Changchun, China — Kesadaran keselamatan, kondisi kesehatan, pemanasan yang memadai, serta kondisi peralatan olahraga menjadi faktor penting dalam mencegah risiko cedera mahasiswa pendidikan jasmani di Changchun. Temuan tersebut berasal dari penelitian Wang Meng dan Julius Simon dari University of Baguio yang mengembangkan kerangka evaluasi risiko olahraga berbobot untuk mahasiswa program terkait pendidikan jasmani. Penelitian ini memadukan tanggapan 30 mahasiswa dengan penilaian 12 ahli untuk menghasilkan sistem evaluasi yang dapat membantu perguruan tinggi menentukan risiko yang perlu diprioritaskan dalam kegiatan olahraga.
Aktivitas pendidikan jasmani memberikan manfaat bagi kesehatan fisik, perkembangan psikososial, dan kebiasaan hidup aktif. Namun, kegiatan olahraga juga memiliki risiko cedera dan gangguan kesehatan yang dapat muncul dari kondisi mahasiswa, tuntutan aktivitas, lingkungan, fasilitas, maupun sistem pengelolaan di institusi pendidikan. Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan fisik mahasiswa, tetapi membutuhkan identifikasi risiko dan pengelolaan keselamatan yang sistematis.
Penelitian ini secara khusus melihat kondisi mahasiswa yang mengikuti program terkait pendidikan jasmani di Changchun. Para peneliti mengembangkan sistem yang tidak hanya mencatat berbagai risiko, tetapi juga menentukan tingkat prioritas masing-masing faktor. Pendekatan tersebut penting karena perguruan tinggi memiliki sumber daya yang terbatas dan perlu mengetahui aspek keselamatan mana yang harus mendapatkan perhatian terlebih dahulu.
Penelitian menggunakan pendekatan campuran secara bertahap. Tahap awal dilakukan melalui kuesioner terhadap 30 mahasiswa. Selanjutnya, peneliti melakukan kajian terhadap 86 sumber ilmiah dan institusional yang diterbitkan pada 2017–2024, kemudian mewawancarai 12 ahli dari bidang pendidikan jasmani, kedokteran olahraga, layanan kesehatan olahraga, kedokteran klinis, dan manajemen risiko. Hasil tersebut digunakan untuk menyusun indikator risiko yang kemudian diseleksi dan divalidasi melalui dua putaran metode Delphi.
Tahap berikutnya menggunakan Analytic Hierarchy Process atau AHP untuk memberikan bobot pada setiap faktor. Dengan cara ini, peneliti dapat menentukan faktor mana yang memiliki tingkat kepentingan paling besar dalam keseluruhan sistem risiko. Dari proses tersebut, terbentuk 32 indikator yang dikelompokkan ke dalam lima bidang, yaitu faktor manusia, lingkungan, manajemen dan organisasi, aktivitas olahraga, serta faktor sosial dan psikologis. Seluruh matriks penilaian AHP memenuhi standar konsistensi dengan nilai consistency ratio di bawah 0,10.
Dari sisi mahasiswa, kurangnya pemanasan atau pendinginan menjadi salah satu masalah yang paling menonjol. Faktor ini memperoleh nilai rata-rata 3,93. Kelelahan fisik dan aktivitas berlebihan masing-masing mencapai 3,77. Sementara itu, kesadaran mahasiswa terhadap batas kemampuan fisiknya berada pada nilai 3,73. Temuan tersebut menunjukkan bahwa risiko tidak hanya berkaitan dengan kondisi kesehatan yang sudah ada, tetapi juga kebiasaan mahasiswa sebelum dan selama melakukan aktivitas olahraga.
Tekanan akademik juga muncul sebagai persoalan penting. Dalam aspek psikologis, tekanan akademik yang menurunkan konsentrasi selama berolahraga memperoleh nilai rata-rata 3,80. Kecemasan terkait kompetisi mencapai 3,67, sedangkan tekanan untuk tetap berolahraga ketika belum siap mencapai 3,63. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keselamatan dalam olahraga tidak hanya dipengaruhi oleh kesiapan fisik, tetapi juga kemampuan mahasiswa mempertahankan konsentrasi dan mengambil keputusan yang aman ketika berada di bawah tekanan.
Faktor lingkungan juga menjadi perhatian besar. Kondisi cuaca ekstrem di Changchun, seperti suhu musim dingin yang sangat rendah dan suhu musim panas yang tinggi, memperoleh nilai tertinggi sebesar 4,20. Kondisi permukaan lapangan atau arena yang kurang baik memperoleh nilai 3,67, sementara peralatan olahraga yang tidak memadai mencapai 3,60. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan fasilitas dan penyesuaian kegiatan terhadap kondisi cuaca menjadi bagian penting dalam pencegahan cedera.
Pada tingkat kelembagaan, mahasiswa memberikan penilaian relatif positif terhadap pelatihan instruktur mengenai pencegahan cedera dan pertolongan pertama dengan nilai 3,63. Namun, akses terhadap tenaga medis hanya memperoleh nilai 3,13, pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti aktivitas olahraga 3,20, dan pembaruan kebijakan keselamatan secara sistematis 3,23. Ketiga aspek tersebut menunjukkan adanya ruang untuk memperkuat dukungan institusional terhadap keselamatan mahasiswa.
Temuan dari daftar periksa risiko semakin memperjelas persoalan tersebut. Sebanyak 60 persen mahasiswa mengidentifikasi kurangnya pemanasan dan pendinginan sebagai risiko. Sebanyak 57 persen menyebut aktivitas berintensitas tinggi tanpa persiapan fisik yang memadai dan kegagalan melaporkan cedera ringan sebagai masalah. Sementara itu, 53 persen menyoroti tidak adanya pemeriksaan kesehatan sebelum aktivitas, kelelahan kronis atau waktu pemulihan yang tidak mencukupi, serta paparan terhadap cuaca ekstrem.
Mahasiswa juga memberikan dukungan kuat terhadap sejumlah strategi pencegahan. Pemeriksaan kesehatan wajib sebelum mengikuti aktivitas olahraga dan penyediaan tenaga medis atau petugas pertolongan pertama di lokasi masing-masing memperoleh nilai rata-rata 4,27. Integrasi materi pencegahan cedera ke dalam kurikulum pendidikan jasmani memperoleh nilai 4,23. Pemeriksaan dan pemeliharaan fasilitas serta peralatan memperoleh 4,07, sedangkan pengembangan dan penerapan kebijakan manajemen risiko olahraga memperoleh 4,00.
Hasil penilaian 12 ahli kemudian memberikan gambaran mengenai prioritas risiko secara lebih terstruktur. Faktor manusia menjadi kelompok dengan bobot tertinggi, yaitu 0,4251, diikuti faktor lingkungan sebesar 0,2532, manajemen dan organisasi sebesar 0,1505, aktivitas olahraga sebesar 0,0993, serta faktor sosial dan psikologis sebesar 0,0719.
Pada tingkat indikator, kesadaran keselamatan dan kemampuan melindungi diri menempati peringkat pertama dengan bobot global 0,0812. Berikutnya adalah kondisi kronis yang sudah ada sebelumnya dengan bobot 0,0662, kurangnya pemanasan 0,0601, kebugaran fisik yang tidak memadai 0,0557, serta kondisi dan pemeliharaan peralatan olahraga 0,0534. Lima indikator tersebut secara bersama-sama menyumbang 31,7 persen dari bobot keseluruhan sistem.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pencegahan cedera perlu diarahkan pada perubahan perilaku sekaligus perbaikan sistem. Kesadaran mahasiswa terhadap keselamatan, kemampuan mengenali batas fisik, kebiasaan melakukan pemanasan, serta kesiapan mengikuti aktivitas olahraga perlu diperkuat. Pada saat yang sama, perguruan tinggi perlu memastikan fasilitas terawat, kebijakan keselamatan tersedia, pengawasan instruktur berjalan, dan sistem tanggap darurat dapat digunakan ketika terjadi insiden.
Wang Meng dan Julius Simon menilai kerangka yang dihasilkan dapat menjadi dasar bagi perguruan tinggi di Changchun untuk menentukan prioritas pendidikan keselamatan, pemeriksaan kesehatan, pemeliharaan fasilitas, pengendalian risiko cuaca musim dingin, kesiapsiagaan darurat, dan alokasi sumber daya. Namun, peneliti menegaskan bahwa bobot AHP menggambarkan penilaian relatif para ahli, bukan angka kejadian atau probabilitas cedera. Penelitian berikutnya disarankan menguji kerangka tersebut dengan jumlah mahasiswa yang lebih besar, lebih banyak institusi, berbagai cabang olahraga, dan periode musim yang berbeda.
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i8.274
Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar