Artikel yang diterbitkan dalam Indonesian Journal of Interdisciplinary Research in Science and Technology (MARCOPOLO) itu menunjukkan bahwa semakin tinggi ketergantungan kognitif mahasiswa terhadap AI, semakin rendah tingkat otonomi belajar mereka. Hubungan negatif tersebut terutama terlihat ketika mahasiswa menyerahkan proses penting seperti memvalidasi jawaban, menyelesaikan masalah, dan mengambil keputusan belajar kepada AI.
AI Membantu Belajar, tetapi Bisa Menggantikan Proses Berpikir
Generative AI seperti ChatGPT semakin mudah ditemukan dalam aktivitas akademik mahasiswa. Teknologi ini dapat memberikan penjelasan secara cepat, merangkum materi, memberikan umpan balik, membantu menyusun tulisan, hingga menawarkan solusi terhadap persoalan akademik.
Masalah muncul ketika AI tidak lagi digunakan sebagai alat bantu, tetapi sebagai pengganti proses berpikir.
Dalam konteks penelitian ini, ketergantungan kognitif berarti kecenderungan mahasiswa menyerahkan sebagian proses pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kepada teknologi. Dengan kata lain, mahasiswa bukan sekadar meminta bantuan AI, tetapi mulai mengandalkan AI untuk menentukan apakah sebuah jawaban benar, bagaimana sebuah masalah harus diselesaikan, dan keputusan apa yang harus diambil dalam proses belajar.
Kondisi tersebut penting karena kemandirian belajar tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengakses sumber informasi. Mahasiswa juga perlu mampu menetapkan tujuan, memilih strategi belajar, memantau pemahaman, melakukan refleksi, dan mengevaluasi hasil belajarnya sendiri.
Studi Melibatkan 312 Mahasiswa
Lopulalan, Muhibi, dan Wikanso menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap 312 mahasiswa sarjana pada program studi Pendidikan dan Ilmu Sosial di perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah. Responden dipilih secara purposive, dengan kriteria aktif menggunakan generative AI untuk kegiatan akademik setidaknya dua hingga tiga kali seminggu selama tiga bulan terakhir.
Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berskala 1–5. Instrumen mengukur dua hal utama, yakni ketergantungan kognitif terhadap AI dan otonomi belajar mahasiswa. Ketergantungan kognitif diukur melalui kecenderungan menyerahkan pemecahan masalah, validasi jawaban, dan pengambilan keputusan belajar kepada AI. Sementara itu, otonomi belajar mencakup regulasi diri, berpikir kritis, dan kemampuan mengendalikan proses belajar.
Mayoritas responden merupakan mahasiswa semester VI, yakni 42,3 persen. Sebanyak 31,1 persen berasal dari semester IV dan 26,6 persen dari semester VIII. Dari sisi gender, 62,5 persen responden merupakan perempuan dan 37,5 persen laki-laki. Sebanyak 78,8 persen mahasiswa menggunakan AI lebih dari tiga kali dalam seminggu, terutama untuk mengerjakan tugas tertulis, mencari penjelasan konsep, dan memvalidasi jawaban akademik.
Ketergantungan Tertinggi Terjadi Saat Memvalidasi Jawaban
Hasil penelitian menunjukkan tingkat ketergantungan kognitif terhadap AI berada pada kategori menengah hingga tinggi, dengan nilai rata-rata 3,67 pada skala 1–5.
Dimensi yang paling tinggi adalah ketergantungan untuk memvalidasi jawaban, dengan rata-rata 3,82. Berikutnya adalah ketergantungan dalam pemecahan masalah sebesar 3,69 dan ketergantungan dalam pengambilan keputusan belajar sebesar 3,50.
Sementara itu, tingkat otonomi belajar mahasiswa berada pada kategori sedang, dengan rata-rata 3,41. Kemampuan mengelola sumber belajar relatif lebih baik dibandingkan kemampuan regulasi diri dan perencanaan belajar.
Temuan paling penting terlihat dari hubungan kedua variabel tersebut. Analisis menunjukkan korelasi negatif sebesar -0,53 dengan tingkat signifikansi p < 0,001. Artinya, peningkatan ketergantungan kognitif terhadap AI berkaitan dengan penurunan otonomi belajar mahasiswa.
Analisis regresi memperkuat temuan tersebut. Ketergantungan kognitif terhadap AI memberikan pengaruh negatif yang signifikan terhadap otonomi belajar, dengan koefisien β = -0,53. Model penelitian menjelaskan sekitar 28 persen variasi dalam otonomi belajar mahasiswa.
Ketergantungan untuk memvalidasi jawaban menjadi prediktor paling kuat terhadap penurunan otonomi belajar, dengan β = -0,41. Ketergantungan dalam pemecahan masalah berada di posisi berikutnya dengan β = -0,29.
Bukan AI-nya yang Menjadi Masalah
Pierre Marcello Lopulalan dan rekan-rekannya tidak menyimpulkan bahwa AI harus dijauhkan dari proses pembelajaran. Sebaliknya, temuan mereka menunjukkan bahwa dampak AI sangat bergantung pada cara teknologi tersebut digunakan.
AI dapat berfungsi sebagai cognitive scaffolding atau penyangga proses berpikir ketika digunakan untuk membantu mahasiswa memahami materi, mendapatkan umpan balik, atau memperbaiki rancangan pekerjaan. Masalah muncul ketika AI berubah menjadi pengganti proses analisis, refleksi, dan evaluasi mahasiswa.
Dalam situasi ketika AI diperlakukan sebagai “penentu kebenaran”, mahasiswa berisiko mengurangi proses memeriksa pemahaman dan mengevaluasi jawabannya sendiri. Penelitian ini menemukan bahwa ketergantungan pada validasi jawaban AI memiliki hubungan negatif paling kuat dengan regulasi metakognitif mahasiswa.
Temuan tersebut membawa pesan penting bagi perguruan tinggi. Tantangannya bukan sekadar mengajarkan mahasiswa cara menggunakan AI, tetapi juga mengajarkan kapan AI harus digunakan dan kapan mahasiswa harus berpikir sendiri.
Perguruan Tinggi Perlu Mengatur Cara AI Digunakan
Para penulis merekomendasikan agar institusi pendidikan memperkuat literasi AI, strategi belajar mandiri, serta batas penggunaan AI dalam aktivitas akademik. Mahasiswa perlu dibiasakan untuk mempertanyakan, memeriksa, dan memverifikasi keluaran AI, bukan menerimanya secara otomatis.
Pendekatan tersebut juga dapat diterapkan dalam desain tugas. Alih-alih meminta mahasiswa hanya menghasilkan jawaban akhir, dosen dapat meminta mereka menjelaskan proses berpikir, sumber yang digunakan, alasan memilih suatu solusi, serta bagian jawaban AI yang mereka koreksi.
Dengan cara itu, AI tetap menjadi alat pendukung pembelajaran tanpa mengambil alih fungsi utama mahasiswa sebagai pengelola proses belajarnya sendiri.
Para peneliti juga menyarankan penelitian lanjutan menggunakan desain longitudinal atau eksperimen untuk menguji hubungan sebab-akibat antara penggunaan AI, ketergantungan kognitif, dan kemandirian belajar. Penelitian berikutnya juga dapat memasukkan faktor seperti literasi AI, beban kognitif, dan desain pembelajaran.
Profil Penulis
Pierre Marcello Lopulalan — Politeknik Pelayaran Banten, Indonesia.
La Muhibi — STAI Syarif Muhammad Raha, Indonesia.
Wikanso — Universitas PGRI Madiun, Indonesia.
Ketiganya meneliti hubungan antara penggunaan AI dalam pendidikan, ketergantungan kognitif, dan kemandirian belajar mahasiswa dalam konteks pendidikan tinggi. Afiliasi masing-masing penulis tercantum dalam artikel jurnal.
Sumber Penelitian
Judul: Cognitive Dependency in Artificial Intelligence–Based Learning: Its Impact on Students' Learning Autonomy
Penulis: Pierre Marcello Lopulalan, La Muhibi, dan Wikanso
Jurnal: Indonesian Journal of Interdisciplinary Research in Science and Technology (MARCOPOLO)
Volume: 4, Nomor 2, 2026, halaman 91–104
Tahun: 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/marcopolo.v4i2.11
URL jurnal: https://journalmarcopolo.my.id/index.php/marcopolo
0 Komentar