Sosiologi kesehatan membuktikan
bahwa status kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh faktor biologis
atau fasilitas medis. Faktor struktur sosial, ekonomi, hingga perubahan iklim
memegang peran kunci dalam menentukan siapa yang berisiko sakit dan mendapatkan
perawatan yang layak.
Temuan ini disampaikan oleh
peneliti Loso Judijanto dari lembaga riset IPOSS Jakarta melalui penelitian
bertajuk "Application of Health Sociology Theories to Contemporary
Health Issues: Inequality, Digitalisation, Stigma, and Ecological Crisis",
yang dipublikasikan di International Journal of Natural and Health Sciences
(IJNHS) pada edisi Juli 2026. Kajian ini penting karena menghadirkan sudut
pandang baru bagi pembuat kebijakan publik dan tenaga medis dalam menangani
krisis kesehatan global secara lebih adil dan responsif.
Mengaitkan Masalah Sosial
dengan Risiko Kesehatan
Sering kali masyarakat menganggap
kesehatan semata-mata sebagai urusan medis pribadi. Padahal, kondisi tempat
tinggal, tingkat pendapatan, kualitas pendidikan, dan akses terhadap teknologi
digital sangat menentukan taraf kesehatan seseorang.
Pengalaman dari krisis global dan
krisis iklim menunjukkan bahwa beban penyakit tidak dirasakan secara merata
oleh semua lapisan masyarakat. Kelompok marjinal dan pekerja sektor informal
hampir selalu menjadi pihak yang paling terdampak ketika krisis terjadi.
Peneliti menyusun kerangka analisis yang menggabungkan berbagai teori sosiologi
guna menjelaskan keterkaitan mendalam antara struktur sosial dan ketimpangan
layanan kesehatan.
Metodologi Penelitian Secara
Ringkas
Penelitian ini menggunakan metode
tinjauan literatur kualitatif (qualitative literature review) dengan
pendekatan interpretatif. Peneliti menelaah secara komprehensif puluhan jurnal
ilmiah terkemuka yang diterbitkan sejak tahun 2020. Literatur-literatur
tersebut dianalisis menggunakan teknik sintesis tematis untuk mengelompokkan
ide utama, membandingkan argumentasi para ahli, dan merumuskan implikasi
praktis bagi kebijakan publik.
Enam Temuan Utama Penelitian
1.Ketimpangan Sosial Mendorong Ketimpangan Kesehatan
Akses terhadap rumah sakit berkualitas, dokter spesialis, obat-obatan, dan makanan bergizi sangat dipengaruhi oleh kelas sosial-ekonomi. Menyalahkan individu atas kebiasaan hidup tidak sehat tanpa memperbaiki kondisi sosial mereka merupakan pendekatan yang keliru.
2. Digitalisasi Kesehatan Menyimpan Potensi Gap Baru
Layanan telemedisin dan aplikasi kesehatan memperluas jangkauan medis. Namun, tanpa literasi digital dan infrastruktur internet yang memadai, digitalisasi justru berisiko memperlebar jurang akses bagi masyarakat terpencil dan kurang mampu.
3. Stigma Sosial Memperburuk Kondisi Pasien
Pemberian label negatif pada penyakit tertentu—seperti gangguan kesehatan mental, HIV, obesitas, hingga gejala long COVID—membuat pasien merasa malu dan takut mencari pengobatan. Stigma ini meningkatkan pengucilan sosial dan memperparah dampak penyakit.
4. Medikalisasi Tubuh dan Pengawasan Data
Penggunaan perangkat pemantau kesehatan (wearable devices) mendorong kesadaran hidup sehat, namun di sisi lain menciptakan standar tubuh artifisial, memicu kecemasan, serta membebankan tanggung jawab kesehatan sepenuhnya kepada individu.
5.Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Lingkungan
Perubahan iklim seperti gelombang panas dan banjir berdampak langsung pada kesehatan fisik dan mental. Kelompok miskin yang berkontribusi paling sedikit terhadap emisi justru paling rentan karena tinggal di area rawan bencana dan memiliki daya adaptasi terbatas.
6. Pendekatan Multidimensi (Intersectionality) Sangat Diperlukan
Kerentanan kesehatan seseorang
terbentuk dari persilangan berbagai identitas sekaligus. Seorang perempuan
pekerja informal di daerah rawan banjir menghadapi risiko kesehatan yang jauh
lebih kompleks dibanding kelompok urban mampu.
Dampak dan Implikasi bagi
Kebijakan Publik
Hasil studi ini menegaskan
pentingnya mengubah paradigma penanganan kesehatan. Kebijakan publik tidak
boleh hanya fokus pada pembangunan gedung rumah sakit atau penyediaan fasilitas
medis teknis semata, melainkan harus menyentuh sektor lingkungan, perumahan
rakyat, perlindungan tenaga kerja, dan pemerataan jaringan digital.
Loso Judijanto dari IPOSS Jakarta
menekankan bahwa kebijakan kesehatan yang efektif harus memprioritaskan
kesetaraan dan inklusi sosial. Peneliti menuliskan bahwa perbaikan kondisi
sosial dan pencegahan diskriminasi merupakan fondasi utama sebelum inovasi
medis dapat dirasakan kebermanfaatannya secara merata oleh seluruh lapisan
masyarakat.
Profil Penulis
- Nama Lengkap: Loso Judijanto
- Afiliasi: IPOSS Jakarta
- Keahlian: Sosiologi Kesehatan, Analisis
Kebijakan Publik, dan Manajemen Sumber Daya
Sumber Penelitian
- Judul Artikel: Application of Health
Sociology Theories to Contemporary Health Issues: Inequality,
Digitalisation, Stigma, and Ecological Crisis
- Nama Jurnal: International Journal of
Natural and Health Sciences (IJNHS)
- Tahun Publikasi: 2026
- DOI: https://doi.org/10.59890/ijnhs.v4i3.290
- URL Resmi: https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijnhs/index
0 Komentar