Pariwisata Menghadapi Tantangan Baru
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara wisatawan mencari informasi, memilih destinasi, hingga menikmati perjalanan. Pada saat yang sama, destinasi wisata menghadapi persoalan yang semakin kompleks, mulai dari tekanan terhadap lingkungan, kepadatan wisatawan atau overtourism, hingga ketimpangan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
Konsep smart destination hadir sebagai salah satu pendekatan untuk menghadapi persoalan tersebut. Teknologi seperti Internet of Things (IoT), analisis data, sistem informasi digital, dan AI dapat membantu pengelola destinasi memahami perilaku wisatawan serta mengambil keputusan berdasarkan data.
Namun, teknologi tidak otomatis membuat sebuah destinasi menjadi berkelanjutan. Konsep regenerative tourism membawa pendekatan yang lebih jauh. Jika pariwisata berkelanjutan terutama berusaha mengurangi dampak negatif, pariwisata regeneratif menekankan pemulihan lingkungan, penguatan masyarakat lokal, serta perbaikan ekosistem sosial dan ekonomi destinasi.
Di sinilah peran manusia menjadi penting. AI dapat membantu membaca pola kunjungan, memprediksi kepadatan wisatawan, menemukan potensi risiko lingkungan, dan memberikan rekomendasi berbasis data. Akan tetapi, keputusan mengenai konservasi, kepentingan masyarakat, budaya lokal, dan pembagian manfaat ekonomi tetap membutuhkan pertimbangan manusia.
Melibatkan 200 Pengguna Teknologi Pariwisata
Takaendengan dan rekan-rekannya menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menguji hubungan antara Smart Destination, Human–AI Collaboration, dan Regenerative Tourism. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dengan skala 1–5.
Sebanyak 200 responden dilibatkan. Mereka terdiri atas 140 wisatawan atau 70 persen dan 60 pengelola destinasi atau 30 persen. Responden dipilih secara purposif dengan kriteria pernah menggunakan layanan digital dalam aktivitas pariwisata dan memiliki pengalaman berkunjung dalam 12 bulan terakhir.
Pengumpulan data dilakukan secara daring dan luring setelah instrumen diuji kepada 30 responden awal. Data kemudian dianalisis menggunakan pendekatan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan bantuan SmartPLS 4 untuk melihat hubungan langsung maupun tidak langsung antarvariabel.
Hasil pengukuran menunjukkan persepsi responden terhadap ketiga variabel berada dalam kategori tinggi. Nilai rata-rata Smart Destination mencapai 4,12, Human–AI Collaboration 3,98, sedangkan Regenerative Tourism 4,05.
Semua Hubungan Utama Terbukti Signifikan
Temuan penelitian menunjukkan bahwa seluruh hipotesis yang diuji mendapatkan dukungan statistik. Beberapa hasil utama penelitian tersebut adalah:
- Smart Destination berpengaruh positif terhadap kolaborasi manusia dan AI dengan koefisien 0,62.
- Smart Destination berpengaruh positif terhadap Regenerative Tourism dengan koefisien 0,41.
- Kolaborasi manusia dan AI berpengaruh positif terhadap Regenerative Tourism dengan koefisien 0,48.
- Kolaborasi manusia dan AI terbukti menjadi mediator dalam hubungan antara Smart Destination dan Regenerative Tourism, dengan efek tidak langsung sebesar 0,30.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi memiliki potensi lebih besar ketika manusia tidak ditempatkan sebagai pengguna pasif teknologi. Manusia tetap berperan sebagai pengarah, penafsir kondisi lokal, dan pengambil keputusan.
Dengan kata lain, aplikasi wisata, sensor, sistem informasi, dan AI tidak dengan sendirinya memulihkan lingkungan atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Teknologi harus diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan yang sesuai dengan kondisi sosial, budaya, dan ekologis setiap destinasi.
AI Dapat Membantu Mengendalikan Dampak Pariwisata
Menurut temuan Takaendengan dan kolega, destinasi cerdas dapat menggunakan teknologi untuk memantau kapasitas kunjungan, mengatur arus wisatawan, mengidentifikasi risiko lingkungan, serta membantu pengambilan kebijakan berbasis data.
Bagi pemerintah daerah, temuan ini menunjukkan pentingnya membangun sistem data pariwisata yang terintegrasi. Data dapat digunakan untuk memantau jumlah kunjungan, kondisi lingkungan, perilaku wisatawan, serta dampak ekonomi terhadap masyarakat lokal.
Bagi pengelola destinasi, AI tidak semestinya hanya digunakan untuk personalisasi layanan atau meningkatkan promosi. Teknologi juga dapat diarahkan untuk mengendalikan overtourism, menjaga sumber daya alam, dan memastikan manfaat ekonomi pariwisata lebih banyak dirasakan masyarakat.
Penulis juga menekankan pentingnya keterlibatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta komunitas lokal agar transformasi digital tidak justru menciptakan kesenjangan baru.
Teknologi Bukan Pengganti Manusia
Mita Erdiaty Takaendengan dan tim menempatkan teknologi sebagai alat pendukung, bukan pengganti manusia dalam pengelolaan destinasi. AI dapat menyediakan data, prediksi, dan rekomendasi, sedangkan manusia memberikan pertimbangan etika, konteks lokal, nilai sosial, serta legitimasi dalam pengambilan keputusan.
Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa keberhasilan smart tourism tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan. Kesiapan sumber daya manusia, literasi digital, infrastruktur, tata kelola data, etika AI, dan keterlibatan masyarakat juga menjadi faktor penting.
Masih Ada Keterbatasan
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Data dikumpulkan secara cross-sectional, sehingga belum dapat menggambarkan perubahan perilaku atau dampak regeneratif dalam jangka panjang. Penggunaan purposive sampling juga membuat hasil penelitian lebih tepat dipahami sebagai gambaran responden yang memiliki pengalaman menggunakan layanan digital, bukan generalisasi mutlak untuk seluruh destinasi wisata di Indonesia.
Selain itu, indikator pariwisata regeneratif masih didasarkan pada persepsi responden dan belum sepenuhnya menggunakan indikator objektif seperti kualitas lingkungan, tingkat pemulihan ekosistem, distribusi pendapatan lokal, atau perubahan kapasitas masyarakat. Penulis merekomendasikan penelitian lanjutan dengan desain longitudinal, metode campuran, serta penggunaan data lingkungan dan ekonomi yang lebih objektif.
Profil Singkat Penulis
Artikel sumber tidak mencantumkan gelar akademik masing-masing penulis maupun profil keahlian personal secara rinci. Bidang yang dapat diidentifikasi dari afiliasi mereka mencakup manajemen pariwisata global, agrowisata bahari, teknik jalan dan jembatan, serta sistem informasi.
0 Komentar