Memperkuat Spiritualitas Berlandaskan Teologi untuk Meningkatkan Ketahanan Mental di Era Gangguan Sosial

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS -  Jayapura - Program Spiritual Berbasis Teologi Terbukti Meningkatkan Ketahanan Mental Masyarakat di Era Disiplin Sosio-Digital. Temuan ini diungkapkan dalam riset Rotua Dominika Sinaga dari Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik St. Yohanes Rasul Jayapura bersama Yofince Abatan dari STPAS Keuskupan Agung Kupang dalam artikel agama yang dipublikasikan pada Indonesian Journal of Christian Education and Theology (IJCET) edisi Vol. 5 No. 3 Tahun 2026 menyoroti bahwa program penguatan spiritualitas berbasis teologi selama enam minggu mampu meningkatkan ketahanan mental (mental resilience) secara signifikan.

Menghadapi Tekanan Hidup di Tengah Disrupsi Sosial

Disrupsi sosial yang ditandai oleh akselerasi digital, dinamika ekonomi, dan melemahnya relasi antarindividu sering kali mengganggu keseimbangan emosional serta rasa aman seseorang. Banyak orang mengalami kesulitan dalam merespons ketidakpastian hidup, yang pada akhirnya memicu stres dan kecemasan berlebihSelama ini, tingkat religiusitas kerap hanya diukur dari frekuensi ibadah ritual atau identitas keagamaan semata. Padahal, bentuk penguatan spiritual yang terstruktur dan interaktif belum banyak diuji efektivitasnya secara ilmiah. Penelitian ini hadir untuk mengisi ruang tersebut dengan menguji bagaimana refleksi teologis yang mendalam mengenai martabat manusia, makna penderitaan, tanggung jawab moral, dan dukungan komunitas dapat menjadi fondasi psikologis yang solid di tengah krisis.

Sederhana dan Terstruktur: Cara Penelitian Dilakukan
Peneliti menerapkan metode kombinasi (explanatory sequential mixed-methods design) yang melibatkan 80 orang dewasa di Indonesia yang sedang mengalami tekanan akibat perubahan sosial. Para peserta dibagi ke dalam dua kelompok sama rata, yakni 40 orang masuk ke dalam kelompok intervensi dan 40 orang lainnya berada di kelompok kontrolKelompok intervensi mengikuti program penguatan spiritualitas berbasis teologi selama enam minggu dengan durasi 90 menit per sesi setiap minggunya. Materi yang diberikan mencakup refleksi atas makna penderitaan, pelatihan regulasi emosi, penumbuhan harapan aktif, serta pembentukan relasi saling mendukung. Sementara itu, kelompok kontrol hanya menjalankan aktivitas rutin harian mereka tanpa intervensi khususTingkat ketahanan mental kedua kelompok diukur sebelum dan sesudah program menggunakan skala standar Connor-Davidson Resilience Scale 10 items (CD-RISC-10). Untuk memperdalam hasil kuantitatif, sebanyak 16 peserta dari kelompok intervensi diwawancarai secara mendalam pada pertengahan Mei 2025.

Temuan Utama: Lonjakan Ketahanan Mental yang Signifikan
Hasil analisis data menunjukkan perbedaan perkembangan ketahanan mental yang sangat mencolok antara peserta yang mengikuti program spiritualitas dengan mereka yang tidak.

  • Peningkatan Skor Ketahanan Mental: Kelompok intervensi mengalami kenaikan rata-rata skor ketahanan mental sebesar 6,12 poin (dari 23,64 menjadi 29,76). Sebaliknya, kelompok kontrol hanya mengalami peningkatan tipis sebesar 0,95 poin (dari 23,94 menjadi 24,89).
  • Uji Statistik ANCOVA: Setelah mengontrol skor awal (pretest), kelompok intervensi mencatatkan skor akhir yang jauh lebih tinggi secara signifikan dibanding kelompok kontrol (29,87 berbanding 24,78) dengan nilai $F(1,77) = 41,21$ ($p < 0,001$).
  • Ukuran Pengaruh yang Luas: Penelitian ini mencatat nilai partial eta squared sebesar 0,349, yang mengindikasikan bahwa program intervensi memberikan dampak psikologis yang tergolong besar (large effect size).
  • Lima Pilar Perubahan Psikologis: Berdasarkan wawancara kualitatif, terdapat lima tema utama yang mendorong peningkatan ketahanan mental peserta, yaitu pemaknaan ulang atas penderitaan (87,5%), pengelolaan emosi yang lebih baik (81,3%), peningkatan kemampuan adaptasi (75,0%), hadirnya dukungan komunitas (68,8%), serta penguatan harapan aktif (62.5%).
Implikasi dan Dampak Nyata bagi Masyarakat
Temuan ini membawa implikasi praktis yang luas bagi penguatan kesehatan mental berbasis komunitas, pelayanan pastoral, pendampingan keluarga, hingga program bimbingan konseling. Riset ini membuktikan bahwa spiritualitas yang dirancang secara reflektif dan non-penghakiman dapat mengubah cara pandang seseorang terhadap kesulitan hidupPraktik spiritual seperti doa dan refleksi teologis terbukti berfungsi sebagai alat regulasi emosi (cognitive reappraisal), yang memberi jeda bagi seseorang untuk tenang sebelum mengambil keputusan. Selain itu, keterlibatan dalam kelompok diskusi menciptakan ruang aman yang mengurangi rasa terisolasiMeski demikian, para peneliti menggarisbawahi bahwa program spiritualitas berbasis teologi ini diposisikan sebagai sumber daya pelengkap (complementary resource), bukan pengganti untuk penanganan medis atau psikologis profesional bagi individu dengan gangguan klinis berat.

Profil Peneliti
Rotua Dominika Sinaga, M.Pdk. adalah akademisi dan peneliti di Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPKat) St. Yohanes Rasul Jayapura, Papua. Bidang keahliannya mencakup teologi pastoral, pendidikan keagamaan, dan studi spiritualitas masyarakat.
Yofince Abatan, M.Pd. adalah dosen dan peneliti di STPAS Keuskupan Agung Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia memiliki keahlian di bidang konseling pastoral, metodologi pendidikan, dan pengembangan kesehatan mental berbasis komunitas.

Sumber Penelitian
Rotua Dominika Sinaga, Yofince Abatan. 
Strengthening Theology-Based Spirituality to Enhance Mental Resilience in the Era of Social Disruption. Indonesian Journal of Christian Education and Theology (IJCET), Volume 5, No. 3. Halaman 325-334.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijcet.v5i3.36
URL: https://journalijcet.my.id/index.php/ijce/Index

Posting Komentar

0 Komentar