Praktik penggambaran dominasi kebudayaan dan institusi modern dalam karya fiksi populer terbukti masih memelihara struktur berpikir era kolonial. Temuan ini diungkapkan oleh tim peneliti dari Universitas Negeri Medan, yaitu Raja Sungai Simbolon, Dina Sri Elvina Hutabarat, Azura Hinayah, dan Syamsul Bahri, dalam riset terbarunya yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS). Penelitian ini menganalisis novel fiksi penggemar (fanfiction) berjudul Summoning America karya DrDoritosMD untuk menguji bagaimana narasi fiktif yang memindahkan satu negara modern ke dunia fantasi dapat mereproduksi wacana neokolonialisme. Urgensi penelitian ini sangat penting karena tren cerita isekai atau pemindahan antar-dunia yang berfokus pada negara modern kini semakin populer di platform digital global, tetapi masih sangat jarang dikaji menggunakan kacamata kritis teori pascakolonial.
Secara kontekstual, wacana kolonialisme kerap beroperasi bukan hanya
lewat aksi militer langsung, melainkan juga melalui pembentukan pengetahuan
yang menempatkan kebudayaan Barat sebagai pusat rasionalitas dan kemajuan.
Dalam sub-genre cerita populer Summoning Modern Nations, sebuah negara
adidaya dipindahkan ke dunia fantasi pra-modern. Berbeda dari cerita isekai
tradisional yang biasanya berfokus pada petualangan individu, cerita ini
berfokus pada tindakan institusi negara, diplomasi, dan strategi militer.
Fenomena ini menjadi sarana ideal untuk meneliti bagaimana superioritas
rasionalitas Barat diproduksi ulang dalam media digital populer.
Untuk membedah narasi tersebut, tim peneliti dari Universitas Negeri
Medan menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pembacaan kritis (close
reading) berbasis teori pascakolonial Edward Said. Peneliti menyeleksi 30
kutipan teks dari novel Summoning America yang mencakup berbagai fase
narasi. Setiap kutipan kemudian diklasifikasikan dan dianalisis ke dalam empat
kategori utama wacana Said, yaitu Orientalism, Othering, Latent
Orientalism, dan Manifest Orientalism.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel tersebut secara sistematis
membangun hierarki peradaban di mana Amerika Serikat selalu ditempatkan sebagai
pihak yang superior. Rincian temuan utama dalam studi ini meliputi:
- Othering (40,00%): Menjadi mekanisme paling dominan dengan
12 kutipan teks. Narasi secara konsisten menggambarkan penduduk dunia
fantasi mengalami ketidakmampuan kognitif, seperti menganggap pesawat
tempur sebagai "makhluk bersayap" atau rudal kendali sebagai "panah
cahaya ajaib", sehingga menempatkan mereka sebagai pihak yang
terbelakang secara rasional.
- Latent
Orientalism
(23,33%): Ditemukan dalam
7 kutipan teks. Kategori ini menunjukkan asumsi terselubung bahwa ilmu
pengetahuan dan metode empiris Amerika Serikat bersifat universal dan
mutlak benar. Fenomena asing di dunia fantasi selalu diukur dan dijelaskan
menggunakan standar sains Barat tanpa mengakui sistem pengetahuan lokal.
- Orientalism (20,00%): Mencakup 6 kutipan teks yang mempertegas
oposisi biner antara Amerika Serikat yang rasional dan modern dengan dunia
fantasi yang eksotis, irasional, serta feudal.
- Manifest
Orientalism
(16,67%): Muncul dalam 5
kutipan teks. Kategori ini menerjemahkan superioritas pengetahuan menjadi
tindakan institusional nyata, seperti pengarahan lembaga pemerintah (FEMA,
FAA, dan militer) untuk mengambil alih kendali dan menata ulang dunia
fantasi atas nama ketertiban dan keamanan.
Implikasi dari riset ini memberikan kontribusi besar bagi studi sastra
digital, pendidikan budaya, dan kajian pascakolonial. Bagi masyarakat dan
pembaca umum, riset ini memberikan kesadaran kritis bahwa karya hiburan digital
seperti fiksi penggemar tidak sepenuhnya bebas dari ideologi politik dan
neokolonialisme. Dalam dunia pendidikan dan akademik, metode yang dikembangkan
oleh peneliti Universitas Negeri Medan ini dapat digunakan untuk menguji
bagaimana media populer digital mengonstruksi gagasan tentang kekuasaan,
batas-batas peradaban, dan dominasi budaya di era modern.
Keunggulan narasi rasionalitas modern yang dihadirkan dalam karya ini
terbukti memposisikan peradaban Barat sebagai satu-satunya tolok ukur kemajuan.
Sebagaimana disimpulkan oleh Raja Sungai Simbolon dan timnya dari Universitas
Negeri Medan, cerita tersebut tidak sekadar menyajikan narasi fiksi yang
menghibur, melainkan secara aktif mengonstruksi hierarki pengetahuan.
"Narasi ini tidak menampilkan pertemuan yang netral antardunia, melainkan
mengonstruksi fantasi neokolonial tentang dominasi peradaban, di mana
pengetahuan Amerika menentukan realitas, teknologinya menentukan kemajuan, dan
institusinya menentukan ketertiban," tegas Raja Sungai Simbolon dan tim
peneliti dalam laporan ilmiahnya.
Profil Penulis
Raja Sungai Simbolon, S.S., M.Hum., merupakan akademisi dan peneliti
bidang Sastra dan Kajian Budaya dari Universitas Negeri Medan. Fokus keahlian
beliau meliputi teori pascakolonial, analisis wacana kritis, serta studi fiksi
digital dan sastra populer. Dalam penelitian ini, beliau bekerja sama dengan
tim peneliti dari Universitas Negeri Medan, yaitu Dina Sri Elvina Hutabarat,
Azura Hinayah, dan Syamsul Bahri.
Sumber Penelitian
- Judul
Artikel: A
Postcolonial Analysis in DrDoritosMD's Novel Summoning America
- Jurnal: International Journal of Advanced
Technology and Social Sciences (IJATSS), Vol. 4, No. 7, Tahun 2026,
Halaman 779–794
- Penulis: Raja Sungai Simbolon, Dina Sri Elvina
Hutabarat, Azura Hinayah, Syamsul Bahri (Universitas Negeri Medan)
- DOI: https://doi.org/10.59890/ijatss.v4i7.240
- https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijatss

0 Komentar