Model Pembelajaran Holistik PAI di SMP IT Bina Insan Ubah Cara Pandang Pembentukan Karakter Siswa

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Sumatera Utara - Sistem Pendidikan Agama Islam (PAI) sering kali terjebak pada hafalan dan ujian tertulis semata, sehingga memunculkan kesenjangan antara pemahaman teori dan perilaku harian siswa. Menjawab tantangan tersebut, penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Dandi Nugroho dan Ellisa Fitri Tanjung dari Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) membuktikan bahwa PAI dapat diterapkan secara efektif melalui ekosistem pendidikan holistik. Studi kualitatif ini dilangsungkan di SMP IT Bina Insan Batang Kuis, Deli Serdang, Sumatera Utara, sepanjang Desember 2025 hingga Maret 2026. Hasilnya menunjukkan bahwa integrasi antara kurikulum formal, pembiasaan ibadah, bimbingan pribadi (mentoring), dan kemitraan orang tua mampu membentuk karakter siswa secara utuh dan menyeluruh.

Latar belakang masalah pendidikan modern saat ini tidak hanya menuntut ketajaman akademik, tetapi juga kedewasaan emosional, kedalaman spiritual, dan tanggung jawab sosial. Pembelajaran PAI konvensional yang berfokus pada ranah kognitif dinilai belum cukup untuk membentuk insan kamil pribadi yang seimbang secara intelektual, moral, fisik, dan spiritual. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, SMP IT Bina Insan Batang Kuis menerapkan model PAI holistik yang memadukan Kurikulum Merdeka dari pemerintah dengan kerangka mutu Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT).

Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal instrumental. Data dihimpun melalui wawancara mendalam terhadap sembilan partisipan—terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, dua guru PAI, empat siswa, dan satu orang tua murid—serta observasi kegiatan dan analisis dokumen seperti modul ajar dan jurnal mutaba'ah harian.

Temuan utama penelitian mengonfirmasi bahwa pembelajaran PAI holistik di sekolah tersebut berhasil menghubungkan lima dimensi perkembangan siswa secara berkelanjutan:

  • Dimensi Kognitif-Intelektual: Memahami konsep keagamaan, penalaran ayat Al-Qur'an, dan diskusi studi kasus kontekstual.
  • Dimensi Spiritual: Pembiasaan salat Dhuha, murajaah Al-Qur'an, salat Dzuhur berjamaah, program MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa), dan kegiatan keputrian.
  • Dimensi Moral-Afektif: Menanamkan kejujuran, kedisiplinan, serta refleksi diri melalui jurnal harian.
  • Dimensi Psikomotorik: Praktik langsung tata cara wudhu, simulasi transaksi muamalah yang etis, hingga praktik penyembelihan hewan unggas secara benar.
  • Dimensi Sosial-Relasional: Pelatihan komunikasi publik melalui ceramah singkat siswa (kultum), diskusi kelompok, dan mentoring pekanan.

Penerapan model holistik ini membawa implikasi penting bagi dunia pendidikan, khususnya dalam membentuk ekosistem sekolah yang konsisten. Peran guru tidak lagi sebatas pengajar materi (instructor), melainkan bertransformasi menjadi fasilitator, pembimbing (murabbi), dan teladan nyata (role model) bagi siswa. Keterlibatan orang tua melalui buku pemantauan ibadah di rumah (mutaba'ah yaumiyah) turut memastikan continuity atau keberlanjutan nilai-nilai agama di luar lingkungan sekolah.

Meskipun demikian, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa tantangan nyata. Alokasi waktu PAI formal yang terbatas (3 jam pelajaran per minggu), variasi kemampuan Al-Qur'an antar siswa, beban administratif guru, serta perbedaan tingkat pendampingan orang tua di rumah menjadi kendala yang masih harus diselaraskan.

"Siswa dibentuk paling kuat oleh apa yang secara konsisten ditunjukkan oleh guru mereka. Guru PAI bukan sekadar pengajar, tetapi seorang murabbi yang memberikan keteladanan langsung dalam kehidupan sehari-hari," tegas Kepala Sekolah SMP IT Bina Insan dalam kutipan penelitian tersebut. Muhammad Dandi Nugroho dan Ellisa Fitri Tanjung menyimpulkan bahwa keunggulan PAI holistik tidak terletak pada banyaknya jumlah kegiatan keagamaan, melainkan pada keterhubungan yang konsisten antara pengetahuan, ibadah, akhlak, dan dukungan keluarga.

Profil Penulis

  • Muhammad Dandi Nugroho, S.Pd. – Penulis utama dan peneliti dari Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Memiliki kepakaran di bidang Pendidikan Agama Islam, metodologi pembelajaran holistik, dan pengembangan kurikulum sekolah berbasis Islam.
  • Ellisa Fitri Tanjung, M.Pd. – Dosen dan peneliti di Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Ahli dalam bidang strategi pembelajaran PAI, pengembangan moral-spiritual siswa, dan manajemen pendidikan Islam.

Sumber Penelitian

Nugroho, M. D., & Tanjung, E. F. (2026). Holistic Learning in Islamic Religious Education at SMP IT Bina Insan Batang Kuis. International Journal of Advance Social Sciences and Education (IJASSE), 4(4), 335–352. DOI: https://doi.org/10.59890/ijasse.v4i4.16

https://journalijasse.my.id/index.php/ijasse

Posting Komentar

0 Komentar