Di tengah
meningkatnya perhatian publik dan investor global terhadap isu keberlanjutan,
tim peneliti dari Perbanas Institute Jakarta mempublikasikan studi komprehensif
pada tahun 2026 mengenai kesenjangan antara klaim ramah lingkungan perusahaan
dan kinerja lingkungan mereka yang sebenarnya. Penelitian yang dipimpin oleh
Dessy Adelin bersama Jonnardi, Primadonna Ratna Mutumanikam, dan Laela
Lanjarsih ini menyoroti maraknya praktik manipulasi informasi lingkungan—mulai
dari greenwashing hingga bentuk yang lebih serius yaitu greenfraud.
Temuan ini menjadi pengingat krusial bahwa citra hijau yang dibangun korporasi
sering kali tidak sejalan dengan realitas operasional di lapangan, sehingga
berpotensi menyesatkan konsumen, investor, serta merusak kepercayaan publik
secara luas.
Fenomena Citra Hijau dan
Kebutuhan Legitimasi
Dalam beberapa dekade terakhir,
isu perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati telah mengubah
lanskap bisnis global secara drastis. Perusahaan tidak lagi hanya dinilai dari
indikator keuangan tradisional seperti laba kotor atau peningkatan aset,
melainkan juga dari tanggung jawab sosial dan lingkungan melalui pendekatan triple
bottom line (profit, people, planet). Kerangka kerja Environmental,
Social, and Governance (ESG) kini menjadi tolok ukur utama bagi investor
global dalam menentukan alokasi modal.
Namun, besarnya dorongan pasar
dan kebutuhan untuk mendapatkan legitimasi sosial menciptakan insentif ekonomi
yang masif bagi perusahaan untuk memoles citra mereka. Banyak entitas bisnis
berlomba-lomba meluncurkan kampanye pemasaran hijau dan menerbitkan
laporan keberlanjutan (sustainability report). Sayangnya, tidak semua
informasi yang disampaikan kepada publik mencerminkan kontribusi riil terhadap
perbaikan lingkungan.
Membedakan Greenwashing dan
Greenfraud: Dari Kalimat Kabur Hingga Pemalsuan Data
Berdasarkan analisis literatur
dan laporan keberlanjutan yang dilakukan oleh Dessy Adelin dan timnya dari
Perbanas Institute Jakarta, studi ini mengidentifikasi dua tingkatan
kesenjangan utama antara klaim korporasi dan kinerja riil:
- Greenwashing (Pencucian Hijau): Merupakan
strategi komunikasi yang menciptakan persepsi positif berlebihan tanpa
disertai tindakan substantif. Praktik ini umumnya berada di area abu-abu,
seperti penggunaan istilah abstrak ("ramah lingkungan",
"eco-friendly", "sustainable") tanpa bukti terukur,
serta selective disclosure—yaitu hanya mempublikasikan pencapaian
kecil (seperti pengurangan plastik pada kemasan) sambil menyembunyikan
dampak negatif besar (seperti tingginya emisi karbon dalam proses
produksi).
- Greenfraud (Kecurangan Hijau): Merupakan
tingkatan pelanggaran yang jauh lebih berat dan terencana secara sengaja. Greenfraud
melibatkan manipulasi, pemalsuan, atau penyembunyian data riil untuk
menyesatkan pemangku kepentingan. Contohnya mencakup pemalsuan hasil audit
lingkungan, rekayasa angka emisi karbon, serta pelaporan penggunaan energi
terbarukan yang tidak sesuai fakta demi mengamankan pembiayaan ESG atau
menghindari sanksi regulator.
Faktor Pendorong Kesenjangan
Klaim Lingkungan
Penelitian ini menemukan empat
faktor utama yang menyebabkan praktik greenwashing dan greenfraud
masih menjamur di berbagai sektor industri:
- Tekanan Pasar dan Kompetisi: Keuntungan
komersial dari label hijau memicu perusahaan mengambil jalan pintas untuk
memikat konsumen dan investor ESG.
- Pencarian Legitimasi Sosial: Perusahaan
menggunakan laporan keberlanjutan sebagai alat hubungan masyarakat (PR
tool) untuk mengalihkan perhatian dari dampak buruk operasional
mereka.
- Standar Pelaporan yang Masih Lemah:
Fleksibilitas dalam kerangka pelaporan internasional memungkinkan
perusahaan memilih indikator yang hanya menguntungkan citra mereka.
- Minimnya Mekanisme Verifikasi Independen:
Banyak laporan keberlanjutan diterbitkan tanpa melalui audit pihak ketiga
yang independen, sehingga menciptakan ketimpangan informasi (information
asymmetry).
Implikasi Dampak: Ancaman Bagi
Pasar Keuangan dan Kepercayaan Publik
Dampak dari manipulasi klaim
lingkungan sangat merugikan bisnis dan masyarakat. Bagi investor, informasi ESG
yang tidak akurat dapat mengarah pada keputusan investasi yang salah dan
penilaian risiko yang keliru. Ketika fakta sebenarnya terungkap, harga saham
perusahaan berisiko merosot tajam seiring dengan datangnya gugatan hukum dan
sanksi regulasi.
Bagi konsumen, hilangnya
transparansi dapat memicu gelombang kekecewaan di media sosial yang
menghancurkan loyalitas merek secara permanen. Lebih jauh lagi, greenwashing
dan greenfraud memperlambat pencapaian target pembangunan berkelanjutan
global (SDGs) karena menciptakan ilusi kemajuan lingkungan yang semu,
sementara kerusakan alam yang mendasarinya terus berlanjut.
Para peneliti menekankan
pentingnya tata kelola perusahaan (corporate governance) yang kuat,
transparansi penuh, audit independen yang ketat, serta pengawasan regulasi
untuk memastikan setiap klaim keberlanjutan didasarkan pada kinerja lingkungan
yang nyata dan terukur.
Profil Singkat Penulis
- Dessy Adelin, S.E., M.Si. (Penulis Utama
& Korespondensi) – Dosen dan Peneliti di Perbanas Institute Jakarta.
Memiliki kepakaran di bidang Akuntansi, Pelaporan Keuangan, dan Corporate
Sustainability Practices. (Email: dessy.adelin@perbanas.id)
- Jonnardi – Akademisi dan Peneliti di
Perbanas Institute Jakarta, fokus pada bidang Akuntansi Keuangan dan
Audit.
- Primadonna Ratna Mutumanikam – Peneliti dan
Dosen di Perbanas Institute Jakarta, mendalami isu Tata Kelola Perusahaan
(Corporate Governance) dan ESG.
- Laela Lanjarsih – Akademisi dan Peneliti di
Perbanas Institute Jakarta dengan spesialisasi Akuntansi Manajemen dan
Pelaporan Keberlanjutan.
Sumber Penelitian
- Judul Artikel Jurnal: Greenwashing and
Greenfraud in Corporate Sustainability Practices: An Analysis of the Gap
Between Claims and Environmental Performance
- Nama Jurnal: International Journal of
Applied Economics, Accounting and Management (IJAEAM)
- Tahun Publikasi: 2026 (Vol. 4, No. 3, hlm.
241-254)
- DOI: https://doi.org/10.59890/ijaeam.v4i3.199
- URL Resmi: https://mrymultitechpublisher.my.id/index.php/ijaeam/index
0 Komentar