serta ekonomi digital. Namun, modernisasi tersebut tetap perlu disertai transparansi, etika pelayanan publik, pemerataan sosial, dan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan.

Tradisi dan modernitas perlu berjalan bersama

Salah satu pesan utama artikel Chau adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara keterbukaan terhadap dunia dan pelestarian identitas lokal. Ho Chi Minh City dinilai perlu menyerap nilai global yang progresif—seperti penghormatan terhadap martabat manusia, kreativitas, kesetaraan, dan tanggung jawab sosial—tanpa kehilangan nilai tradisional yang telah membentuk identitas masyarakatnya.

Chau menyimpulkan bahwa sistem nilai manusia merupakan sumber daya penting untuk membangun Ho Chi Minh City yang beradab, modern, dan berbelas kasih. Pengembangan nilai tersebut perlu diintegrasikan dengan pertumbuhan ekonomi, inovasi, pembangunan budaya, pendidikan, serta tata kelola perkotaan.

Profil Penulis

Tran Thi Chau merupakan penulis artikel dari University of Social Sciences and Humanities, Vietnam National University Ho Chi Minh City, Vietnam. Artikel tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian spesifik penulis. Berdasarkan isi publikasinya, kajian Chau berfokus pada sistem nilai manusia, budaya perkotaan, pembangunan berkelanjutan, dan perkembangan sosial Ho Chi Minh City.

Sumber Penelitian

Judul: The Human Value System of Ho Chi Minh City and its Role in Building a Civilized, Modern, Compassionate City
Penulis: Tran Thi Chau
Afiliasi: University of Social Sciences and Humanities, Vietnam National University Ho Chi Minh City, Vietnam
Jurnal: Indonesian Journal of Interdisciplinary Research in Science and Technology (MARCOPOLO)
Volume/Nomor: Vol. 4, No. 1
Tahun: 2026
Halaman: 1–14
DOI: 10.55927/marcopolo.v4i1.208
URL: https://journalmarcopolo.my.id/index.php/marcopolo 

Posting Komentar

0 Komentar