![]() |
| Illustratio by Ai |
Modal sosial memiliki peran penting dalam mengurangi kemiskinan di masyarakat pesisir Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara. Temuan ini dilaporkan oleh Sulsalman Moita dari Universitas Halu Oleo dalam penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research (IJAAMR). Penelitian tersebut menunjukkan bagaimana kepercayaan, kerja sama, norma sosial, dan jaringan masyarakat dapat bekerja bersama dengan sumber daya alam, manusia, fisik, dan finansial untuk meningkatkan kesejahteraan serta mengurangi kemiskinan di wilayah pesisir dan kepulauan.
Temuan ini penting karena
kemiskinan masih menjadi tantangan besar di banyak daerah pesisir Indonesia.
Meskipun memiliki sumber daya laut yang melimpah, banyak komunitas nelayan
masih menghadapi kerentanan ekonomi, keterbatasan akses permodalan, serta ketergantungan
pada sistem mata pencaharian tradisional. Penelitian ini menunjukkan bahwa
bantuan ekonomi saja sering kali tidak cukup jika tidak didukung oleh hubungan
sosial yang kuat dan partisipasi masyarakat yang aktif.
Kabupaten Konawe Kepulauan, yang
resmi menjadi daerah otonom pada tahun 2013, memiliki potensi maritim yang
besar. Sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup pada sektor perikanan
dan aktivitas ekonomi berbasis laut. Namun demikian, tingkat kemiskinan di
wilayah ini masih tergolong tinggi. Data yang dikutip dalam penelitian
menunjukkan bahwa angka kemiskinan di Konawe Kepulauan masih berada di atas 30
persen pada periode 2022–2025 meskipun mengalami penurunan secara bertahap.
Kondisi ini mendorong peneliti untuk melihat faktor-faktor lain di luar
pendekatan pembangunan ekonomi konvensional.
Untuk memahami bagaimana
masyarakat menghadapi kemiskinan, Sulsalman Moita melakukan penelitian
kualitatif yang melibatkan nelayan, pembudidaya ikan, investor lokal, pelaku
usaha, pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh adat. Data
dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi lapangan. Penelitian tidak
hanya berfokus pada tingkat pendapatan, tetapi juga menelaah bagaimana hubungan
sosial dan kelembagaan masyarakat berkontribusi terhadap ketahanan ekonomi.
Hasil penelitian mengidentifikasi
empat unsur utama modal sosial yang berperan dalam pengurangan kemiskinan,
yaitu:
- Kepercayaan (trust)
- Timbal balik atau saling membantu (reciprocity)
- Norma sosial dan nilai bersama
- Jaringan sosial
Menurut penelitian, keempat unsur
tersebut menjadi lebih efektif ketika dipadukan dengan modal lainnya, seperti
sumber daya alam, keterampilan manusia, infrastruktur fisik, dan sumber daya
keuangan.
Salah satu temuan terpenting
berkaitan dengan kepercayaan antaranggota masyarakat. Komunitas pesisir
yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi cenderung lebih mudah bekerja sama
dalam menjaga kelestarian ekosistem laut dan mengelola sumber daya perikanan
secara berkelanjutan. Para nelayan, misalnya, secara bersama-sama menghindari
praktik penangkapan ikan yang merusak seperti pengeboman ikan, penggunaan
racun, maupun alat tangkap yang merusak lingkungan. Komitmen bersama ini
membantu menjaga populasi ikan dan ekosistem laut untuk jangka panjang.
Kepercayaan juga mendukung
pengembangan ekonomi lokal. Penelitian menemukan bahwa hubungan yang kuat
antara nelayan dan pelaku usaha lokal dapat mengurangi ketergantungan terhadap
investor luar dan tengkulak. Di beberapa desa, pedagang lokal memberikan pinjaman
dengan bunga lebih rendah dan sistem pembayaran yang lebih fleksibel sehingga
membantu nelayan terhindar dari praktik utang yang merugikan.
Unsur kedua, yaitu saling
membantu atau reciprocity, memperkuat kerja sama masyarakat. Tradisi gotong
royong masih sangat kuat dalam berbagai aktivitas perikanan maupun kegiatan
sosial. Warga bersama-sama melakukan penanaman mangrove, menjaga lingkungan
pesisir, hingga membangun fasilitas perikanan seperti tempat pelelangan ikan
dan dermaga. Kegiatan ini tidak hanya mendukung keberlanjutan lingkungan tetapi
juga meningkatkan produktivitas sektor perikanan.
Budaya saling membantu juga
mempercepat transfer pengetahuan. Kehadiran kelompok nelayan pendatang,
khususnya dari etnis Bajo dan Bugis, memungkinkan masyarakat lokal mempelajari
teknik budidaya rumput laut dan pengelolaan sumber daya laut yang lebih baik.
Pengetahuan tersebut membantu meningkatkan keterampilan dan pendapatan
masyarakat.
Komponen ketiga adalah norma
sosial dan nilai budaya yang masih kuat di masyarakat pesisir. Nilai-nilai
tradisional mendorong tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan dan
membantu sesama. Beberapa tradisi adat bahkan telah berkembang menjadi kegiatan
yang mendukung pelestarian lingkungan, seperti program pembersihan pantai dan
perlindungan kawasan pesisir.
Salah satu contoh yang ditemukan
dalam penelitian adalah tradisi samaturu, yaitu budaya gotong royong
masyarakat setempat. Melalui tradisi ini, warga secara bersama-sama membangun
dan memelihara fasilitas umum seperti jalan, jembatan, tempat pelelangan ikan,
dan infrastruktur pesisir lainnya. Upaya kolektif tersebut membantu mengurangi
biaya pembangunan sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan yang
mendukung kegiatan ekonomi.
Komponen keempat adalah jaringan
sosial yang memungkinkan masyarakat membangun kelembagaan yang lebih kuat
dan memperluas akses terhadap peluang ekonomi. Penelitian menemukan bahwa
koperasi nelayan, organisasi masyarakat, dan struktur kepemimpinan lokal
berperan penting dalam mengoordinasikan aktivitas, berbagi informasi, serta
memperluas akses terhadap berbagai sumber daya.
Jaringan sosial juga mempermudah
transfer teknologi dan pemecahan masalah. Sebagai contoh, masyarakat memiliki
teknisi lokal yang mampu memperbaiki mesin perahu tanpa harus membawanya ke
kota besar. Selain itu, keberadaan koperasi nelayan membantu anggota memperoleh
peralatan dan dukungan operasional dengan lebih mudah.
Menurut Sulsalman Moita dari
Universitas Halu Oleo, modal sosial tidak dapat menggantikan sumber daya
ekonomi, tetapi berfungsi sebagai katalis yang membantu masyarakat
memaksimalkan manfaat dari modal alam, modal manusia, modal fisik, dan modal
finansial yang tersedia. Ketika berbagai bentuk modal tersebut saling
mendukung, masyarakat menjadi lebih mampu mengelola sumber daya laut,
meningkatkan produktivitas, dan memperbaiki kesejahteraan rumah tangga.
Penelitian ini memiliki implikasi
penting bagi pemerintah dan pembuat kebijakan. Program pengentasan kemiskinan
di wilayah pesisir dan kepulauan berpotensi lebih efektif jika melibatkan
struktur sosial lokal, nilai budaya, dan partisipasi masyarakat, bukan hanya
mengandalkan bantuan keuangan. Penguatan kelembagaan masyarakat, dukungan
terhadap koperasi, pelestarian lingkungan, dan pengembangan kepemimpinan lokal
dapat meningkatkan dampak jangka panjang program pembangunan.
Pada akhirnya, penelitian ini
menawarkan model pengentasan kemiskinan yang berbasis pada potensi lokal,
kearifan masyarakat, dan keberlanjutan sumber daya. Model tersebut tidak hanya
relevan untuk Konawe Kepulauan, tetapi juga dapat menjadi referensi bagi daerah
kepulauan lain yang menghadapi tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang
serupa.
Profil Penulis
Sulsalman Moita adalah
akademisi dan peneliti dari Universitas Halu Oleo yang memiliki fokus
kajian pada modal sosial, pembangunan masyarakat, pengentasan kemiskinan, dan
pengembangan mata pencaharian berkelanjutan di wilayah pesisir dan kepulauan.
Melalui penelitian ini, ia menelaah bagaimana hubungan sosial dan kelembagaan
lokal dapat memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat dan meningkatkan
kesejahteraan mereka.
Sumber Penelitian
Moita, Sulsalman. (2026). “Potential
Use of Model Social Capital and Others Capital-Society in Poverty Reduction in
Coastal Islands Konawe.” International Journal of Applied and Advanced
Multidisciplinary Research (IJAAMR), Vol. 4, No. 7, halaman 721–730. DOI: 10.59890/ijaamr.v4i7.271.

0 Komentar