Masyarakat Adat Mentawai Bangun Ketahanan Budaya dan Ekonomi Inklusif Lewat Dekolonisasi Pengetahuan Lokal

Ilustrasi by AI

Penelitian mendalam mengenai tantangan epistemik dan strategi dekolonisasi komunitas adat Mentawai di Sumatera Barat dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas PGRI Sumatera Barat, Universitas Lancang Kuning, UIN Mahmud Yunus Batusangkar, dan UIN Imam Bonjol Padang. Dipimpin oleh Zulfa bersama rekan-rekan penelitinya, riset yang dipublikasikan pada Juli 2026 ini menyoroti bagaimana konstruksi identitas kultural dan ketahanan budaya masyarakat Mentawai mampu bertahan di tengah arus asimilasi modern. Hasil penelitian ini memegang peranan penting untuk menegakkan keadilan ekologis, kultural, serta hak-hak epistemik masyarakat adat yang kerap terpinggirkan oleh modernisasi global.

Dominasi epistemologi Eurosentrisme dan kebijakan homogenisasi budaya pascakolonial telah memicu krisis pengakuan bagi masyarakat adat Mentawai. Sistem pengetahuan lokal yang berakar pada filosofi hidup Arat Sabulungan sering kali disubordinasikan, distigmatisasi sebagai takhayul, atau direduksi sekadar menjadi komoditas pariwisata ekotis. Tekanan modernisasi ekonomi, penyeragaman agama resmi negara, serta kurikulum pendidikan nasional yang sentralistis mengancam kepunahan tatanan adat serta memutus memori kolektif generasi muda Mentawai.

Untuk mengupas fenomena ini, penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi kritis serta analisis wacana kritis. Peneliti terjun langsung ke Pulau Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, untuk berinteraksi secara aktif di lapangan. Pengumpulan data primer dilakukan melalui observasi partisipatif di rumah adat (Uma) serta wawancara mendalam dengan para pemimpin spiritual dan penyembuh tradisional (Sikerei), tetua adat (Rimata), organisasi pemuda, serta guru lokal. Data sekunder juga dihimpun dari arsip kolonial, dokumen kebijakan pemerintah, dan literatur ilmiah.

Analisis data mengungkapkan beberapa temuan utama terkait dinamika perlawanan dan ketahanan budaya di Mentawai:

  • Imperialisme epistemik terhadap Arat Sabulungan terjadi dalam tiga fase utama, yaitu fase kolonial, fase pascakolonial modern melalui kekerasan struktural negara, dan fase globalisasi kapitalis yang mengkomodifikasi budaya.
  • Terjadinya episida pengetahuan (epistemicide) atau pembunuhan pengetahuan lokal akibat sistem pendidikan formal yang menjauhkan generasi muda dari konteks ekologis asli mereka.
  • Revitalisasi ritual sakral seperti ritual Lia Pullagajat berfungsi sebagai ruang tandingan (counter-narrative) untuk menegaskan kedaulatan teritorial hutan adat.
  • Peran Sikerei direkonstruksi secara emansipatoris bukan lagi sebagai dukun primitif, melainkan sebagai penjaga arsip lisan, filosof ekologi, dan poros otonomi hukum adat.
  • Pembangunan ekonomi inklusif berhasil diwujudkan melalui sistem pangan lestari berbasis sagu dan talas, ekowisata berbasis komunitas yang dikelola pemuda, serta etika kolektif Uma yang mengutamakan keadilan distributif.

Temuan ini memberikan implikasi nyata bagi tata kelola kebijakan publik dan dunia pendidikan di Indonesia. Pemerintah daerah diharapkan mampu mereorientasi pendekatan pembangunan dengan melegalkan hak atas hutan adat serta menghentikan standardisasi asimilatif yang mendiskriminasi sistem kepercayaan lokal. Di sektor pendidikan, kurikulum di pedalaman Mentawai perlu didekolonisasi dengan mengintegrasikan botani tradisional, antropolinguistik, dan etika lingkungan Arat Sabulungan. Sebagaimana ditekankan oleh para peneliti dari Universitas PGRI Sumatera Barat dan perguruan tinggi mitra, pengakuan terhadap kearifan lokal adalah kunci utama mewujudkan keadilan struktural dan ekologis.

Profil Singkat Penulis

  • Zulfa – Peneliti dan akademisi bidang sejarah serta budaya dari Universitas PGRI Sumatera Barat.
  • Zusmelia – Peneliti dan akademisi dari Universitas PGRI Sumatera Barat.
  • Elvawati – Peneliti dan akademisi dari Universitas PGRI Sumatera Barat.
  • Hermansyah – Peneliti dari Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru Riau.
  • Gustina – Peneliti dari Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar, Sumatera Barat.
  • Dian Hasfera Berlin – Peneliti dari Universitas PGRI Sumatera Barat.
  • Ali Ahmad – Peneliti dari Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar