![]() |
| Illustration by Ai |
Kemiskinan di Indonesia Timur ternyata lebih erat kaitannya dengan kualitas pembangunan manusia dibandingkan pertumbuhan ekonomi semata. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Dirmansyah Darwin dan Mahrani dari Universitas Negeri Makassar (UNM) yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research (IJAAMR). Studi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) memiliki dampak nyata dalam menurunkan angka kemiskinan, sementara pertumbuhan ekonomi belum memberikan pengaruh signifikan.
Temuan ini penting karena wilayah
Indonesia Timur masih menghadapi tantangan pembangunan yang berbeda
dibandingkan kawasan lain di Indonesia. Keterbatasan infrastruktur, akses
layanan dasar, serta kualitas sumber daya manusia menjadi faktor yang memengaruhi
tingginya tingkat kemiskinan di sejumlah provinsi.
Kemiskinan Masih Menjadi
Tantangan Besar
Menurut Badan Pusat Statistik
(BPS), kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan rendahnya pendapatan, tetapi
juga keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan standar
hidup yang layak. Karena itu, upaya pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya
mengandalkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memperhatikan kualitas
pembangunan manusia.
Indonesia Timur yang mencakup
Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku, hingga Papua
memiliki karakteristik pembangunan yang beragam. Beberapa wilayah masih
menghadapi kesenjangan pembangunan yang cukup tinggi dibandingkan daerah lain
di Indonesia.
Analisis Data dari 13 Provinsi
Selama 10 Tahun
Penelitian ini menggunakan
pendekatan kuantitatif dengan metode regresi linear berganda. Data yang
dianalisis merupakan data sekunder dari BPS yang mencakup 13 provinsi di
Indonesia Timur selama periode 2015–2024. Total terdapat 130 observasi
yang digunakan dalam analisis.
Variabel yang diteliti meliputi:
- Tingkat kemiskinan sebagai variabel utama.
- Pertumbuhan ekonomi yang diukur melalui pertumbuhan
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
- Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencerminkan
kualitas pendidikan, kesehatan, dan standar hidup masyarakat.
Peneliti kemudian menguji sejauh
mana pertumbuhan ekonomi dan IPM memengaruhi tingkat kemiskinan di wilayah
Indonesia Timur.
Pertumbuhan Ekonomi Tidak
Signifikan Menurunkan Kemiskinan
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pertumbuhan ekonomi memiliki koefisien negatif sebesar -0,010,
namun tidak signifikan secara statistik dengan nilai signifikansi 0,882.
Artinya, peningkatan pertumbuhan ekonomi belum terbukti mampu menurunkan
kemiskinan secara langsung di Indonesia Timur selama periode penelitian.
Menurut peneliti, kondisi ini
dapat terjadi karena manfaat pertumbuhan ekonomi belum dinikmati secara merata
oleh masyarakat miskin. Pertumbuhan yang terkonsentrasi pada sektor tertentu
atau tidak mampu menyerap tenaga kerja miskin membuat dampaknya terhadap
pengurangan kemiskinan menjadi terbatas.
Temuan ini memperkuat pandangan
bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu otomatis menghasilkan penurunan
kemiskinan jika distribusi manfaat pembangunan tidak merata.
IPM Terbukti Menekan
Kemiskinan
Berbeda dengan pertumbuhan
ekonomi, IPM menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan
kemiskinan. Penelitian menemukan koefisien IPM sebesar -0,130 dengan
tingkat signifikansi 0,001. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan
kualitas pendidikan, kesehatan, dan standar hidup masyarakat berkontribusi
langsung terhadap penurunan angka kemiskinan.
Peningkatan pendidikan dapat
membuka peluang kerja yang lebih baik, sementara layanan kesehatan yang lebih
baik meningkatkan produktivitas masyarakat. Di sisi lain, standar hidup yang
lebih layak memperkuat daya beli dan kesejahteraan rumah tangga.
Pengaruh Bersama Pertumbuhan
dan IPM
Ketika diuji secara bersamaan,
pertumbuhan ekonomi dan IPM terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap
kemiskinan. Hasil uji F menunjukkan nilai signifikansi 0,003, yang
berarti model penelitian secara keseluruhan valid dalam menjelaskan perubahan
tingkat kemiskinan.
Namun, kemampuan kedua variabel
tersebut dalam menjelaskan variasi kemiskinan masih relatif rendah. Nilai R
Square sebesar 0,087 menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan IPM hanya
mampu menjelaskan sekitar 8,7 persen variasi tingkat kemiskinan.
Sisanya, sekitar 91,3 persen, dipengaruhi oleh faktor lain seperti
pengangguran, ketimpangan pendapatan, infrastruktur, investasi, pengeluaran
pemerintah, ketahanan pangan, dan kondisi geografis.
Implikasi bagi Kebijakan
Publik
Penelitian ini memberikan pesan
penting bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah di Indonesia Timur.
Strategi pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan
pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memperkuat pembangunan manusia melalui
pendidikan, kesehatan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Dirmansyah Darwin dan Mahrani
dari Universitas Negeri Makassar menegaskan bahwa kualitas pembangunan manusia
menjadi faktor yang lebih relevan dalam menurunkan kemiskinan dibandingkan
pertumbuhan ekonomi semata. Oleh karena itu, investasi pada sektor pendidikan,
layanan kesehatan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat perlu menjadi
prioritas utama pembangunan di kawasan Indonesia Timur.
Para peneliti juga
merekomendasikan agar pertumbuhan ekonomi yang terjadi lebih bersifat inklusif,
sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh kelompok masyarakat miskin
dan tidak hanya terkonsentrasi pada sektor-sektor tertentu.
Profil Penulis
Dirmansyah Darwin
merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Negeri Makassar (UNM)
yang menekuni bidang ekonomi pembangunan, kebijakan publik, dan analisis
kemiskinan. Ia juga bertindak sebagai penulis korespondensi dalam penelitian
ini.
Mahrani adalah peneliti
dari Universitas Negeri Makassar (UNM) yang memiliki fokus kajian pada
pembangunan ekonomi regional, pembangunan manusia, dan isu kesejahteraan
masyarakat.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Poverty
in Eastern Indonesia
Penulis: Dirmansyah Darwin
dan Mahrani
Afiliasi: Universitas
Negeri Makassar (UNM)
Jurnal: International
Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research (IJAAMR), Vol. 4
No. 7, 2026
DOI: https://doi.org/10.59890/ijaamr.v4i7.267

0 Komentar