Penelitian tersebut penting karena dosen di perguruan tinggi tidak hanya bertanggung jawab mengajar. Mereka juga harus melakukan penelitian, membimbing mahasiswa, menjalankan tugas administratif, serta memenuhi tanggung jawab pengabdian kepada masyarakat. Ketika berbagai tuntutan tersebut tidak diimbangi dengan waktu istirahat dan kehidupan pribadi yang memadai, tekanan pekerjaan dapat meningkat dan berpotensi mengurangi kualitas kinerja.
Artikel Aleru dan Elsia menjelaskan bahwa work-life balance atau keseimbangan kerja-kehidupan merupakan kemampuan seseorang mengelola tuntutan pekerjaan sekaligus tanggung jawab pribadi dan keluarga tanpa membuat salah satunya memberikan dampak negatif terhadap yang lain. Dalam lingkungan akademik, keseimbangan ini menjadi semakin penting karena pekerjaan dosen sering kali melampaui jam kerja formal.
Dosen menghadapi banyak tuntutan pekerjaan
Konteks penelitian berada di Rivers State University (RSU) dan Ignatius Ajuru University of Education (IAUE), dua universitas milik pemerintah negara bagian Rivers State. Artikel mencatat bahwa staf akademik menghadapi tuntutan mengajar, penelitian, administrasi, supervisi mahasiswa, dan tanggung jawab pribadi.
Ketidakseimbangan waktu dapat membuat dosen mengalami kelelahan, stres, hingga penurunan semangat kerja. Sebaliknya, pembagian waktu yang lebih baik memungkinkan staf akademik memberikan perhatian yang lebih terarah pada pengajaran, penelitian, dan kegiatan lainnya.
Penulis juga menyoroti pentingnya kepuasan kerja. Staf yang merasa dihargai, memperoleh dukungan, serta bekerja dalam lingkungan yang baik cenderung memiliki motivasi dan komitmen yang lebih kuat. Faktor seperti penghargaan, kondisi kerja, dan kesempatan mengembangkan diri menjadi bagian dari keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kebutuhan pribadi.
Melibatkan 7.844 staf akademik
Penelitian menggunakan desain survei deskriptif. Populasi penelitian terdiri atas 7.844 staf akademik, dengan 5.433 berasal dari Rivers State University dan 2.411 dari Ignatius Ajuru University of Education.
Dari populasi tersebut, peneliti menentukan sampel sebanyak 381 staf akademik. Pemilihan responden dilakukan secara bertahap, termasuk dengan membagi responden berdasarkan kedua universitas. Sebanyak 245 responden berasal dari RSU dan 136 dari IAUE.
Peneliti menggunakan kuesioner berisi 15 pernyataan untuk mengukur persepsi staf mengenai hubungan work-life balance dengan produktivitas. Dari 381 kuesioner yang dibagikan, sebanyak 372 berhasil dikembalikan dan digunakan dalam analisis.
Kualitas instrumen juga diperiksa. Pengujian reliabilitas menghasilkan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,81, 0,83, dan 0,82 untuk tiga kelompok pertanyaan, yang oleh peneliti dinilai menunjukkan bahwa instrumen tersebut dapat diandalkan.
Pengelolaan waktu menjadi faktor penting
Temuan pertama menunjukkan bahwa keseimbangan waktu memiliki pengaruh kuat terhadap produktivitas staf akademik. Nilai rata-rata keseluruhan untuk aspek ini mencapai 3,30 pada skala empat poin.
Responden menilai bahwa pengelolaan waktu yang baik membantu dosen memenuhi tenggat waktu, menyelesaikan tugas secara efisien, mempersiapkan kegiatan mengajar dan penelitian, serta mengurangi stres. Perencanaan jadwal juga membantu mereka mengatur pekerjaan mengajar, penelitian, dan administrasi secara lebih teratur.
Sebaliknya, ketidakseimbangan waktu dikaitkan dengan kelelahan, keterlambatan, dan penurunan kualitas pekerjaan. Temuan ini menunjukkan bahwa produktivitas akademik tidak hanya berkaitan dengan kemampuan atau kompetensi individu, tetapi juga dengan bagaimana beban pekerjaan dan waktu dikelola.
Kepuasan kerja memperkuat produktivitas
Aspek kedua adalah satisfaction balance atau keseimbangan kepuasan. Nilai rata-rata keseluruhan mencapai 3,31, juga berada dalam kategori tinggi menurut kriteria penelitian.
Responden menyatakan bahwa kondisi kerja yang memuaskan meningkatkan minat dan antusiasme dalam menjalankan tugas. Penghasilan yang adil, penghargaan, lingkungan kerja yang baik, serta perasaan dihargai oleh institusi juga dinilai mendorong komitmen dan kemauan untuk bekerja lebih keras.
Temuan tersebut memberikan pesan penting bagi pengelola perguruan tinggi. Peningkatan produktivitas tidak selalu harus dilakukan melalui tuntutan kerja yang lebih besar. Membangun lingkungan yang membuat staf merasa dihargai dan didukung juga dapat menjadi bagian dari strategi peningkatan kinerja.
Fleksibilitas memberi ruang untuk bekerja lebih efektif
Aspek ketiga adalah fleksibilitas dan kendali terhadap pekerjaan. Nilai rata-rata keseluruhannya mencapai 3,05.
Staf akademik menilai bahwa fleksibilitas dalam mengatur jadwal membantu mereka mengelola pekerjaan mengajar, penelitian, dan kehidupan pribadi. Kendali terhadap beban kerja juga dinilai memungkinkan staf bekerja lebih efisien dan kreatif.
Selain itu, kebebasan dalam mengatur tugas dikaitkan dengan peningkatan akuntabilitas, produktivitas, inovasi, dan kepuasan kerja.
Analisis perbandingan antara RSU dan IAUE juga menunjukkan adanya perbedaan yang dinilai signifikan oleh peneliti pada ketiga aspek tersebut. Untuk keseimbangan waktu, rata-rata RSU adalah 3,34 dibandingkan 3,26 di IAUE. Pada keseimbangan kepuasan, nilainya masing-masing 3,36 dan 3,31. Sementara untuk fleksibilitas dan kendali, RSU mencatat 3,09 dan IAUE 3,01.
Rekomendasi untuk pengelola universitas
Berdasarkan hasil tersebut, Aleru dan Elsia merekomendasikan agar manajemen universitas menerapkan kebijakan pengelolaan waktu yang lebih terstruktur dan melakukan evaluasi beban kerja secara berkala.
Universitas juga disarankan melakukan survei kepuasan staf secara rutin dan menyediakan sistem penghargaan untuk mempertahankan motivasi. Selain itu, pimpinan perguruan tinggi dianjurkan menciptakan kebijakan kerja yang lebih fleksibel serta memberikan otonomi kepada staf dalam mengatur tugas mereka.
Bagi dunia pendidikan tinggi, implikasinya cukup luas. Produktivitas dosen bukan hanya persoalan jumlah tugas yang diselesaikan. Kualitas lingkungan kerja, kesempatan mengatur waktu, dukungan institusi, dan ruang untuk mengambil keputusan juga dapat menjadi bagian penting dalam menciptakan tenaga akademik yang produktif dan berkelanjutan.
Namun, penulis juga mengakui keterbatasan penelitian. Artikel menyebut belum adanya data longitudinal dan perbandingan yang lebih luas antara institusi publik dan swasta, sehingga hasilnya perlu dipahami dalam konteks universitas milik pemerintah di Rivers State.
Profil Penulis
Gladys Ejimole Aleru merupakan penulis utama sekaligus corresponding author dalam artikel ini. Ia berafiliasi dengan Department of Educational Management, Rivers State University, Nigeria.
Faith Okwuchi Elsia merupakan penulis kedua dan memiliki afiliasi yang sama, yaitu Department of Educational Management, Rivers State University. Artikel tidak mencantumkan gelar akademik maupun uraian bidang keahlian spesifik masing-masing penulis, sehingga informasi tersebut tidak ditambahkan di luar sumber jurnal.
Sumber Penelitian
Judul artikel: Perceived Influence of Work-Life Balance on Academic Staff Productivity in Rivers State Owned Universities
Penulis: Gladys Ejimole Aleru dan Faith Okwuchi Elsia
Jurnal: Indonesian Journal of Interdisciplinary Research in Science and Technology (MARCOPOLO)
Volume: 4, Nomor 1, 2026, halaman 33–48
DOI: https://doi.org/10.55927/marcopolo.v4i1.4
Data penelitian: https://journalmarcopolo.my.id/index.php/marcopolo
0 Komentar