![]() |
| Illustration by Ai |
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Intan Nurlaili dan Teguh Priyo Sadono dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mengungkap bahwa iklan jamu yang disiarkan di radio-radio Jawa Tengah secara sistematis memanfaatkan unsur budaya Jawa untuk membangun kepercayaan dan legitimasi produk. Studi yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research (IJAAMR) ini menunjukkan bahwa praktik tersebut tidak sekadar strategi pemasaran, tetapi juga berpotensi mengubah warisan budaya lokal menjadi komoditas ekonomi.
Temuan ini menjadi penting karena
industri jamu Indonesia mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun
terakhir. Di Jawa Tengah, radio masih menjadi media yang berpengaruh dan dekat
dengan masyarakat. Kondisi tersebut membuat unsur budaya lokal seperti bahasa
Jawa, tokoh pengobatan tradisional, dan cerita tentang kearifan leluhur sering
digunakan untuk meyakinkan pendengar mengenai kualitas produk.
Budaya Lokal Menjadi Alat
Pemasaran
Menurut penelitian ini, banyak
iklan jamu menggunakan simbol budaya Jawa untuk menciptakan kesan bahwa produk
yang ditawarkan memiliki hubungan erat dengan tradisi dan pengetahuan leluhur.
Penggunaan bahasa daerah, musik tradisional, hingga figur dukun atau sesepuh
desa membuat produk tampak lebih autentik dan dapat dipercaya.
Namun, para peneliti menilai
praktik tersebut dapat mengarah pada apa yang mereka sebut sebagai Structured
Cultural Exploitation (SCE) atau eksploitasi budaya terstruktur. Konsep ini
menggambarkan proses ketika identitas budaya digunakan secara sistematis untuk
menghasilkan keuntungan ekonomi tanpa melibatkan atau memberikan manfaat yang
sepadan kepada komunitas pemilik budaya tersebut.
Metode Penelitian
Penelitian menggunakan pendekatan
kualitatif dengan metode Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse
Analysis/CDA) yang dikembangkan oleh Norman Fairclough. Peneliti
menganalisis bagaimana bahasa, simbol, dan narasi budaya digunakan dalam iklan
jamu yang disiarkan di berbagai stasiun radio di Jawa Tengah sepanjang 2024
hingga 2025.
Sebanyak 24 iklan dari 12
merek jamu dipilih sebagai sampel penelitian. Seluruh iklan tersebut
mengandung unsur budaya Jawa, seperti penggunaan bahasa daerah, cerita leluhur,
simbol tradisional, atau identitas etnis tertentu. Data kemudian ditranskripsi
dan dianalisis untuk mengungkap makna, ideologi, serta relasi kekuasaan yang
tersembunyi di balik pesan iklan.
Temuan Utama Penelitian
1. Budaya Digambarkan Secara
Sederhana dan Seragam
Penelitian menemukan bahwa banyak
iklan menggabungkan berbagai unsur budaya dari daerah berbeda menjadi satu
gambaran budaya Indonesia yang seragam. Cara ini menghilangkan keragaman dan
kompleksitas budaya yang sebenarnya ada di masyarakat.
2. Kearifan Leluhur Dijadikan
Bukti Khasiat Produk
Iklan sering menggunakan kalimat
seperti “terbukti sejak ratusan tahun” atau “warisan nenek moyang” untuk
membangun kepercayaan konsumen. Narasi tersebut membuat tradisi budaya seolah
menjadi bukti yang cukup untuk mendukung klaim kesehatan, meskipun tidak selalu
disertai penjelasan ilmiah.
3. Tokoh Tradisional Dijadikan
Otoritas
Dari 24 iklan yang dianalisis, 17
di antaranya menampilkan tokoh seperti tabib, dukun, atau sesepuh desa sebagai
sumber pengetahuan yang dianggap memiliki otoritas tinggi. Kehadiran
tokoh-tokoh ini membuat pesan iklan lebih mudah diterima oleh pendengar.
4. Identitas Budaya Menjadi
Produk yang Dijual
Peneliti menemukan bahwa
perusahaan tidak hanya menjual jamu, tetapi juga menjual identitas budaya.
Simbol budaya digunakan untuk membangun hubungan emosional dengan konsumen,
terutama kelompok usia dewasa yang memiliki kedekatan dengan tradisi Jawa.
5. Komunitas Budaya Tidak
Dilibatkan
Salah satu temuan penting adalah
tidak adanya bukti bahwa komunitas budaya yang simbol-simbolnya digunakan dalam
iklan dilibatkan dalam proses produksi. Masyarakat lokal tidak memiliki ruang
untuk menentukan bagaimana budaya mereka direpresentasikan dan dimanfaatkan
secara komersial.
Data Penting dari Penelitian
Analisis menunjukkan bahwa:
- 91,7% iklan menggunakan representasi budaya
yang bernuansa nostalgia dan mengaitkan produk dengan masa lalu atau
leluhur.
- 79,2% iklan menggunakan gabungan berbagai
unsur budaya untuk menciptakan kesan keaslian.
- 70,8% iklan menampilkan figur tradisional
sebagai sumber otoritas.
- 58,3% iklan mengombinasikan dua atau lebih
strategi representasi budaya sekaligus.
Selain itu, iklan jamu menyumbang
sekitar 12–18 persen pendapatan iklan radio di Jawa Tengah, sehingga
media penyiaran memiliki kepentingan ekonomi yang kuat untuk terus
menayangkannya.
Dampak bagi Pelestarian Budaya
Penelitian ini menyebutkan bahwa
penggunaan budaya dalam iklan memang dapat meningkatkan perhatian publik
terhadap warisan tradisional. Namun, terdapat tiga risiko utama yang perlu
diperhatikan.
Pertama, fosilisasi budaya,
yaitu ketika budaya digambarkan sebagai sesuatu yang statis dan tidak
berkembang. Kedua, trivialisasi budaya, yaitu penyederhanaan makna
budaya menjadi sekadar alat promosi. Ketiga, privatisasi budaya, yaitu
ketika perusahaan memperoleh kendali atas narasi budaya yang seharusnya menjadi
milik bersama masyarakat.
Perlunya Regulasi yang Lebih
Kuat
Berdasarkan temuan tersebut, para
peneliti merekomendasikan agar Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Komisi
Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) menyusun pedoman khusus mengenai representasi
budaya dalam iklan. Pedoman tersebut dapat mencakup kewajiban berkonsultasi
dengan komunitas budaya, standar penggunaan simbol tradisi, serta mekanisme
pengawasan terhadap klaim kesehatan yang berbasis warisan budaya.
Intan Nurlaili dan Teguh Priyo
Sadono menegaskan bahwa radio bukan sekadar saluran penyampaian informasi,
melainkan institusi budaya yang memiliki kekuatan besar dalam membentuk cara
masyarakat memahami dan memaknai warisan budaya mereka. Karena itu, perlindungan
terhadap budaya lokal perlu menjadi bagian penting dalam kebijakan penyiaran di
Indonesia.
Menurut Intan Nurlaili dan Teguh
Priyo Sadono dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, eksploitasi budaya
dalam iklan jamu terjadi secara sistematis melalui penggunaan simbol, narasi,
dan identitas budaya yang dikemas menjadi alat pemasaran untuk kepentingan
ekonomi perusahaan.
Profil Penulis
Intan Nurlaili, M.I.Kom. adalah
akademisi dan peneliti dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang menaruh
perhatian pada kajian media, representasi budaya, dan komunikasi penyiaran.
Teguh Priyo Sadono, M.I.Kom.
merupakan dosen dan peneliti di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang
meneliti isu komunikasi massa, media, dan hubungan antara budaya dengan praktik
komunikasi modern.
Sumber
Judul Artikel: Structured
Cultural Exploitation in Herbal Medicine Advertising on Radio: A Critical
Discourse Analysis of Local Cultural Representation in Central Java
Broadcasting
Penulis: Intan Nurlaili dan Teguh Priyo Sadono
Jurnal: International Journal of Applied and Advanced
Multidisciplinary Research (IJAAMR), Vol. 4 No. 7
Tahun Terbit: 2026
DOI: https://doi.org/10.59890/ijaamr.v4i7.258

0 Komentar