Kepemimpinan Toksik Gerus Keterikatan Kerja Karyawan Hotel Lewat Kesehatan Mental

Ilustrasi by AI

Kepemimpinan toksik terbukti memberikan dampak buruk terhadap keterikatan kerja karyawan hotel bintang empat di wilayah Tangerang melalui penurunan kesehatan mental. Temuan tersebut diungkapkan oleh Andi Tanrioddang Pasamalangi dan Oloan Situmorang dari Program Studi Manajemen, Universitas Bunda Mulia, melalui studi kuantitatif yang melibatkan 64 staf non-manajerial yang dikumpulkan melalui metode purposive sampling. Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Management Analytics pada Juli 2026 ini penting untuk memahami bagaimana kondisi psikologis pekerja di sektor perhotelan yang menuntut interaksi intensif dapat terganggu oleh pola manajerial yang destruktif.

Industri perhotelan merupakan salah satu sektor jasa yang paling menuntut secara operasional, di mana kondisi psikologis dan keterikatan kerja karyawan sangat menentukan kualitas pelayanan tamu. Kendati jumlah akomodasi berbintang di kawasan Banten mengalami pertumbuhan pesat berdasarkan data BPS tahun 2025, ekspansi tersebut belum diimbangi dengan peningkatan kualitas manajerial yang memadai. Kepemimpinan toksik yang manipulatif, otoritatif, dan manipulatif menciptakan tekanan psikologis signifikan yang menguras energi mental pekerja.

Untuk mengkaji fenomena ini, penelitian menggunakan desain asosiatif kausal dengan pengumpulan data primer melalui kuesioner daring via Google Form berskala Likert lima poin. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui perangkat lunak SmartPLS 4.

Berdasarkan analisis data, penelitian ini mendapati beberapa temuan utama:

  • Kepemimpinan toksik berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kesehatan mental karyawan dengan nilai koefisien jalur -0,391 dan P = 0,007.
  • Kesehatan mental berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterikatan kerja dengan nilai koefisien jalur 0,458 dan P = 0,000.
  • Kepemimpinan toksik secara langsung memberikan pengaruh negatif dan signifikan terhadap keterikatan kerja sebesar -0,253 dengan P = 0,032.
  • Kesehatan mental terbukti memediasi hubungan antara kepemimpinan toksik dan keterikatan kerja secara signifikan dengan nilai -0,179 dan P = 0,022, yang menunjukkan mediasi parsial.

Implikasi dari penelitian ini menekankan bahwa manajemen hotel perlu menyadari kepemimpinan toksik sebagai risiko struktural yang merusak fondasi sumber daya manusia. Perusahaan disarankan untuk menerapkan sistem evaluasi kepemimpinan 360 derajat, mendirikan program bantuan karyawan (Employee Assistance Programs), serta berinvestasi pada pelatihan kepemimpinan positif seperti kepemimpinan pelayan dan transformasional. Sebagaimana ditekankan oleh para peneliti dari Universitas Bunda Mulia, kesehatan mental bertindak sebagai jembatan psikologis krusial yang mentransmisikan dampak buruk kepemimpinan destruktif terhadap penurunan keterikatan kerja di sektor perhotelan.

Profil Penulis:

  • Andi Tanrioddang Pasamalangi: Peneliti dan mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Bunda Mulia, Indonesia, dengan bidang keahlian manajemen sumber daya manusia.
  • Oloan Situmorang: Penulis korespondensi dan dosen pengampu di Program Studi Manajemen, Universitas Bunda Mulia, Indonesia, dengan bidang keahlian perilaku organisasi dan manajemen strategis.

Sumber Penelitian:

Posting Komentar

0 Komentar