Gen Z di Davao City Lebih Memilih Photobooth dengan Latar Kustom dan Cetakan Berwarna

Ilustrasi by AI

Davao City — Generasi Z di Davao City, Filipina, lebih mengutamakan tampilan visual saat memilih layanan pop-up photobooth. Temuan ini berasal dari penelitian Gianno Arn V. Aquino, Jan Maureen A. Bisnon, Jerme III J. Gaet, Maykaela Katrisha D. Sunga, Wynrex O. Tapang, dan Emmanuel Joseph B. Sumatra dari Ateneo de Davao University. Penelitian yang dilakukan pada Agustus hingga September 2025 terhadap 216 responden Gen Z berusia 18–28 tahun menunjukkan bahwa latar foto, hasil cetakan, dan pencahayaan menjadi tiga faktor terpenting dalam menentukan pilihan konsumen.

Photobooth kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat mengambil foto, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari pengalaman sosial dan hiburan. Bagi konsumen muda, layanan ini menawarkan kesempatan untuk mengekspresikan diri, berfoto bersama teman, sekaligus membawa pulang kenang-kenangan dalam bentuk cetak. Perkembangan tersebut semakin terlihat di tengah meningkatnya minat Generasi Z terhadap pengalaman yang unik, interaktif, dan dapat disesuaikan dengan karakter mereka.

Di Davao City, layanan photobooth sementara banyak ditemukan dalam pasar malam, flea market, bazar budaya, dan berbagai kegiatan komunitas. Model bisnis tersebut memberikan peluang bagi pelaku usaha mikro dan penyelenggara acara untuk menghadirkan pengalaman fotografi yang berbeda tanpa harus membangun studio permanen. Namun, masih terbatas informasi mengenai kombinasi fitur photobooth yang paling disukai konsumen muda di wilayah tersebut.

Para peneliti dari Ateneo de Davao University kemudian menganalisis preferensi tersebut dengan melihat enam aspek utama layanan photobooth, yaitu latar belakang foto, hasil cetakan, properti foto, pencahayaan, bentuk ruang photobooth, dan instruksi suara. Data dikumpulkan melalui platform 1000minds dengan metode PAPRIKA, yang meminta responden membandingkan berbagai pilihan photobooth dan menentukan kombinasi yang lebih mereka sukai.

Responden berasal dari Generasi Z berusia 18–28 tahun yang tinggal di Davao City dan memiliki pengalaman sebelumnya dengan layanan pop-up photobooth. Dari 216 responden yang datanya dinyatakan valid, 65,3 persen merupakan perempuan dan 34,7 persen laki-laki. Dari sisi usia, kelompok terbesar berusia 21 tahun dengan 23,1 persen, disusul responden berusia 22 tahun sebesar 20,8 persen. Sebagian besar responden juga sudah mengenal konsep photobooth, dengan 43,5 persen menyatakan sangat familiar dan 43,1 persen cukup familiar.

Hasil penelitian memperlihatkan dominasi faktor visual dalam keputusan Gen Z. Latar belakang foto menjadi faktor paling penting dengan bobot 22,5 persen. Pilihan yang paling disukai adalah latar yang dicetak secara khusus atau custom-printed backdrop. Faktor berikutnya adalah jenis hasil cetakan dengan bobot 20,3 persen, di mana cetakan berwarna penuh atau full-color prints menjadi pilihan utama. Pencahayaan berada di posisi ketiga dengan bobot 19,9 persen, dengan spotlight lighting sebagai pilihan yang paling disukai.

Sementara itu, properti foto memiliki tingkat kepentingan 15,3 persen, bentuk fisik photobooth 11,8 persen, dan instruksi suara 10,2 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa konsumen Gen Z dalam penelitian ini lebih memperhatikan tampilan dan kualitas hasil foto dibandingkan fitur pendukung lainnya. Tingkat kesepakatan responden juga tergolong tinggi, dengan nilai Kendall’s Coefficient of Concordance sebesar 0,765 dan korelasi peringkat Spearman sebesar 0,763.

Kombinasi photobooth yang paling optimal dalam simulasi penelitian terdiri atas cetakan berwarna penuh, latar belakang yang dibuat khusus, papan atau tanda bertema, pencahayaan spotlight, ruang terbuka, dan instruksi suara otomatis. Dalam simulasi pilihan utama, konfigurasi Photobooth 1 memperoleh seluruh alokasi pilihan dengan skor utilitas 1,000. Ketika pilihan pertama tersebut dikeluarkan dari simulasi, Photobooth 4 menjadi pilihan berikutnya dengan pangsa pilihan 29,6 persen, sedangkan Photobooth 5 berada sangat dekat dengan 29,5 persen.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman visual menjadi pertimbangan penting bagi Gen Z ketika menggunakan photobooth. Latar yang menarik dan dapat disesuaikan memberikan ruang bagi konsumen untuk menghasilkan foto yang lebih personal. Begitu pula dengan cetakan berwarna yang memberikan kenang-kenangan fisik dengan tampilan yang lebih hidup dibandingkan hasil hitam putih.

Menariknya, penelitian juga menemukan kecenderungan terhadap pengalaman yang lebih mandiri. Instruksi suara otomatis memperoleh nilai utilitas 10,2 persen, sedangkan arahan langsung dari staf memiliki nilai utilitas 0 persen dalam konfigurasi yang dianalisis. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian konsumen Gen Z mungkin lebih menyukai sistem yang memungkinkan mereka mengatur pengalaman berfoto sendiri tanpa terlalu banyak interaksi langsung dengan petugas.

Pilihan terhadap ruang terbuka juga menjadi perhatian. Konsep open-air booth dinilai lebih sesuai untuk aktivitas kelompok karena memungkinkan beberapa orang berinteraksi dan berfoto bersama secara lebih leluasa. Kondisi tersebut sejalan dengan karakter pengalaman sosial photobooth yang sering dikaitkan dengan aktivitas bersama teman dan pembuatan konten untuk media sosial.

Bagi pelaku usaha photobooth, hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa investasi pada elemen visual dapat menjadi prioritas. Pengusaha dapat lebih memperhatikan kualitas pencahayaan, latar yang dapat disesuaikan dengan tema acara, serta media cetak berwarna. Sistem otomatis seperti distribusi foto melalui kode QR dan instruksi suara juga dapat digunakan untuk membuat layanan lebih praktis dan memberikan keleluasaan kepada pengguna.

Bagi penyelenggara acara, penelitian ini menunjukkan pentingnya merancang latar yang sesuai dengan tema kegiatan dan menyediakan ruang terbuka yang cukup luas untuk kelompok. Sementara bagi profesional pemasaran dan branding, pengalaman visual photobooth dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi komunikasi melalui konten foto dan video yang menarik di platform seperti Instagram dan TikTok.

Secara keseluruhan, penelitian Gianno Arn V. Aquino dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa Gen Z di Davao City cenderung memilih photobooth berdasarkan kekuatan pengalaman visual. Latar kustom, cetakan berwarna, dan pencahayaan spotlight menjadi tiga elemen utama yang perlu diperhatikan oleh pelaku usaha maupun penyelenggara acara yang ingin menarik konsumen muda. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa desain photobooth yang menarik bukan sekadar persoalan estetika, tetapi dapat menjadi bagian penting dari pengalaman konsumen dan daya tarik sebuah layanan.

Penulis

Gianno Arn V. Aquino — Ateneo de Davao University.

Jan Maureen A. Bisnon — Ateneo de Davao University.

Jerme III J. Gaet — Ateneo de Davao University.

Maykaela Katrisha D. Sunga — Ateneo de Davao University.

Wynrex O. Tapang — Ateneo de Davao University.

Emmanuel Joseph B. Sumatra — Ateneo de Davao University.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Creating Notable Pop-Up Photobooth Experiences: An Analysis of Gen Z's Sensory Preferences in Davao City

Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4 No. 8, 2026, halaman 1803–1816.

DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i8.69

Link Jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr

Posting Komentar

0 Komentar