Bahasa Tubuh Tari Tor-Tor Batak Toba Terkuak, Studi Universitas Negeri Medan Ungkap Rahasia Komunikasi Nonverbal Warisan Budaya


Medan, Formosa News – Gerakan jemari dan lenggok tubuh dalam seni tari tradisional Tor-Tor masyarakat Batak Toba ternyata menyimpan sistem bahasa nonverbal yang sangat terstruktur. Temuan riset terbaru dari akademisi Universitas Negeri Medan (Unimed)—Syamsul Bahri, Elisa Betty Manullang, Femi C.E. Pakpahan, Aqila Adha Br Tanjung, dan Septian Markus Pasaribu—yang dipublikasikan pada Februari 2026, berhasil mengidentifikasi dan membedah makna simbolis di balik gerakan tari Batak Toba. Penelitian ini membuktikan bahwa tarian tradisional tidak sekadar pertunjukan seni, melainkan media komunikasi budaya antargenerasi yang hidup dan adaptif di era modern.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan sosial, pelestarian identitas budaya lokal sering kali menghadapi tantangan. Banyak pertunjukan seni tradisional kini dinikmati sebatas keindahan visualnya saja, tanpa dipahami pesan moral dan spiritual yang terkandung di dalamnya. Bagi masyarakat Batak Toba di Sumatera Utara, gerakan tari atau Tor-Tor merupakan warisan leluhur yang mengekspresikan nilai sosial, doa, hingga filsafat hidup. Untuk menjembatani celah pemahaman tersebut, tim peneliti Unimed melakukan kajian ilmiah guna membongkar kode-kode komunikasi nonverbal yang tersembunyi dalam setiap lengkangan tangan dan ritme langkah kaki para penari.

Dalam melaksanakan studi ini, para peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif yang dipadukan dengan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Peneliti menganalisis secara mendalam rekaman dari 10 video pertunjukan tari Tor-Tor terkemuka, seperti Sinanggar Tulo, Sipitu Sawan, Emma Da Tutu, Kijom-Kijom, Sapele Sapele Si Ria Ria, Alusi Au, hingga Anakkon Hi Do Hamoraon Di Au. Gerakan tubuh dalam tarian-tarian tersebut kemudian diklasifikasikan ke dalam empat kategori gestures utama berdasarkan teori David McNeill.

Dari hasil analisis terhadap puluhan unit data gerakan, penelitian ini mencatat empat kategori gesture utama dalam tari Batak Toba dengan sebaran persentase sebagai berikut:

  • Gerakan Ikonik (Iconic Gestures - 35%): Gerakan yang secara visual menirukan aksi atau objek nyata. Contohnya terlihat pada Tari Sipitu Sawan (Pangurason) yang menampilkan gerakan menadah tangan seolah menuangkan air ke tubuh sebagai simbol penyucian jiwa dan pembersihan diri dari energi negatif. Sementara pada Tari Emma Da Tutu, penari menirukan gerakan menumbuk padi atau mengolah tanah sebagai penghormatan terhadap kerja keras masyarakat agraris.
  • Gerakan Metaforis (Metaphoric Gestures - 35%): Gerakan abstrak yang melambangkan konsep emosional atau filosofis yang tidak berwujud. Pada Tari Anakkon Hi Do Hamoraon Di Au, gerakan menimang lengan melambangkan kasih sayang dan perlindungan orang tua terhadap anak sebagai harta paling berharga. Sedangkan pada Tari Alusi Au, ayunan lembut tangan yang terulur ke depan menjadi lambang kerinduan dan kesetiaan hati.
  • Gerakan Ritmis (Beat Gestures - 16%): Gerakan berulang yang diselaraskan dengan tempo musik gondang untuk menjaga ketukan dan membangun dinamika emosional pertunjukan. Gerakan menghentakkan kaki dan menaik-turunkan tangan pada Tor-Tor Ni Halak Batak menjadi penanda semangat dan daya juang masyarakat Batak.
  • Gerakan Penunjuk (Deictic Gestures - 14%): Gerakan mengarahkan perhatian ke ruang, penonton, atau sesama penari. Pada Tari Kijom-Kijom dan Sapele Sapele Si Ria Ria, gerakan menunjuk ke arah penonton bermakna keterbukaan, kehangatan, serta ajaran untuk menjunjung tinggi kebersamaan (marsiadapari).

Hasil riset ini memberikan implikasi penting bagi pelestarian budaya, dunia pendidikan, dan industri kreatif. Memahami makna semiotika tari tradisional memungkinkan masyarakat umum dan generasi muda mengapresiasi karya seni tidak hanya dari segi estetika, tetapi juga dari nilai filosofisnya. Di bidang pendidikan, temuan ini dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum seni budaya dan antropologi untuk memperkuat identitas nasional. Bagi pembuat kebijakan dan pelaku pariwisata, pemahaman mendalam tentang simbolisme tari Tor-Tor menjadi modal kuat dalam mempromosikan pariwisata berbasis warisan budaya (cultural heritage) yang otentik dan edukatif.

"Gerakan dalam tari Tor-Tor Batak Toba merupakan bahasa komunikasi nonverbal yang sangat kaya. Dominasi gerakan ikonik dan metaforis membuktikan bahwa tarian ini adalah sarana menyampaikan tuturan doa, ajaran moral, serta penghormatan kepada leluhur yang terus hidup dan menyesuaikan diri dengan zaman," ujar Syamsul Bahri selaku ketua tim peneliti dari Universitas Negeri Medan.

Profil Penulis

Penelitian ini disusun oleh tim akademisi dari Universitas Negeri Medan (Unimed):

  • Syamsul Bahri, S.SS., M.Hum. – Penulis korespondensi, dosen, dan peneliti di bidang kebudayaan dan analisis semiotika, Universitas Negeri Medan.
  • Elisa Betty Manullang – Peneliti dan akademisi bidang seni dan budaya, Universitas Negeri Medan.
  • Femi C.E. Pakpahan – Peneliti dan akademisi studi bahasa dan sastra, Universitas Negeri Medan.
  • Aqila Adha Br Tanjung – Peneliti dan akademisi studi bahasa dan sastra, Universitas Negeri Medan.
  • Septian Markus Pasaribu – Peneliti dan akademisi studi bahasa dan pertunjukan seni, Universitas Negeri Medan.

Sumber Penelitian

 


Posting Komentar

0 Komentar