Kepuasan Kerja Jadi Kunci Kinerja ASN, Gairah Kerja Saja Tidak Cukup Menurut Riset Universitas Triatma Mulya

Ilustrasi by AI

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Pt Diko Paramarta, Ni Luh Putu Agustini Karta, dan Saortua Marbun dari Universitas Triatma Mulya pada kuartal kedua tahun 2025 mengungkap dinamika psikologis aparatur sipil negara (ASN) di tingkat daerah. Riset ini membedah bagaimana gairah kerja (passion), motivasi, dan kepuasan kerja memengaruhi kinerja abdi negara di Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Tabanan. Temuan ini sangat krusial bagi tata kelola birokrasi, karena mampu menawarkan solusi strategis atas masalah kelelahan motivasi yang kerap menghambat optimalisasi pelayanan publik di era desentralisasi.

Selama ini, reformasi birokrasi di Indonesia terus bergulir demi mencetak abdi negara yang profesional. Sayangnya, berbagai instansi pemerintah daerah masih sering berbenturan dengan kendala produktivitas pegawai. Di lapangan, banyak ASN mengalami kelelahan motivasi, terjebak dalam aturan prosedural yang kaku, serta merasakan ketidaksesuaian antara aspirasi karier pribadi dengan tugas birokrasi standar. Kondisi ini sering kali memicu turunnya disiplin kerja dan inisiatif, yang pada akhirnya menurunkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Untuk menemukan letak hambatannya, tim peneliti melakukan sensus terhadap 66 pegawai negeri sipil di lingkungan BKPSDM Kabupaten Tabanan. Data dikumpulkan melalui kuesioner digital pada kuartal kedua 2025. Informasi tersebut kemudian diolah menggunakan metode analisis jalur kuantitatif (path analysis) guna membongkar efek langsung maupun tidak langsung dari faktor psikologis pegawai terhadap hasil kerja nyata mereka di lapangan.

Hasil penelitian ini mematahkan sejumlah asumsi tradisional terkait produktivitas di sektor publik:

  • Gairah Kerja Berdampak Langsung: Identifikasi emosional dan rasa cinta pegawai terhadap tugas pelayanan publik terbukti mampu meningkatkan kinerja secara langsung. Namun, tingginya gairah kerja ini ternyata tidak memengaruhi tingkat kepuasan kerja mereka akibat adanya hambatan struktur birokrasi yang membatasi otonomi.
  • Motivasi Tidak Langsung Menjadi Kinerja: Motivasi kerja yang tinggi sama sekali tidak berdampak langsung pada peningkatan kinerja pegawai. Motivasi hanyalah dorongan awal yang baru bisa berbuah kinerja maksimal jika organisasi berhasil memenuhi ekspektasi pegawai tersebut.
  • Kepuasan Kerja Sebagai Penentu Utama: Kepuasan kerja memegang peran sebagai mediator yang sangat vital. Pegawai yang merasa puas terhadap dukungan atasan, lingkungan kerja, dan sistem penghargaan akan menerjemahkan motivasi mereka menjadi produktivitas nyata yang bermutu tinggi.

Dampak dari penelitian ini menuntut adanya perombakan strategi manajemen sumber daya manusia di instansi pemerintahan daerah. Kepemimpinan di sektor publik tidak bisa lagi sekadar mengandalkan imbauan motivasi atau retorika. Menegaskan temuan ini, Pt Diko Paramarta bersama tim dari Universitas Triatma Mulya menyatakan bahwa administrator publik harus menyelaraskan dorongan minat individu dengan kepuasan organisasional guna memperkuat efektivitas kelembagaan dalam struktur pemerintahan yang terdesentralisasi. Instansi disarankan untuk secara aktif menempatkan pegawai sesuai minat spesifiknya serta membangun ekosistem kerja yang memuaskan dan adil.

PROFIL PENULIS

  • Tim Peneliti: Pt Diko Paramarta, Ni Luh Putu Agustini Karta, dan Saortua Marbun.
  • Afiliasi Universitas: Universitas Triatma Mulya, Indonesia
  • Bidang Keahlian: Manajemen sektor publik, manajemen sumber daya manusia, dan perilaku organisasi birokrasi.

SUMBER PENELITIAN

  • Judul Artikel: Work Passion, Motivation, and Performance: Job Satisfaction as Mediator.
  • Waktu Pelaksanaan: Kuartal II, Tahun 2025.
  • Afiliasi Riset: Universitas Triatma Mulya.
  • DOI: 

    https://doi.org/10.55927/ijbae.v5i4.55

Posting Komentar

0 Komentar