Teknologi Tidak Cukup Hanya Canggih
Transformasi digital telah mengubah cara organisasi menjalankan proses bisnis, mengembangkan inovasi, dan membangun keunggulan kompetitif. Kecerdasan buatan, otomatisasi, analisis data, dan berbagai sistem digital kini tidak lagi sekadar menjadi alat operasional, tetapi bagian dari strategi organisasi.
Namun, teknologi yang semakin canggih tidak otomatis menghasilkan manfaat yang lebih besar. Artikel Ibnu Rokhman menempatkan pendekatan human-centered technology management sebagai alternatif, yakni pengelolaan teknologi yang menempatkan manusia sebagai bagian aktif dalam perancangan, penerapan, evaluasi, dan pengembangan teknologi.
Pendekatan tersebut sejalan dengan gagasan Industry 5.0 yang menekankan hubungan antara manusia dan teknologi, sekaligus memperhatikan keberlanjutan dan ketahanan organisasi. Dalam praktiknya, teknologi diharapkan memperkuat kemampuan manusia, bukan sekadar menggantikan pekerjaan manusia.
Melibatkan Karyawan Sejak Awal
Riset Ibnu Rokhman menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan melibatkan 20 informan dari perusahaan berbasis teknologi. Mereka terdiri atas tujuh manajer teknologi, tujuh manajer inovasi, dan enam pemimpin organisasi.
Para informan dipilih karena memiliki keterlibatan langsung dalam pengelolaan teknologi, pengembangan inovasi, atau pengambilan keputusan organisasi. Sebagian besar memiliki pengalaman profesional lebih dari lima tahun.
- Partisipasi karyawan dalam pengelolaan teknologi
- Desain teknologi yang berorientasi pada kebutuhan manusia
- Pengembangan kemampuan digital
- Kepemimpinan adaptif
Keempat aspek tersebut kemudian berkaitan dengan tiga hasil organisasi, yaitu penguatan proses inovasi, peningkatan respons terhadap perubahan, dan pembentukan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
Pengguna Teknologi Menjadi Sumber Inovasi
Salah satu temuan penting menunjukkan bahwa karyawan tidak seharusnya hanya menjadi pengguna akhir teknologi. Mereka juga dapat menjadi sumber informasi untuk menentukan kebutuhan, menemukan masalah, dan mengembangkan gagasan perbaikan.
Karyawan yang menggunakan sistem setiap hari memahami hambatan operasional yang mungkin tidak terlihat ketika teknologi hanya dirancang dari perspektif tim teknologi. Karena itu, keterlibatan pengguna sejak tahap awal dapat membantu organisasi menghasilkan sistem yang lebih sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan pengguna pada tahap awal membuat penerapan teknologi lebih responsif terhadap kebutuhan pekerjaan. Sebaliknya, pelibatan karyawan setelah teknologi diterapkan dapat meningkatkan kebutuhan penyesuaian terhadap proses kerja yang sebenarnya.
Teknologi yang Sederhana Bisa Lebih Efektif
Riset ini juga menunjukkan bahwa teknologi yang paling kompleks tidak selalu menjadi teknologi yang paling bermanfaat.
Sistem yang mudah dipahami, sesuai dengan alur kerja, dan mampu mengurangi pekerjaan administratif yang tidak memberikan nilai tambah justru dinilai lebih efektif. Desain teknologi yang berorientasi pada manusia dapat diwujudkan melalui penyederhanaan antarmuka, pengurangan tahapan kerja, penyesuaian fitur dengan karakteristik pengguna, serta penerapan teknologi secara bertahap.
Dalam pendekatan ini, otomatisasi juga tidak harus dimaknai sebagai upaya menggantikan pekerja. Teknologi dapat mengambil alih pekerjaan rutin sehingga karyawan memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan analisis, kreativitas, pengambilan keputusan, dan berinteraksi dengan pelanggan.
Kemampuan Digital Menentukan Manfaat Teknologi
Investasi teknologi juga tidak akan optimal tanpa kesiapan sumber daya manusia. Ibnu Rokhman menemukan bahwa kemampuan digital bukan hanya kemampuan menjalankan aplikasi atau perangkat, tetapi juga kemampuan memahami bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memecahkan masalah dan memperbaiki proses kerja.
Pengembangan kemampuan tersebut dapat dilakukan melalui pelatihan, pendampingan, pembelajaran antarkaryawan, eksperimen, dan pembelajaran langsung saat menggunakan teknologi.
Karyawan yang lebih terbiasa dengan perangkat digital juga cenderung lebih mampu mencoba berbagai solusi tanpa selalu menunggu instruksi formal. Dengan demikian, kemampuan digital berkembang menjadi kemampuan adaptasi organisasi ketika kebutuhan dan teknologi berubah.
Kepemimpinan Adaptif Mempercepat Penerimaan Teknologi
Faktor lain yang ditemukan adalah kepemimpinan adaptif. Pemimpin berperan menciptakan lingkungan yang terbuka terhadap masukan, memberikan ruang untuk bereksperimen, mendukung pembelajaran, dan bersedia menyesuaikan kebijakan ketika penerapan teknologi tidak berjalan sesuai rencana.
Penelitian menunjukkan bahwa penerimaan teknologi lebih mudah dibangun ketika pemimpin menjelaskan alasan perubahan dan dampaknya terhadap pekerjaan karyawan. Eksperimen dalam skala kecil juga dapat digunakan sebagai tahap evaluasi sebelum teknologi diterapkan secara lebih luas.
Menurut Ibnu Rokhman dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, temuan tersebut menunjukkan bahwa inovasi bukan konsekuensi otomatis dari pembelian atau penerapan teknologi. Inovasi terbentuk ketika partisipasi karyawan, desain teknologi yang sesuai kebutuhan manusia, kemampuan digital, dan dukungan kepemimpinan berjalan secara bersamaan.
Keunggulan Kompetitif Tidak Hanya Berasal dari Teknologi
Temuan penelitian juga memperlihatkan bahwa teknologi itu sendiri relatif mudah diperoleh atau ditiru oleh pesaing. Faktor yang lebih sulit ditiru adalah cara organisasi menggabungkan teknologi dengan pengalaman karyawan, pengetahuan, proses kerja, kepemimpinan, pembelajaran, dan kemampuan berinovasi.
Keunggulan kompetitif berkelanjutan, menurut hasil penelitian, terbentuk secara bertahap melalui pengalaman yang terakumulasi, pembelajaran organisasi, peningkatan kompetensi digital, serta inovasi yang dilakukan secara berulang.
Dengan kata lain, dua perusahaan dapat menggunakan teknologi yang sama tetapi memperoleh hasil berbeda karena kemampuan manusia dan organisasi dalam memanfaatkan teknologi juga berbeda.
Implikasi bagi Organisasi
Temuan ini memberikan pesan praktis bagi organisasi yang sedang melakukan transformasi digital. Perusahaan perlu melibatkan karyawan sejak tahap perencanaan hingga evaluasi teknologi, memastikan sistem sesuai dengan kebutuhan pengguna, mengembangkan kompetensi digital secara berkelanjutan, dan membangun kepemimpinan yang terbuka terhadap eksperimen.
Evaluasi transformasi digital juga tidak cukup hanya mengukur efisiensi operasional atau kecanggihan teknologi. Organisasi perlu melihat dampaknya terhadap inovasi, kemampuan merespons perubahan, pembelajaran organisasi, dan penciptaan nilai dalam jangka panjang.
Meski demikian, penulis menegaskan bahwa hasil penelitian tidak dimaksudkan sebagai hubungan statistik yang berlaku otomatis untuk seluruh organisasi. Penelitian menggunakan 20 informan yang dipilih secara purposif dan berfokus pada perusahaan berbasis teknologi. Karena itu, hasilnya memberikan pola dan mekanisme berdasarkan pengalaman informan, bukan generalisasi statistik untuk seluruh industri.
Profil Penulis
Ibnu Rokhman merupakan penulis artikel dan berafiliasi dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Artikel ini berfokus pada bidang manajemen teknologi berpusat pada manusia, inovasi organisasi, kemampuan digital, kepemimpinan adaptif, transformasi digital, dan keunggulan kompetitif berkelanjutan.
Sumber Penelitian
Rokhman, Ibnu. “Human Centered Technology Management for Innovation and Sustainable Competitive Advantage.” Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5, No. 8, 2026, hlm. 2229–2246.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i8.144
URL : https://journalfjst.my.id/index.php/fjst
Jurnal: Formosa Journal of Science and Technology (FJST).
0 Komentar