UMKM memiliki posisi penting dalam perekonomian Indonesia. Berdasarkan data yang dikutip dalam artikel, Indonesia memiliki sekitar 65,4 juta UMKM atau hampir 99 persen dari seluruh unit usaha. Sektor ini juga menyumbang sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto berdasarkan data 2022. Namun, perubahan perilaku konsumen, persaingan digital, dan perkembangan teknologi membuat UMKM perlu menyesuaikan cara mereka menciptakan dan memberikan nilai kepada pelanggan.
AI menawarkan berbagai kemampuan yang relevan dengan kebutuhan tersebut. Teknologi ini dapat membantu mengotomatisasi pekerjaan, menganalisis data, mempersonalisasi layanan, memprediksi kondisi pasar, serta memberikan dukungan dalam pengambilan keputusan. Meski demikian, penerapannya tidak selalu mudah. Literasi digital, keterampilan tenaga kerja, infrastruktur, modal, kualitas data, dan kesiapan organisasi menjadi sejumlah faktor yang menentukan keberhasilan penggunaan AI di UMKM.
Penelitian Melibatkan 15 Informan
Hartutik dan tim menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk memahami bagaimana AI diintegrasikan ke dalam aktivitas bisnis UMKM. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan 15 informan yang terdiri atas 10 pemilik atau manajer UMKM, tiga pendamping usaha, dan dua praktisi teknologi. Informan UMKM dipilih berdasarkan pengalaman menjalankan usaha minimal dua tahun, telah menggunakan sedikitnya satu aplikasi berbasis AI selama enam bulan, serta terlibat langsung dalam pengambilan keputusan bisnis.
Wawancara berlangsung sekitar 45–60 menit dan diperkuat dengan observasi serta dokumentasi, seperti materi pemasaran, laporan penjualan, tangkapan layar aplikasi, dan dokumen proses bisnis. Data kemudian dianalisis secara tematik menggunakan NVivo 14 untuk membantu mengelompokkan kode dan tema. Penafsiran akhir tetap dilakukan oleh peneliti.
Hasil analisis menghasilkan enam tema utama, yakni integrasi AI secara bertahap, efisiensi operasional, personalisasi pemasaran dan inovasi layanan, pengambilan keputusan berbasis data, perubahan model bisnis dan daya saing, serta kesiapan sumber daya dan pengawasan manusia.
AI Biasanya Dimulai dari Masalah Sederhana
Temuan penelitian menunjukkan bahwa UMKM umumnya tidak memulai penerapan AI dengan rencana transformasi bisnis yang kompleks. Penggunaan pertama lebih sering muncul dari kebutuhan sederhana, seperti mencari ide konten, membuat materi promosi, mengelola media sosial, menjawab pertanyaan pelanggan, atau mengurangi pekerjaan administratif yang berulang.
Setelah merasakan manfaat awal, sebagian pelaku usaha memperluas penggunaan AI untuk membuat deskripsi produk, mengelompokkan pertanyaan pelanggan, membaca pola penjualan, memperkirakan kebutuhan stok, hingga membantu pengambilan keputusan. Dengan demikian, adopsi AI berlangsung secara bertahap, dari pekerjaan yang mudah dan berisiko rendah menuju fungsi bisnis yang lebih strategis.
Dwi Hartutik dan rekan-rekannya menemukan bahwa efisiensi operasional menjadi manfaat yang paling sering dirasakan informan. AI membantu mempercepat pembuatan materi promosi, menyusun jawaban pelanggan, membuat rangkuman penjualan, mengelompokkan informasi, dan mengurangi pekerjaan berulang. Dampaknya terutama terasa pada UMKM dengan jumlah pekerja terbatas karena pemilik sering menjalankan beberapa fungsi bisnis sekaligus.
Namun, penggunaan AI tidak otomatis membuat pekerjaan lebih cepat sejak hari pertama. Pelaku usaha tetap membutuhkan waktu untuk belajar memberikan instruksi yang tepat, memeriksa hasil, dan menyesuaikannya dengan karakter bisnis. Karena itu, efisiensi AI sangat bergantung pada kemampuan pengguna dalam memilih dan mengintegrasikan hasil teknologi ke dalam alur kerja.
Pemasaran Menjadi Lebih Personal
AI juga mengubah cara UMKM berkomunikasi dengan pelanggan. Sebelum menggunakan AI, materi promosi cenderung dibuat secara umum untuk semua pelanggan. Setelah menggunakan AI, pelaku usaha mulai menyesuaikan pesan berdasarkan kelompok pelanggan, jenis produk, waktu promosi, dan karakter media yang digunakan.
Teknologi ini juga digunakan untuk membantu memberikan respons awal terhadap pertanyaan pelanggan. Pertanyaan sederhana dapat dijawab lebih cepat, sementara keluhan, negosiasi, atau kebutuhan khusus tetap ditangani manusia. Pola tersebut menunjukkan bahwa AI tidak harus menggantikan hubungan langsung antara UMKM dan pelanggan, tetapi dapat membantu mempercepat bagian layanan yang bersifat rutin.
Dari Intuisi Menuju Keputusan Berbasis Data
Perubahan lain terlihat pada pengambilan keputusan. Sebagian pelaku UMKM sebelumnya lebih banyak mengandalkan pengalaman dan intuisi. Ketika data penjualan, aktivitas promosi, dan interaksi pelanggan mulai terdokumentasi, AI dapat digunakan untuk membaca pola dan memberikan alternatif tindakan.
Meski demikian, AI tidak menjadi pengambil keputusan terakhir. Rekomendasi teknologi tetap dibandingkan dengan kondisi pasar, kemampuan produksi, ketersediaan bahan baku, serta informasi yang diperoleh langsung dari pelanggan dan pemasok. Kualitas data juga menjadi faktor penting. Data yang tidak konsisten atau tidak lengkap dapat menghasilkan analisis dan rekomendasi yang kurang relevan.
Tidak Semua UMKM Langsung Mengalami Kenaikan Penjualan
Penelitian ini memberikan catatan penting: peningkatan efisiensi akibat AI tidak selalu langsung menghasilkan kenaikan omzet. Manfaat awal lebih banyak terlihat pada keteraturan proses bisnis, konsistensi pemasaran, kecepatan layanan, dan tersedianya waktu untuk pekerjaan yang membutuhkan kreativitas serta interaksi manusia.
Integrasi AI juga mulai mengubah sejumlah unsur model bisnis, terutama aktivitas utama, hubungan dengan pelanggan, saluran pemasaran, proposisi nilai, dan pembagian pekerjaan. Namun, perubahan sumber pendapatan belum terjadi secara merata. Sebagian UMKM masih menggunakan AI sebatas untuk meningkatkan aktivitas yang sudah berjalan.
Menurut Hartutik dan tim, AI dapat berkembang dari sekadar alat untuk menambah kemampuan pekerjaan menjadi bagian dari proses bisnis dan akhirnya mendorong pembaruan model bisnis. Namun, tidak semua UMKM telah mencapai tahap tersebut.
Literasi Digital dan Kualitas Data Menjadi Kunci
Keterbatasan pengetahuan digital menjadi salah satu hambatan utama. Pelaku usaha juga menghadapi persoalan kualitas data, keterbatasan tenaga kerja, ketergantungan pada koneksi internet, biaya, serta keraguan terhadap akurasi hasil AI. Keamanan dan privasi data pelanggan juga perlu diperhatikan karena sebagian pelaku usaha belum memiliki aturan khusus mengenai informasi yang boleh dimasukkan ke aplikasi AI.
Karena itu, peneliti merekomendasikan penerapan AI secara bertahap. Tahap pertama adalah mengidentifikasi masalah bisnis, kemudian memilih aplikasi sesuai kemampuan usaha, menguji teknologi pada aktivitas terbatas, mengintegrasikannya ke dalam proses kerja, dan terakhir mengevaluasi manfaat serta risikonya sebelum memperluas penggunaan.
Bagi pemerintah, perguruan tinggi, pendamping UMKM, dan penyedia teknologi, hasil ini menunjukkan pentingnya memperkuat literasi AI, pelatihan berbasis kebutuhan bisnis, pendampingan pengelolaan data, serta penyediaan teknologi yang terjangkau. Bagi pelaku UMKM, AI sebaiknya dipandang sebagai alat bantu strategis yang bekerja bersama manusia, bukan sebagai pengganti seluruh proses pengambilan keputusan.
Profil Penulis
Penelitian ini ditulis oleh Dwi Hartutik, Novelma Lastri, Andi Desy Musdiana, Suprasman, dan Variza Aditiya, yang seluruhnya berafiliasi dengan STIA Lancang Kuning Dumai. Artikel mencantumkan Dwi Hartutik sebagai penulis korespondensi. Informasi gelar akademik dan bidang keahlian spesifik masing-masing penulis tidak dicantumkan dalam artikel yang tersedia, sehingga tidak dapat ditambahkan tanpa sumber pendukung.
0 Komentar