Inovasi Nugget Lewortem Padukan Lele, Wortel, dan Tempe untuk Penuhi Gizi Balita Posyandu

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS

Peneliti dari Poltekkes Kemenkes Denpasar, Poltekkes Kemenkes Mataram, dan Universitas Bali Dwipa mengembangkan inovasi makanan tambahan balita berupa Nugget Lewortem—formulasi nugget berbahan dasar ikan lele, wortel, dan tempe. Penelitian yang dipimpin oleh I Komang Agusjaya Mataram bersama Ni Putu Agustini, Anak Agung Nanak Antarini, Yuli Laraeni, dan I Made Artha Widyantara Jaya ini dipublikasikan pada pertengahan tahun 2026 di International Journal of Natural and Health Sciences (IJNHS). Inovasi pangan lokal ini dirancang sebagai variasi Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Posyandu untuk menekan angka stunting dan kekurangan gizi pada balita secara berkelanjutan.

Menjawab Tantangan Kejenuhan Menu PMT Posyandu

Program PMT di Posyandu merupakan strategi vital dalam perbaikan gizi anak-anak di Indonesia. Meski angka prevalensi stunting nasional terus mengalami penurunan, tantangan dilapangan menunjukkan bahwa menu PMT konvensional—seperti bubur kacang hijau, telur rebus, dan agar-agar—sering kali kurang bervariasi dan memicu rasa bosan pada anak.

Nugget merupakan salah satu olahan pangan favorit anak-anak karena teksturnya yang renyah dan rasanya yang gurih. Namun, nugget komersial berbasis daging ayam umumnya minim kandungan serat dan protein nabati. Tim peneliti memanfaatkan potensi bahan pangan lokal yang murah dan melimpah—yaitu ikan lele sebagai sumber protein hewani berkualitas tinggi, tempe sebagai sumber protein nabati dan senyawa bioaktif, serta wortel yang kaya akan beta-karoten dan serat pangan.

Metodologi dan Pengujian Formulasi di Laboratorium

Penelitian eksperimental ini dilaksanakan secara sistematis selama enam bulan, dari Juni hingga November 2025. Tim menguji enam tingkat perlakuan formulasi variasi konsentrasi tempe, yaitu:

  • N1: 25 gram tempe
  • N2: 50 gram tempe
  • N3: 75 gram tempe
  • N4: 100 gram tempe
  • N5: 125 gram tempe
  • N6: 150 gram tempe

Setiap perlakuan tetap mempertahankan jumlah proporsi ikan lele dan wortel masing-masing sebesar 100 gram. Pengujian laboratorium dilakukan di Laboratorium Ilmu-Ilmu Dasar Universitas Warmadewa serta Laboratorium Jasa Pengujian, Kalibrasi, dan Sertifikasi Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mengukur kandungan zat gizi makro dan profil asam amino. Selain itu, evaluasi tingkat kesukaan (uji organoleptik) melibatkan 30 kader Posyandu sebagai panelis di Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Denpasar.

Temuan Utama Penelitian

Hasil analisis laboratorium dan statistik menunjukkan sejumlah temuan kunci:

  1. Kandungan Protein Tertinggi pada Formulasi N2: Perlakuan N2 (penambahan 50 g tempe) menghasilkan kadar protein tertinggi sebesar 18,77%, diikuti oleh N1 (16,25%), N4 (16,06%), N5 (15,66%), N6 (15,23%), dan N3 (11,80%).
  2. Kandungan Lemak dan Energi: Perlakuan N2 juga memiliki kadar lemak sebesar 10,21% dan karbohidrat sebesar 27,62%, menjadikannya padat gizi dan sumber energi yang baik untuk tumbuh kembang balita.
  3. Profil Asam Amino Lengkap: Nugget Lewortem terbukti mengandung asam amino esensial yang lengkap, seperti histidin, isoleusin, leusin, lisin, metionin, fenilalanin, treonin, valin, arginin, dan triptofan. Formulasi N2 mencatatkan total konsentrasi asam amino tertinggi yaitu 16,34 mg/kg. Triptofan teridentifikasi sebagai asam amino pembatas (limiting amino acid).
  4. Dapat Diterima dengan Baik Secara Organoleptic: Hasil uji ANOVA menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada tingkat kesukaan panelis terhadap rasa, aroma, warna, dan tekstur di seluruh perlakuan ($p > 0,05$). Rata-rata skor rasa berada pada rentang 2,7–3,1; aroma 3,0–3,3; dan warna 3,1–3,4 dari skala hedonic 4 poin.

Solusi Praktis PMT dan Dampak Bagi Masyarakat

Inovasi Nugget Lewortem memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan gizi berbasis masyarakat. Porsi rekomendasi Nugget Lewortem dengan formulasi N2 (50 gram tempe) terbukti mampu memenuhi hingga 93% kebutuhan protein harian balita usia 1–3 tahun.

Penggabungan protein hewani dan nabati dalam bentuk nugget tidak hanya meningkatkan bioavailabilitas nutrisi tetapi juga menyamarkan aroma khas tempe dan ikan lele, sehingga lebih disukai oleh anak-anak. Formulasi ini sangat berpotensi diadopsi oleh kader Posyandu maupun unit UMKM pengolahan pangan lokal sebagai menu PMT yang ekonomis, bergizi tinggi, dan praktis didistribusikan.

Profil Penulis

  • I Komang Agusjaya Mataram, S.TP., M.Si. — Peneliti Utama dan Dosen di Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes Denpasar. Ahli dalam bidang teknologi pangan dan gizi masyarakat.
  • Ni Putu Agustini, S.SKM., M.Si. — Peneliti dan Dosen Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes Denpasar.
  • Anak Agung Nanak Antarini, SST., M.P. — Peneliti dan Dosen Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes Denpasar.
  • Yuli Laraeni, S.SKM., M.Pd. — Peneliti dan Dosen Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes Mataram.
  • I Made Artha Widyantara Jaya, S.Gz., M.Gz. — Peneliti dan Dosen di Universitas Bali Dwipa.

Sumber Penelitian Resmi


Posting Komentar

0 Komentar