Tangerang Selatan — Keyakinan pengusaha terhadap kemampuan dirinya sendiri dapat menjadi kekuatan penting bagi keberlanjutan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hal tersebut terlihat dalam penelitian Ade Nurdiansyah dan Nia Kusuma Wardhani dari Universitas Mercu Buana, Jakarta, yang mengkaji 185 UMKM kuliner di Tangerang Selatan. Diterbitkan pada 2026, penelitian ini menunjukkan bahwa self-efficacy atau keyakinan terhadap kemampuan diri berpengaruh positif terhadap keberlanjutan UMKM, baik secara langsung maupun melalui orientasi kewirausahaan dan perilaku pro-lingkungan.
UMKM memiliki peran besar dalam perekonomian karena berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan pengurangan kemiskinan. Namun, keberlangsungan usaha kecil masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya hingga kesulitan meningkatkan skala bisnis.
Kondisi tersebut juga terlihat di Tangerang Selatan. Data pemerintah daerah menunjukkan bahwa tingkat peningkatan skala UMKM selama 2022–2024 hanya mencapai 2,83 persen, jauh di bawah target 13,5 persen. Survei awal pada 2025 juga menunjukkan bahwa 62,2 persen UMKM kuliner di wilayah tersebut secara konsisten tidak mampu memenuhi target penjualan bulanan. Kondisi itu menjadi sinyal adanya persoalan dalam stabilitas operasional dan keberlangsungan usaha.
Dalam situasi seperti itu, kemampuan pemilik usaha untuk percaya pada dirinya sendiri menjadi salah satu faktor yang diperhatikan. Self-efficacy menggambarkan keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu mengatur dan menjalankan tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Bagi pelaku UMKM, keyakinan tersebut dapat membantu mereka menghadapi ketidakpastian pasar, menyelesaikan masalah, mempertahankan usaha ketika menghadapi tekanan ekonomi, dan melihat peluang baru.
Nurdiansyah dan Wardhani tidak hanya melihat hubungan langsung antara keyakinan diri dan keberlanjutan usaha. Mereka juga melihat dua jalur yang dapat menjelaskan bagaimana keyakinan tersebut diterjemahkan menjadi tindakan bisnis, yaitu Entrepreneurial Orientation (EO) atau orientasi kewirausahaan dan Pro-Environmental Behavior (PEB) atau perilaku pro-lingkungan.
Orientasi kewirausahaan berkaitan dengan keberanian berinovasi, bersikap proaktif, mengambil risiko yang telah diperhitungkan, membangun kemandirian, dan menghadapi persaingan. Sementara itu, perilaku pro-lingkungan mencakup tindakan seperti mengurangi limbah, menghemat energi, menggunakan bahan yang lebih ramah lingkungan, dan menerapkan praktik usaha yang mengurangi dampak terhadap lingkungan.
Untuk memperoleh bukti empiris, peneliti melakukan survei terhadap pelaku UMKM kuliner di Kecamatan Ciputat dan Pamulang, Tangerang Selatan. Responden merupakan pemilik atau pengelola operasional usaha yang masih aktif dan telah menjalankan bisnis setidaknya selama satu tahun. Sebanyak 200 kuesioner dibagikan, 187 dikembalikan, dan 185 dinyatakan lengkap serta dapat digunakan dalam analisis, dengan tingkat respons efektif 92,5 persen.
Mayoritas responden merupakan pemilik usaha, yaitu 95,7 persen, sementara 4,3 persen lainnya merupakan manajer. Sebanyak 80 persen responden adalah laki-laki. Dari sisi usia, kelompok 36–45 tahun menjadi kelompok terbesar dengan 31,9 persen, disusul kelompok 26–35 tahun sebesar 27,6 persen. Sebagian besar usaha, yaitu 72,4 persen, telah berjalan selama satu hingga lima tahun. Menariknya, 93 persen UMKM dalam sampel dijalankan hanya oleh pemilik tanpa pekerja formal.
Data dikumpulkan melalui survei tatap muka menggunakan kuesioner cetak. Responden memberikan jawaban menggunakan skala lima tingkat. Instrumen penelitian mencakup 21 pertanyaan yang mengukur empat aspek, yaitu self-efficacy, keberlanjutan UMKM, orientasi kewirausahaan, dan perilaku pro-lingkungan. Data kemudian dianalisis menggunakan metode SEM-PLS dengan bantuan SmartPLS 4.
Hasil analisis menunjukkan hubungan yang kuat antara keyakinan diri pengusaha dan keberlanjutan UMKM. Self-efficacy memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keberlanjutan UMKM dengan koefisien 0,497. Artinya, semakin kuat keyakinan pelaku usaha terhadap kemampuan dirinya, semakin tinggi kecenderungan usaha tersebut memiliki keberlanjutan yang lebih baik.
Pengaruh terbesar self-efficacy terlihat pada orientasi kewirausahaan. Koefisien hubungan antara keduanya mencapai 0,684 dengan nilai signifikansi di bawah 0,001. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengusaha yang memiliki keyakinan diri lebih kuat cenderung lebih berani mengambil inisiatif, melakukan inovasi, mencari peluang pasar, dan mengambil risiko yang diperhitungkan.
Orientasi kewirausahaan kemudian terbukti berpengaruh positif terhadap keberlanjutan UMKM dengan koefisien 0,292. Jalur ini menunjukkan bahwa keyakinan diri tidak berhenti sebagai kondisi psikologis, tetapi dapat diterjemahkan menjadi tindakan strategis yang membantu usaha beradaptasi dengan perubahan pasar dan mempertahankan daya saing.
Jalur lingkungan juga menunjukkan hasil positif. Self-efficacy berpengaruh terhadap perilaku pro-lingkungan dengan koefisien 0,198, sementara perilaku pro-lingkungan berpengaruh terhadap keberlanjutan UMKM dengan koefisien 0,293. Praktik seperti pengurangan limbah, efisiensi energi, dan penggunaan bahan yang lebih ramah lingkungan dapat membantu usaha mengurangi pemborosan sekaligus menyesuaikan diri dengan meningkatnya perhatian konsumen dan regulasi terhadap isu lingkungan.
Namun, dibandingkan orientasi kewirausahaan, kontribusi langsung self-efficacy terhadap perilaku pro-lingkungan relatif lebih kecil. Nilai R² menunjukkan bahwa self-efficacy menjelaskan 46,7 persen variasi orientasi kewirausahaan, tetapi hanya 3,9 persen variasi perilaku pro-lingkungan. Hasil ini menunjukkan bahwa faktor lain di luar keyakinan diri kemungkinan memiliki peran lebih besar dalam membentuk perilaku ramah lingkungan pelaku UMKM.
Kedua jalur tersebut juga terbukti menjadi perantara antara self-efficacy dan keberlanjutan usaha. Orientasi kewirausahaan menghasilkan efek tidak langsung sebesar 0,199 dengan tingkat signifikansi di bawah 0,001. Sementara itu, perilaku pro-lingkungan menghasilkan efek tidak langsung sebesar 0,058 dengan nilai p 0,011. Keduanya merupakan mediator parsial, karena pengaruh langsung self-efficacy terhadap keberlanjutan UMKM tetap signifikan.
Model penelitian juga memiliki kemampuan penjelasan yang cukup kuat. Nilai R² keberlanjutan UMKM mencapai 0,703. Dengan demikian, self-efficacy, orientasi kewirausahaan, dan perilaku pro-lingkungan secara bersama-sama menjelaskan sekitar 70,3 persen variasi keberlanjutan UMKM dalam model yang digunakan.
Temuan ini memberikan pesan penting bagi pelaku UMKM. Keberlanjutan usaha bukan hanya persoalan modal atau strategi bisnis, tetapi juga berkaitan dengan kesiapan psikologis pemilik usaha. Keyakinan terhadap kemampuan diri dapat menjadi fondasi untuk menghadapi tekanan, mengambil keputusan, berinovasi, dan mempertahankan usaha dalam kondisi pasar yang berubah.
Bagi pemerintah dan lembaga pendukung UMKM, hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya program pengembangan yang tidak hanya memberikan bantuan modal, tetapi juga membangun kapasitas psikologis dan kemampuan strategis pengusaha. Pelatihan kepemimpinan, pendampingan, serta mentoring antar-pelaku usaha dapat membantu meningkatkan keyakinan diri dan kemampuan mengambil keputusan.
Di sisi lingkungan, dukungan kebijakan juga diperlukan karena praktik hijau dapat menimbulkan biaya awal bagi usaha mikro dan kecil. Peneliti merekomendasikan insentif finansial seperti pinjaman hijau dan keringanan pajak serta dukungan infrastruktur hijau agar pelaku UMKM lebih mudah menerapkan inovasi ramah lingkungan.
Secara keseluruhan, penelitian Ade Nurdiansyah dan Nia Kusuma Wardhani menunjukkan bahwa keyakinan diri pengusaha dapat menjadi salah satu fondasi keberlanjutan UMKM. Pengaruh tersebut semakin kuat ketika keyakinan diri diterjemahkan ke dalam keberanian berinovasi, sikap proaktif, pengambilan risiko yang terukur, serta tindakan yang lebih ramah lingkungan. Temuan ini menunjukkan bahwa keberlanjutan ekonomi dan tanggung jawab lingkungan tidak harus berjalan sendiri-sendiri, tetapi dapat dibangun secara bersamaan melalui kepemimpinan usaha yang percaya diri dan adaptif.
Profil Penulis
Ade Nurdiansyah — Universitas Mercu Buana, Jakarta.
Nia Kusuma Wardhani — Universitas Mercu Buana, Jakarta.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Driving MSME Sustainability through Self-Efficacy: The Dual Mediating Roles of Entrepreneurial Orientation and Pro-Environmental Behavior
Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 8, 2026, halaman 3535–3554.
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i8.286
Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar