Penelitian mendalam mengenai tantangan epistemik dan strategi dekolonisasi komunitas adat Mentawai di Sumatera Barat dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas PGRI Sumatera Barat, Universitas Lancang Kuning, UIN Mahmud Yunus Batusangkar, dan UIN Imam Bonjol Padang
Dominasi epistemologi Eurosentrisme dan kebijakan homogenisasi budaya pascakolonial telah memicu krisis pengakuan bagi masyarakat adat Mentawai
Untuk mengupas fenomena ini, penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi kritis serta analisis wacana kritis
Analisis data mengungkapkan beberapa temuan utama terkait dinamika perlawanan dan ketahanan budaya di Mentawai
- Imperialisme epistemik terhadap Arat Sabulungan terjadi dalam tiga fase utama, yaitu fase kolonial, fase pascakolonial modern melalui kekerasan struktural negara, dan fase globalisasi kapitalis yang mengkomodifikasi budaya
. - Terjadinya episida pengetahuan (epistemicide) atau pembunuhan pengetahuan lokal akibat sistem pendidikan formal yang menjauhkan generasi muda dari konteks ekologis asli mereka
. - Revitalisasi ritual sakral seperti ritual Lia Pullagajat berfungsi sebagai ruang tandingan (counter-narrative) untuk menegaskan kedaulatan teritorial hutan adat
. - Peran Sikerei direkonstruksi secara emansipatoris bukan lagi sebagai dukun primitif, melainkan sebagai penjaga arsip lisan, filosof ekologi, dan poros otonomi hukum adat
. - Pembangunan ekonomi inklusif berhasil diwujudkan melalui sistem pangan lestari berbasis sagu dan talas, ekowisata berbasis komunitas yang dikelola pemuda, serta etika kolektif Uma yang mengutamakan keadilan distributif
.
Temuan ini memberikan implikasi nyata bagi tata kelola kebijakan publik dan dunia pendidikan di Indonesia
Profil Singkat Penulis
- Zulfa – Peneliti dan akademisi bidang sejarah serta budaya dari Universitas PGRI Sumatera Barat
. - Zusmelia – Peneliti dan akademisi dari Universitas PGRI Sumatera Barat
. - Elvawati – Peneliti dan akademisi dari Universitas PGRI Sumatera Barat
. - Hermansyah – Peneliti dari Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru Riau
. - Gustina – Peneliti dari Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar, Sumatera Barat
. - Dian Hasfera Berlin – Peneliti dari Universitas PGRI Sumatera Barat
. - Ali Ahmad – Peneliti dari Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
.
Sumber Penelitian
- Judul Artikel: Decolonizing Cultural Knowledge: Identity Construction and Cultural Resilience of the Mentawai Indigenous Community from a Critical Perspective
- Nama Jurnal: International Journal of Education and Life Sciences (IJELS), Vol. 4, No. 7, Juli 2026
- DOI:
https://doi.org/10.59890/ijels.v4i7.52 - URL Resmi:
https://ntlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijels
0 Komentar