MAKASSAR, Indonesia — Pengendalian anggaran yang disiplin dan pengelolaan kondisi aset produksi menjadi dua faktor penting dalam menjaga efisiensi biaya di industri manufaktur. Temuan ini terlihat dalam artikel yang ditulis Khaerun Nisa SH, Irene Ipal Parinding, dan Aisyah Zarkasi dari Universitas Negeri Makassar, yang menganalisis kondisi di PT Semen Tonasa menggunakan data dari 85 responden. Artikel tersebut diterbitkan pada 2026 di International Journal of Finance and Business Management (IJFBM).
Kajian tersebut memperlihatkan bahwa pengendalian anggaran yang lebih ketat berkaitan dengan penurunan ketidakefisienan biaya produksi. Sementara itu, integritas aset yang bersifat ergonomis juga memiliki hubungan yang signifikan dengan ketidakefisienan biaya, tetapi arahnya positif dalam model statistik yang digunakan. Secara bersama-sama, kedua faktor tersebut menjelaskan 37,5% variasi ketidakefisienan biaya produksi, sedangkan 62,5% lainnya berkaitan dengan faktor di luar model penelitian.
Mengapa Pengendalian Biaya Menjadi Penting?
Industri manufaktur dengan kebutuhan modal besar menghadapi tantangan untuk mempertahankan volume produksi sekaligus mengendalikan biaya operasional. Dalam kondisi seperti ini, pengawasan keuangan tidak hanya berkaitan dengan penyusunan anggaran, tetapi juga bagaimana anggaran digunakan sebagai alat pengendalian kegiatan operasional.
Di sisi lain, kondisi fisik fasilitas produksi juga berpengaruh terhadap kelancaran pekerjaan. Mesin dan fasilitas yang terawat serta dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan pekerja dapat membantu mengurangi kesalahan kerja, gangguan operasional, dan waktu berhenti produksi yang tidak direncanakan.
Artikel Khaerun Nisa SH, Irene Ipal Parinding, dan Aisyah Zarkasi menggabungkan kedua perspektif tersebut. Pengendalian anggaran dipandang sebagai mekanisme untuk menjaga penggunaan sumber daya, sementara integritas aset mencakup kondisi fisik, pemeliharaan, keselamatan, dan aspek ergonomis fasilitas kerja.
Pendekatan tersebut penting karena pengelolaan keuangan dan pengelolaan aset pada praktiknya saling berkaitan. Pengeluaran untuk pemeliharaan, pengadaan, maupun peningkatan fasilitas perlu disesuaikan dengan kemampuan anggaran dan kebutuhan operasional.
Melibatkan 85 Responden di PT Semen Tonasa
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi linear berganda. Data diperoleh dari 85 personel PT Semen Tonasa yang berasal dari bagian Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Produksi serta memiliki keterkaitan dengan pemantauan biaya.
Tiga aspek utama diukur dalam penelitian tersebut.
Pertama, Budgetary Control Rigor, yaitu tingkat kedisiplinan perusahaan dalam mengawasi anggaran. Indikatornya mencakup keterlibatan kepala departemen dalam anggaran, frekuensi pelaporan penyimpangan anggaran, serta akuntabilitas biaya.
Kedua, Ergonomic Asset Integrity, yaitu kondisi fisik dan fungsional fasilitas produksi dengan memperhatikan aspek pemeliharaan, keselamatan, dan desain tempat kerja yang dapat membantu mengurangi kesalahan manusia.
Ketiga, Production Cost Inefficiency, yang menggambarkan ketidakefisienan biaya produksi melalui indikator seperti pemborosan material, waktu berhenti produksi yang tidak direncanakan, dan perbedaan jam kerja.
Sebelum analisis utama dilakukan, instrumen penelitian diuji validitas dan reliabilitasnya. Seluruh 45 indikator kuesioner dinyatakan memenuhi kriteria validitas. Nilai Cronbach’s Alpha juga berada di atas batas yang digunakan peneliti, yaitu 0,60, dengan nilai 0,813 untuk pengendalian anggaran, 0,756 untuk integritas aset, dan 0,704 untuk ketidakefisienan biaya.
Pengendalian Anggaran Berkaitan dengan Penurunan Inefisiensi
Hasil regresi menunjukkan bahwa pengendalian anggaran memiliki koefisien -0,451. Artinya, peningkatan disiplin pengendalian anggaran berkaitan dengan penurunan tingkat ketidakefisienan biaya produksi ketika faktor lain dalam model dianggap tetap.
Hubungan tersebut juga signifikan secara statistik dengan nilai signifikansi 0,000, lebih kecil dari batas 0,05. Dengan demikian, pengendalian anggaran menjadi salah satu faktor yang memiliki hubungan nyata dengan efisiensi biaya dalam model yang digunakan.
Dalam konteks operasional, pengendalian anggaran yang konsisten dapat membantu organisasi mengawasi penggunaan sumber daya, mengenali penyimpangan biaya, dan memastikan pengeluaran tetap sesuai dengan perencanaan.
Integritas Aset Membawa Temuan yang Perlu Dicermati
Hasil untuk Ergonomic Asset Integrity menunjukkan koefisien 0,548 dengan nilai signifikansi 0,000. Secara statistik, variabel tersebut memiliki hubungan positif dan signifikan dengan ketidakefisienan biaya produksi.
Temuan ini tidak berarti bahwa pemeliharaan atau peningkatan kualitas aset secara langsung merugikan efisiensi. Para penulis justru membahas kemungkinan adanya kesenjangan antara peningkatan teknologi atau fasilitas dengan kesiapan manusia dan proses kerja.
Peningkatan atau pembaruan aset dapat membutuhkan proses adaptasi, pelatihan, serta penyesuaian pola kerja. Jika perubahan teknis tidak berjalan beriringan dengan kesiapan tenaga kerja, manfaat fasilitas baru belum tentu langsung tercermin dalam efisiensi operasional.
Dengan kata lain, investasi aset perlu berjalan bersama pengembangan kemampuan pekerja dan penyesuaian proses kerja.
Dua Faktor Bersama Menjelaskan 37,5% Variasi Biaya
Ketika pengendalian anggaran dan integritas aset dianalisis secara bersamaan, hasil uji F menunjukkan nilai signifikansi 0,000. Ini menunjukkan bahwa kedua variabel secara simultan memiliki pengaruh signifikan terhadap ketidakefisienan biaya produksi dalam model penelitian.
Nilai Adjusted R Square sebesar 0,375 menunjukkan bahwa kedua faktor tersebut menjelaskan sekitar 37,5% variasi ketidakefisienan biaya produksi. Sementara itu, 62,5% sisanya berasal dari faktor lain yang tidak dimasukkan ke dalam model.
Faktor lain tersebut dapat berkaitan dengan kondisi pasar, harga bahan baku, energi, rantai pasok, budaya organisasi, serta berbagai faktor eksternal lainnya. Penulis merekomendasikan agar penelitian berikutnya memasukkan variabel tambahan dan menggunakan pengamatan dalam periode yang lebih panjang.
Menggabungkan Anggaran, Aset, dan Kesiapan SDM
Bagi manajemen industri, temuan ini menunjukkan pentingnya pendekatan yang terintegrasi. Penghematan biaya tidak cukup dilakukan hanya dengan memperketat anggaran, begitu pula investasi aset perlu disertai pengelolaan sumber daya manusia dan proses operasional yang sesuai.
Khaerun Nisa SH, Irene Ipal Parinding, dan Aisyah Zarkasi dari Universitas Negeri Makassar merekomendasikan penguatan akuntabilitas biaya, sinkronisasi jadwal pemeliharaan dengan pelatihan tenaga kerja, serta penggunaan dashboard digital untuk memantau kondisi keuangan dan aset secara bersamaan.
Pendekatan tersebut dapat membantu perusahaan melihat hubungan antara kondisi anggaran dan kondisi aset secara lebih cepat. Data operasional juga dapat digunakan untuk mengantisipasi potensi kenaikan biaya sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Secara lebih luas, artikel ini memberikan gambaran bahwa efisiensi produksi merupakan hasil dari kombinasi antara disiplin keuangan, pengelolaan aset, kesiapan tenaga kerja, dan kemampuan perusahaan membaca perubahan kondisi operasional.
Profil Penulis
Khaerun Nisa SH, Irene Ipal Parinding, dan Aisyah Zarkasi merupakan penulis dari Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Makassar. Artikel mereka membahas bidang akuntansi manajemen, pengendalian anggaran, integritas aset, dan efisiensi biaya produksi pada industri manufaktur.
Sumber Penelitian
Judul artikel: The Algorithmic Synergy of Budgetary Control Rigor and Ergonomic Asset Integrity in Mitigating Production Cost Inefficiency
Penulis: Khaerun Nisa SH, Irene Ipal Parinding, Aisyah Zarkasi
Jurnal: International Journal of Finance and Business Management (IJFBM)
Tahun: 2026
Volume: 3, Nomor 3, halaman 271–288
DOI: 10.59890/ijfbm.v4i3.4

0 Komentar