Dominasi Ungkapan Emosional dalam Film Mufasa The Lion King Diungkap Riset Universitas Negeri Medan

Penggunaan bahasa dalam media sinema modern tidak hanya berfungsi menyampaikan jalan cerita, melainkan juga menggerakkan emosi dan membangun karakter secara mendalam. Riset ilmiah terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti Universitas Negeri Medan—Aynen Kresensia Br Sembiring, Miranda La'ia, Rani Eviolina Purba, dan Syamsul Bahri—mengungkap dinamika pragmatis tersebut dalam film animasi populer Mufasa: The Lion King karya sutradara Barry Jenkins. Dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS), penelitian ini penting karena menjadi studi pertama yang secara spesifik membedah dialog film Mufasa: The Lion King menggunakan teori tindak tutur George Yule. Penelitian ini memberikan pemahaman baru bagi industri kreatif dan akademisi linguistik mengenai bagaimana konstruksi bahasa digunakan untuk menghidupkan hubungan antarkarakter dalam media audiovisual.

Secara kontekstual, adaptasi karya sastra dan cerita rekaan ke dalam format film terus berkembang pesat seiring kemajuan teknologi digital. Film bertindak sebagai media komunikasi efektif yang menyampaikan pesan melalui gabungan visual, audio, dan dialog interaktif. Dalam percakapan antarkarakter, tuturan yang diucapkan mengandung makna tindakan sosial yang disebut tindak tutur (speech acts). Memahami struktur tindak tutur membantu penonton dan pengkaji film memahami motivasi psikologis, konflik internal, serta keputusan politik yang diambil oleh setiap karakter di dalam cerita.

Metodologi yang digunakan oleh para peneliti dari Universitas Negeri Medan adalah metode kualitatif deskriptif. Peneliti mengumpulkan data primer berupa cuplikan dialog dan adegan utama dalam film Mufasa: The Lion King. Data tersebut kemudian dianalisis dan dikategorikan berdasarkan teori pragmatik George Yule (1996), yang membagi tindak tutur ke dalam lima jenis: deklarasi (declarations), representatif (representatives), ekspresif (expressives), direktif (directives), dan komisif (commissives).

Hasil analisis statistik terhadap proporsi dialog dalam film menunjukkan distribusi jenis tindak tutur sebagai berikut:

  • Ekspresif / Expressives (33,3%): Menjadi jenis tindak tutur yang paling mendominasi dengan 5 data dari total sampel. Tuturan ini memuat ungkapan emosi, perasaan emosional, kecemasan, rasa cinta, hingga kekaguman antarkarakter, seperti saat karakter Taka mengungkapkan perasaannya terhadap Sarabi.
  • Direktif / Directives (26,6%): Menduduki urutan kedua dengan 4 data. Tindak tutur ini muncul dalam bentuk perintah, ajakan, atau dorongan agar lawan tutur melakukan suatu tindakan, seperti instruksi tegas Mufasa saat melarikan diri dari kejaran kelompok singa putih.
  • Representatif / Representatives (20,0%): Ditemukan sebanyak 3 data. Karakter menggunakan tuturan ini untuk menyatakan keyakinan atau fakta yang mereka percayai tentang dunia, seperti penjelasan ibu Mufasa mengenai tempat impian bernama Milele.
  • Komisif / Commissives (13,3%): Muncul sebanyak 2 data. Jenis ini mencakup janji, ikrar, atau komitmen pribadi untuk melakukan sesuatu di masa depan, seperti janji Obasi untuk melindungi garis keturunan keluarganya.
  • Deklarasi / Declarations (6,7%): Merupakan jenis tindak tutur paling sedikit dengan hanya 1 data. Tuturan deklarasi memiliki daya ubah realitas secara langsung, seperti momen penobatan Mufasa sebagai raja baru di Milele oleh Rafiki yang mengubah status sosial dan situasi dunia rekaan tersebut.

Implikasi dan dampak dari penelitian ini sangat relevan bagi industri perfilman, penulis skenario, pendidik, dan masyarakat umum. Skenario film karya Barry Jenkins ini membuktikan bahwa dominasi tuturan ekspresif merupakan kunci utama untuk membangun ikatan emosional (emotional engagement) yang kuat antara penonton dan karakter animasi. Bagi praktisi penulisan skenario dan komunikasi massal, temuan ini menjadi acuan bahwa cerita fantasi berlatar konflik besar tetap membutuhkan dialog personal berbasi perasaan agar mampu menyentuh sisi psikologis khalayak.

Keseimbangan antara penuturan perasaan dan dialog bernada perintah menciptakan dinamika cerita yang hidup. Sebagaimana dijelaskan oleh Aynen Kresensia Br Sembiring dan timnya dari Universitas Negeri Medan, jenis tuturan ekspresif menjadi alat utama karakter untuk merespons situasi tanpa perlu mengubah fakta secara langsung. Sementara itu, tuturan deklarasi—meski frekuensinya paling rendah—memiliki peran paling krusial karena hanya digunakan oleh figur berotoritas untuk mengubah jalannya narasi dan status sosial karakter utama.

Profil Penulis

Aynen Kresensia Br Sembiring, S.Pd., merupakan peneliti muda di bidang Linguistik dan Pragmatik dari Universitas Negeri Medan. Keahlian akademisnya berfokus pada analisis wacana, tindak tutur pragmatis, serta analisis bahasa dalam media film dan sastra populer. Riset ini disusun bersama tim akademisi dari Universitas Negeri Medan, yaitu Miranda La'ia, S.Pd., Rani Eviolina Purba, S.Pd., dan Syamsul Bahri, M.Hum.

Sumber Penelitian

 


Posting Komentar

0 Komentar