Literasi Keuangan dan Perencanaan Terstruktur Jadi Kunci Kesiapan Pensiun ASN

Ilustrasi by AI

Literasi keuangan dan keberanian mengambil risiko finansial terbukti menjadi faktor penting dalam menentukan kesiapan masa pensiun Pegawai Negeri Sipil (PNS). Hal tersebut diungkapkan oleh tim peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Jakarta, yaitu Jenny Pardede, Umi Widyastuti, dan I Gusti Ketut Agung Ulupui, melalui studi kuantitatif yang melibatkan 208 pegawai dari Institusi X di Indonesia. Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Management Analytics pada Juli 2026 ini penting untuk menjawab tantangan kecukupan finansial hari tua di tengah kenaikan inflasi dan biaya kesehatan.

Meskipun pegawai sektor publik telah dilindungi oleh skema pensiun formal, jaminan tersebut sering kali belum cukup untuk mempertahankan standar hidup sebelum pensiun. Faktor-faktor eksternal seperti inflasi dan meningkatnya biaya perawatan kesehatan dapat menggerus daya beli pendapatan pensiun. Di sisi lain, tingkat pemahaman finansial dan toleransi risiko setiap individu sangat beragam. Tanpa adanya pengelolaan yang proaktif, pegawai berisiko mengalami penurunan kesejahteraan finansial setelah meninggalkan dunia kerja.

Untuk meneliti hal tersebut, studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner digital melalui Google Forms kepada 208 responden aktif. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 4 guna menguji hubungan langsung maupun peran mediasi antarvariabel.

Hasil analisis data menunjukkan beberapa temuan utama sebagai berikut:

  • Literasi keuangan berpengaruh signifikan terhadap toleransi risiko finansial (jalur $H1$), perencanaan pensiun (jalur $H2$), dan kesiapan pensiun secara langsung (jalur $H5$).
  • Toleransi risiko finansial turut memberikan pengaruh signifikan terhadap perilaku perencanaan pensiun (jalur $H3$).
  • Perencanaan pensiun terbukti secara signifikan meningkatkan kesiapan pensiun (jalur $H4$).
  • Perencanaan pensiun bertindak sebagai variabel mediasi yang signifikan antara literasi keuangan dan toleransi risiko terhadap kesiapan pensiun (jalur $H6$ dan $H7$).

Temuan ini menegaskan bahwa perlindungan pensiun institusional saja tidak cukup tanpa dibarengi pemahaman keuangan yang memadai. Pengetahuan finansial dan tingkat kenyamanan terhadap risiko pasar harus disalurkan melalui tindakan nyata berupa perencanaan pensiun yang terstruktur. Oleh karena itu, instansi pemerintah disarankan untuk memperkuat program edukasi keuangan, lokakarya perencanaan pensiun, dan layanan konseling yang berkesinambungan sepanjang masa kerja pegawai, bukan sekadar mendekati masa purna bakti.

“Peningkatan literasi keuangan dan perencanaan pensiun yang terstruktur sangat esensial untuk memperkuat kesiapan pensiun pegawai negeri,” ungkap Jenny Pardede bersama tim peneliti dari Universitas Negeri Jakarta.

Profil Penulis:

  • Jenny Pardede: Penulis utama dan korespondensi, mahasiswa Program Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Jakarta, Indonesia, dengan keahlian di bidang keuangan dan manajemen strategis.
  • Umi Widyastuti: Peneliti dan staf pengajar, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Jakarta, Indonesia, dengan keahlian di bidang manajemen keuangan dan perilaku konsumen.
  • I Gusti Ketut Agung Ulupui: Peneliti dan staf pengajar, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Jakarta, Indonesia, dengan keahlian di bidang akuntansi dan keuangan publik.

Sumber Penelitian:

Posting Komentar

0 Komentar