Penelitian yang menganalisis data Kabupaten Blora selama 2011–2025 tersebut diterbitkan dalam International Journal of Economic, Finance and Business Statistics (IJEFBS) Volume 4 Nomor 4 Tahun 2026, halaman 423–440. Artikel ini diterima pada 29 Agustus 2026. Temuannya penting karena menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak cukup hanya berorientasi pada penambahan kapasitas, tetapi juga harus memperhatikan kualitas, pemerataan, dan pemanfaatannya untuk kegiatan ekonomi produktif.
Infrastruktur menjadi fondasi ekonomi Blora
Pertumbuhan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh aktivitas perdagangan dan produksi. Ketersediaan infrastruktur dasar juga menentukan seberapa mudah masyarakat dan pelaku usaha menjalankan kegiatan ekonomi.
Jalan yang baik memudahkan distribusi hasil pertanian, pertambangan, kehutanan, dan perdagangan. Listrik mendukung aktivitas rumah tangga, industri, jasa, serta usaha kecil. Sementara itu, air bersih dibutuhkan untuk kebutuhan rumah tangga sekaligus berbagai kegiatan produktif.
Kondisi tersebut sangat relevan bagi Blora karena struktur ekonominya banyak bertumpu pada sektor pertanian, kehutanan, perikanan, serta pertambangan dan penggalian.
Data dalam penelitian memperlihatkan bahwa perekonomian Blora mengalami perkembangan dalam jangka panjang. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan meningkat dari Rp10.597,23 miliar pada 2011 menjadi Rp20.834,42 miliar pada 2025. Namun, pertumbuhan ekonomi sempat mengalami kontraksi pada 2020, ketika pandemi COVID-19 menyebabkan PDRB turun 4,56 persen.
Setelah pandemi, perekonomian kembali tumbuh. Pada 2025, PDRB mencapai Rp20.834,42 miliar dengan pertumbuhan sebesar 5,34 persen.
Jalan dan air bersih memberikan dorongan positif
Melinda dan Taufiq menemukan bahwa infrastruktur jalan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Blora. Hasil regresi menunjukkan nilai t sebesar 10,037 dengan tingkat signifikansi 0,000.
Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya konektivitas antarwilayah. Jalan yang memadai dapat mempercepat mobilitas manusia dan barang, menurunkan hambatan distribusi, serta memperluas akses pelaku usaha terhadap pasar.
Data penelitian menunjukkan panjang jalan di Blora mengalami perubahan selama periode pengamatan. Panjang jalan tercatat 797,69 kilometer pada 2011 dan mencapai 1.222,84 kilometer pada 2016. Setelah beberapa tahun relatif stabil, angka tersebut menjadi 916,10 kilometer sejak 2023.
Penurunan angka panjang jalan tersebut, menurut penelitian, tidak semata-mata berarti berkurangnya jaringan jalan secara fisik. Perubahan status ruas jalan, pembaruan data administrasi, serta penyesuaian kewenangan menjadi faktor yang memengaruhi pencatatan.
Temuan paling kuat justru terlihat pada infrastruktur air bersih. Variabel ini memiliki nilai t sebesar 11,070 dengan signifikansi 0,000, sekaligus menjadi variabel yang paling dominan dalam penelitian.
Volume air bersih yang didistribusikan di Blora meningkat dari 1.959.657 meter kubik pada 2011 menjadi 4.298.261 meter kubik pada 2025. Peningkatan tersebut menunjukkan semakin besarnya kapasitas pelayanan air bersih di wilayah tersebut.
Ketersediaan air bersih tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan dasar masyarakat. Infrastruktur ini juga mendukung kegiatan pertanian, perdagangan, industri, usaha mikro, sanitasi, dan aktivitas ekonomi lainnya.
Mengapa infrastruktur listrik berdampak negatif?
Hasil penelitian menunjukkan temuan yang berbeda untuk infrastruktur listrik. Kapasitas listrik memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, dengan nilai t sebesar -2,715 dan signifikansi 0,020.
Temuan ini bukan berarti listrik tidak penting bagi perekonomian. Sebaliknya, Melinda dan Taufiq menilai persoalannya berkaitan dengan bagaimana kapasitas listrik dimanfaatkan.
Penambahan kapasitas listrik belum tentu langsung menghasilkan peningkatan ekonomi apabila belum diikuti pemanfaatan yang optimal pada sektor-sektor produktif. Kondisi tersebut dapat terjadi karena struktur ekonomi Blora masih banyak bergantung pada sektor primer sehingga dampak investasi listrik terhadap pertumbuhan ekonomi membutuhkan waktu untuk terlihat.
Dengan kata lain, pembangunan jaringan dan kapasitas listrik perlu berjalan beriringan dengan peningkatan aktivitas ekonomi yang menggunakan energi tersebut secara produktif.
97,8 persen variasi ekonomi dijelaskan tiga infrastruktur
Salah satu hasil penting penelitian adalah nilai Adjusted R Square sebesar 0,978. Artinya, kombinasi infrastruktur jalan, listrik, dan air bersih dalam model penelitian mampu menjelaskan sekitar 97,8 persen variasi pertumbuhan ekonomi Blora.
Sementara itu, sekitar 2,2 persen dipengaruhi faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model.
Pengujian secara bersama-sama juga menunjukkan ketiga variabel infrastruktur tersebut berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Nilai F sebesar 206,984 dengan signifikansi 0,000 menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur perlu dipandang sebagai satu kesatuan, bukan kebijakan yang berdiri sendiri.
Pemerintah perlu fokus pada kualitas dan pemanfaatan
Bagi pemerintah daerah, hasil penelitian ini memberikan sejumlah arah kebijakan. Infrastruktur air bersih perlu menjadi salah satu prioritas karena menunjukkan pengaruh paling kuat terhadap pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah juga perlu meningkatkan kualitas dan pemerataan infrastruktur jalan agar manfaat konektivitas dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat dan pelaku usaha.
Untuk sektor listrik, fokus kebijakan tidak cukup hanya menambah kapasitas. Pemanfaatannya perlu diarahkan lebih kuat kepada sektor produktif, termasuk industri, perdagangan, usaha mikro dan kecil, serta kegiatan ekonomi lainnya.
“Pembangunan infrastruktur perlu disertai pemanfaatan yang optimal agar mampu menghasilkan dampak ekonomi yang lebih besar,” menjadi inti temuan Melinda dan Taufiq ketika menjelaskan hubungan antara infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi Blora.
Penelitian ini juga menyarankan agar masyarakat ikut menjaga infrastruktur yang telah tersedia. Pemeliharaan jalan, fasilitas air bersih, dan jaringan pendukung lainnya menjadi bagian penting agar investasi infrastruktur dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Profil penulis
Ngalisa Duwik Melinda merupakan penulis utama penelitian ini dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur. Penelitiannya berfokus pada isu ekonomi pembangunan dan hubungan infrastruktur dengan pertumbuhan ekonomi daerah.
M. Taufiq merupakan penulis kedua dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, dengan perhatian pada kajian ekonomi dan pembangunan wilayah.
Penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya menggunakan data Kabupaten Blora pada periode 2011–2025 dan berfokus pada tiga jenis infrastruktur. Penelitian berikutnya disarankan memasukkan faktor lain seperti investasi, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur telekomunikasi serta menggunakan periode pengamatan yang lebih panjang.
Sumber Penelitian
Judul: The Effect of Road Infrastructure, Electricity Infrastructure, and Clean Water Infrastructure on Economic Growth in Blora Regency
Penulis: Ngalisa Duwik Melinda, M. Taufiq
Jurnal: International Journal of Economic, Finance and Business Statistics (IJEFBS)
Volume: 4, Nomor 4, 2026, halaman 423–440
DOI: https://doi.org/10.59890/ijefbs.v4i4.20
Website jurnal: http://journalijefbs.my.id/index.php/ijefbs
0 Komentar