Kajian tersebut membandingkan hubungan antara literasi AI, penggunaan AI secara bijak, dan integritas akademik mahasiswa di Indonesia dan Thailand. Hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki literasi AI lebih baik cenderung mampu menilai keluaran AI secara lebih kritis dan memahami batas penggunaan teknologi dalam kegiatan akademik. Namun, hubungan tersebut tidak bersifat otomatis. Ketergantungan pada AI, tekanan untuk memperoleh hasil akademik, lemahnya akuntabilitas institusi, desain penilaian, serta budaya akademik dapat memengaruhi perilaku mahasiswa.
AI Mengubah Cara Mahasiswa Belajar
Perkembangan AI generatif telah mengubah cara mahasiswa mencari informasi, menyusun tulisan, mengembangkan ide, hingga menyelesaikan tugas akademik. Teknologi seperti chatbot dan berbagai alat berbasis AI dapat menjadi sarana pendukung pembelajaran apabila digunakan secara terbatas dan transparan.
Masalah muncul ketika keluaran AI menggantikan kontribusi intelektual mahasiswa. Dalam kondisi tersebut, penggunaan AI dapat bergeser dari bantuan belajar menjadi bentuk ketidakjujuran akademik.
Para penulis mendefinisikan literasi AI bukan sekadar kemampuan mengoperasikan teknologi. Literasi tersebut mencakup kemampuan memahami cara kerja AI, mengevaluasi hasil yang diberikan, mengenali keterbatasannya, serta mempertimbangkan konsekuensi etis sebelum menggunakan hasil AI dalam pekerjaan akademik.
Kajian yang dilakukan Septiani dan tim juga menunjukkan bahwa penggunaan AI secara bertanggung jawab berarti memanfaatkan teknologi untuk kegiatan seperti mencari ide, membantu bahasa, atau mengembangkan gagasan, tanpa menjadikan AI sebagai pengganti proses berpikir mahasiswa.
Mengkaji 22 Sumber dari 2021–2025
Penelitian ini menggunakan pendekatan kajian literatur sistematis. Tim peneliti menelusuri publikasi akademik dan dokumen kebijakan melalui Scopus, ERIC, ScienceDirect, Google Scholar, dan SINTA.
Pencarian dilakukan terhadap publikasi periode 2021–2025 yang membahas literasi AI, penggunaan AI generatif, ketidakjujuran akademik, plagiarisme, deteksi pelanggaran akademik, dan tata kelola integritas di pendidikan tinggi.
Dari 87 sumber awal, proses penyaringan menghasilkan 41 sumber yang relevan. Setelah dilakukan pemeriksaan teks secara menyeluruh dan penilaian kualitas, sebanyak 22 sumber akhirnya digunakan dalam sintesis tematik.
Temuan dari berbagai sumber tersebut kemudian dibandingkan untuk melihat pola antara Indonesia dan Thailand.
Literasi AI Penting, tetapi Bukan Satu-satunya Solusi
Salah satu temuan utama kajian ini adalah bahwa literasi AI merupakan fondasi penting, tetapi bukan jaminan bahwa mahasiswa akan selalu menggunakan AI secara etis.
Mahasiswa dengan pengetahuan AI yang tinggi tetap dapat melakukan pelanggaran apabila menghadapi tekanan akademik, memiliki ketergantungan terhadap teknologi, atau berada dalam lingkungan institusi yang lemah dalam pengawasan dan akuntabilitas.
Dengan kata lain, mengetahui cara menggunakan AI tidak otomatis berarti mengetahui kapan dan bagaimana AI seharusnya digunakan.
Para penulis menilai bahwa pengembangan literasi AI harus berjalan bersama pendidikan integritas, aturan institusi, desain penilaian yang tepat, serta mekanisme pengawasan. Literasi AI juga perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum, bukan hanya diberikan melalui seminar atau pelatihan sesekali.
Indonesia dan Thailand Memiliki Pendekatan Berbeda
Kajian tersebut menemukan perbedaan pendekatan antara Indonesia dan Thailand dalam menjaga integritas akademik di tengah perkembangan AI.
Indonesia lebih banyak menekankan pendidikan integritas dan teknologi deteksi. Pendidikan etika akademik dipandang sebagai bagian penting dari pembentukan perilaku mahasiswa. Di sisi lain, teknologi pendeteksi plagiarisme dan berbagai metode deteksi digunakan sebagai mekanisme pengawasan tambahan.
Thailand lebih menekankan tata kelola, keamanan penilaian, dan pengawasan. Sistem seperti pengawasan ujian dan autentikasi identitas menjadi bagian dari upaya menjaga integritas, terutama dalam pembelajaran dan evaluasi jarak jauh. Pendekatan tersebut juga mempertimbangkan nilai-nilai moral dan budaya sebagai faktor yang dapat mengurangi perilaku curang.
Menurut Septiani dan rekan-rekannya, kedua pendekatan tersebut sebenarnya dapat saling melengkapi. Indonesia dapat memperkuat tata kelola dan keamanan penilaiannya, sementara Thailand dapat memperkuat pendidikan etika dan literasi AI.
Desain Penilaian Perlu Berubah
Salah satu rekomendasi penting dari kajian ini adalah perubahan cara perguruan tinggi menilai mahasiswa.
Penilaian yang hanya meminta hasil akhir relatif lebih mudah dipengaruhi AI. Sebaliknya, tugas yang meminta mahasiswa menunjukkan proses berpikir, mendokumentasikan tahapan pengerjaan, menjelaskan hasil secara lisan, atau mempertanggungjawabkan keputusan akademiknya dinilai lebih tahan terhadap penyalahgunaan AI.
Pendekatan tersebut tidak berarti perguruan tinggi harus melarang AI sepenuhnya. Sebaliknya, mahasiswa perlu diajarkan cara menggunakan AI sebagai alat pendukung pembelajaran dengan tetap mempertahankan tanggung jawab intelektual mereka.
Guru Masa Depan Juga Perlu Dibekali Etika AI
Temuan kajian ini juga relevan bagi pendidikan calon guru. Mahasiswa calon pendidik nantinya tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga berpotensi menjadi contoh bagi siswa dalam menggunakan teknologi.
Karena itu, program pendidikan guru perlu memasukkan penggunaan AI yang bertanggung jawab, refleksi etika, serta praktik pembelajaran yang menjaga integritas akademik. Penulis menilai pembentukan kebiasaan tersebut sejak masa pendidikan calon guru dapat membantu menyebarkan norma penggunaan AI yang etis ke sekolah dan lingkungan pendidikan pada masa mendatang.
Secara lebih luas, Septiani dan tim merekomendasikan adanya kurikulum literasi AI yang terstandar, integrasi pendidikan integritas ke berbagai disiplin ilmu, serta sistem perlindungan berlapis yang menggabungkan pendidikan, teknologi, tata kelola, dan desain penilaian.
Mereka juga mendorong kerja sama Indonesia dan Thailand dalam membangun kerangka literasi AI bersama serta melakukan penelitian lintas negara mengenai integritas akademik.
Profil Penulis
Artikel ini ditulis oleh Sisca Septiani, Lisa Virdinarti Putra, Nur Intan Rochmawati, Wiwik Pudjaningsih, dan Ridwan Ali dari Universitas Ngudi Waluyo, Indonesia, serta Prattana Srisuk, Marlon Rael Astillero, dan Nico Irawan dari Thai Global Business Administration College, Thailand. Sisca Septiani tercatat sebagai corresponding author dengan afiliasi Universitas Ngudi Waluyo. Artikel sumber tidak mencantumkan gelar akademik maupun profil bidang keahlian individual masing-masing penulis, sehingga informasi tersebut tidak ditambahkan untuk menghindari kekeliruan.
Sumber Penelitian
Kajian ini menegaskan satu pesan penting bagi perguruan tinggi di era AI: mahasiswa tidak cukup hanya diajarkan cara menggunakan kecerdasan buatan, tetapi juga perlu dibekali kemampuan untuk menilai, membatasi, dan mempertanggungjawabkan penggunaannya.
0 Komentar