Kolaborasi Guru dan Orang Tua Jadi Kunci Pemulihan Pembelajaran melalui Program ARAL di Filipina

Ilustrasi by AI

Northern Samar, Filipina — Keterlibatan guru dan orang tua menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Academic Recovery and Accessible Learning (ARAL) Program untuk membantu pemulihan kemampuan belajar siswa. Temuan tersebut berasal dari penelitian Justine Ann Marie D. Adora, Mercedes A. Alastoy, Alyssa G. Bacuetes, Lenylyn S. Botor, Nika M. Briones, dan Rose Bee C. Capatian dari University of Eastern Philippines, Graduate Studies. Penelitian dilakukan pada tahun ajaran 2025–2026 di tiga sekolah dasar di Laoang II District, Laoang, Northern Samar, dan menunjukkan bahwa guru memiliki tingkat keterlibatan yang lebih tinggi dibandingkan orang tua dalam seluruh aspek pelaksanaan program.

Program ARAL hadir sebagai bagian dari upaya Filipina mengatasi kesenjangan pembelajaran yang semakin terlihat setelah pandemi COVID-19. Penutupan sekolah dalam waktu panjang berdampak pada kemampuan dasar siswa, terutama dalam literasi dan numerasi. Kondisi tersebut mendorong pemerintah Filipina memperkuat program pemulihan pembelajaran melalui Republic Act No. 12028 yang menginstitusionalisasi ARAL Program sekaligus menempatkan orang tua sebagai mitra penting dalam mendukung pembelajaran di rumah.

Pendekatan ARAL tidak hanya mengandalkan kegiatan belajar di sekolah. Program ini menempatkan guru dan keluarga sebagai dua pihak yang saling melengkapi dalam membantu siswa mengejar ketertinggalan akademik. Kerangka penelitian menggunakan Theory of Overlapping Spheres of Influence dari Joyce Epstein yang menekankan bahwa perkembangan pendidikan siswa dapat diperkuat ketika sekolah dan keluarga bekerja secara kolaboratif.

Penelitian melibatkan sembilan guru dan 21 orang tua dari tiga sekolah dasar di Laoang II District. Para responden dipilih menggunakan convenience sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dikembangkan oleh peneliti dan telah divalidasi oleh ahli bahasa, master teacher, serta koordinator Program ARAL. Kuesioner menggunakan skala lima tingkat untuk mengukur keterlibatan dalam tiga bidang, yaitu perencanaan dan kolaborasi, pelaksanaan pembelajaran dan strategi, serta pemantauan perkembangan dan umpan balik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki tingkat keterlibatan yang sangat tinggi. Pada aspek Planning and Collaboration, guru memperoleh nilai rata-rata tertimbang sebesar 4,93 dan masuk kategori Always/Highly Involved. Kegiatan konsultasi dengan orang tua dan pemberian jadwal ARAL yang jelas menjadi dua aktivitas dengan nilai tertinggi, masing-masing mencapai 5,00. Guru juga aktif berkoordinasi dengan guru mata pelajaran untuk mengidentifikasi kesenjangan literasi dan numerasi siswa serta menjelaskan istilah penilaian dengan bahasa yang mudah dipahami orang tua.

Pada aspek Instructional Delivery and Strategy, keterlibatan guru mencapai nilai rata-rata 4,80. Guru aktif memberikan bimbingan dalam kelompok kecil, menjelaskan penggunaan materi pembelajaran kepada orang tua, serta menyesuaikan strategi mengajar dengan kemampuan dan kecepatan belajar siswa. Sementara itu, aspek Progress Monitoring and Feedback memperoleh nilai rata-rata 4,84. Guru secara rutin mencatat perkembangan siswa, memberikan informasi kepada orang tua, dan merespons pertanyaan mengenai perkembangan anak.

Secara keseluruhan, tingkat keterlibatan guru mencapai 4,86, yang dikategorikan Always/Highly Involved. Aspek dengan nilai tertinggi adalah Planning and Collaboration sebesar 4,93, diikuti Progress Monitoring and Feedback sebesar 4,84 serta Instructional Delivery and Strategy sebesar 4,80.

Keterlibatan orang tua juga tergolong positif, tetapi berada pada tingkat yang lebih rendah. Secara keseluruhan, orang tua memperoleh nilai rata-rata 3,81 atau kategori Often/Involved. Dalam aspek Planning and Collaboration, nilainya mencapai 3,68. Orang tua paling aktif mengikuti jadwal ARAL yang diberikan guru dengan nilai 4,29. Namun, berbagi informasi mengenai kesenjangan belajar anak dan memberikan saran kepada guru hanya memperoleh nilai 3,10.

Pada aspek Instructional Delivery and Strategy, keterlibatan orang tua mencapai 4,16. Memastikan anak mengikuti kegiatan ARAL menjadi aktivitas dengan nilai tertinggi, yaitu 4,67. Orang tua juga menggunakan materi pembelajaran di rumah dan membantu anak menyelesaikan tugas penguatan. Namun, praktik langsung terhadap strategi mengajar yang diberikan guru memperoleh nilai relatif lebih rendah, yaitu 3,86.

Sementara itu, keterlibatan orang tua dalam Progress Monitoring and Feedback memperoleh nilai 3,59. Orang tua cukup aktif menerima informasi mengenai perkembangan anak dari guru dengan nilai 4,29. Namun, aktivitas bertanya kepada guru ketika memiliki pertanyaan mengenai nilai anak hanya memperoleh nilai 2,33, menjadi indikator terendah dalam seluruh aspek keterlibatan orang tua.

Perbedaan antara keterlibatan guru dan orang tua terbukti signifikan. Uji independent-samples t-test menunjukkan perbedaan yang signifikan pada ketiga bidang maupun tingkat keterlibatan secara keseluruhan dengan nilai p kurang dari 0,05. Nilai rata-rata guru sebesar 4,86 lebih tinggi dibandingkan orang tua yang mencapai 3,81. Pada aspek Planning and Collaboration, misalnya, nilai t mencapai 5,759 dengan p sebesar 0,000009. Pada aspek Progress Monitoring and Feedback, nilai t sebesar 5,208 dengan p sebesar 0,000026. Secara keseluruhan, nilai t sebesar 5,065 dengan p sebesar 0,000048.

Meski demikian, rendahnya keterlibatan relatif orang tua tidak serta-merta menunjukkan kurangnya kepedulian terhadap pendidikan anak. Penelitian menemukan adanya hambatan praktis yang dapat membatasi partisipasi mereka. Tantangan paling banyak dilaporkan adalah kesulitan memahami metode pengajaran sebesar 42,9 persen, keterbatasan waktu akibat pekerjaan dan tanggung jawab rumah tangga sebesar 38,1 persen, serta jarak dari sekolah dan kondisi cuaca yang tidak mendukung sebesar 9,5 persen.

Guru juga menghadapi sejumlah kendala. Benturan jadwal antara tutorial ARAL dan tugas mengajar reguler serta tingginya ketidakhadiran siswa masing-masing dilaporkan oleh 66,7 persen guru. Selain itu, sebanyak 55,6 persen guru menyebut kurangnya materi pembelajaran remedial yang khusus atau sesuai dengan konteks lokal sebagai salah satu tantangan utama.

Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pemulihan pembelajaran membutuhkan kerja sama yang lebih terstruktur antara sekolah dan keluarga. Sekolah disarankan memperkuat komunikasi dua arah melalui konsultasi rutin, pembaruan perkembangan siswa, serta kesempatan yang lebih luas bagi orang tua untuk terlibat dalam perencanaan dan pemantauan pembelajaran.

Sekolah dan otoritas pendidikan juga perlu menyediakan materi remedial yang lebih sesuai dengan kebutuhan lokal, memperbaiki jadwal ARAL agar tidak berbenturan dengan tugas mengajar reguler, serta memberikan pengembangan profesional berkelanjutan bagi guru. Bagi orang tua, program orientasi, panduan belajar praktis, dan lokakarya mengenai strategi pembelajaran ARAL dapat membantu meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri dalam mendukung anak di rumah.

Secara keseluruhan, penelitian Adora dan rekan-rekan menunjukkan bahwa guru dan orang tua memiliki peran yang berbeda tetapi saling melengkapi dalam pemulihan pembelajaran. Guru menjadi pihak utama dalam perencanaan, pelaksanaan intervensi, dan pemantauan siswa, sedangkan orang tua lebih banyak memperkuat pembelajaran di rumah. Memperkuat komunikasi, mengurangi hambatan partisipasi, dan membangun kapasitas orang tua menjadi langkah penting agar kolaborasi sekolah dan keluarga dapat memberikan dukungan yang lebih konsisten bagi keberhasilan Program ARAL.

Penulis:
Justine Ann Marie D. Adora — University of Eastern Philippines, Graduate Studies
Mercedes A. Alastoy — University of Eastern Philippines, Graduate Studies
Alyssa G. Bacuetes — University of Eastern Philippines, Graduate Studies
Lenylyn S. Botor — University of Eastern Philippines, Graduate Studies
Nika M. Briones — University of Eastern Philippines, Graduate Studies
Rose Bee C. Capatian — University of Eastern Philippines, Graduate Studies.

Sumber Penelitian:
Collaborative Recovery: Teachers’ and Parents’ Levels of Involvement in Implementing the Academic Recovery and Accessible Learning (ARAL) Program
East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 8, 2026, halaman 3195–3214.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i8.280

Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar