Analisis Keuangan dan Pemasaran Pakkat dari Rattan Seel (Daemonorops Melanochaetes Bl.) di Kecamatan Simangambat, Kabupaten Padang Lawas Utara

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Sumatera Utara - Usaha pengolahan tunas rotan muda atau pakkat (Daemonorops melanochaetes Bl.) terbukti secara finansial sangat layak dan menguntungkan sebagai sumber pendapatan masyarakat di pedesaan. Temuan ini diungkapkan dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh empat peneliti dari Universitas Sumatera Utara (USU), yaitu Yunus Afifuddin, Rosadi Patra Tanjung, Agus Purwoko, dan Hafnita Misrawati Harahap. Penelitian yang dipublikasikan pada Januari 2026 ini menyoroti potensi ekonomi hasil hutan bukan kayu di Kecamatan Simangambat, Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara dalam penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR). Hasil studi ini menjadi penting karena memberikan bukti ilmiah bahwa komoditas tradisional yang selama ini dianggap bernilai jual rendah ternyata mampu menopang perekonomian warga lokal secara berkelanjutan.

Masyarakat di sekitar kawasan hutan kerap menggantungkan hidup pada hasil hutan tradisional. Di wilayah Tapanuli dan sekitarnya, bagian pucuk rotan muda sepanjang kurang lebih satu meter diolah menjadi hidangan khas bernama pakkat. Permintaan terhadap kuliner ini melonjak drastis pada momen tertentu seperti bulan Ramadan, tetapi cenderung menurun pada hari biasa. Kurangnya informasi akurat mengenai nilai ekonomi dan tingkat efisiensi pemasarannya membuat sebagian besar masyarakat enggan mengembangkan usaha pakkat secara konsisten di luar musim puncak.

Untuk mengukur kelayakan bisnis tersebut, tim peneliti Universitas Sumatera Utara mengumpulkan data dari 27 kepala keluarga pengrajin pakkat di empat desa utama (Tanjung Botung, Ulok Tano, Pagaran Tonga, dan Tanjung Maria) serta para pelaku rantai pemasaran. PendApproach metode analisis yang digunakan meliputi perhitungan total biaya dan penerimaan, rasio penerimaan terhadap biaya (Revenue Cost Ratio atau R/C), titik impas (Break Even Point atau BEP), periode pengembalian modal (Payback Period), serta margin dan efisiensi pemasaran.

Penelitian ini menghasilkan sejumlah temuan utama terkait kinerja keuangan dan rantai pasok pakkat:

  • Keuntungan dan Kelayakan Finansial: Dalam satu siklus produksi (selama empat hari), total biaya yang dikeluarkan pengrajin adalah Rp474.270,83. Dengan hasil panen mencapai 1.200 batang dan harga jual Rp600 per batang, penerimaan kotor mencapai Rp720.000,00 sehingga menghasilkan pendapatan bersih Rp245.729,17 per produksi.
  • Nilai Rasio R/C di Atas Satu: Nilai R/C tercatat sebesar 1,5. Angka di atas nilai 1 ini membuktikan secara jelas bahwa usaha pengolahan pakkat memberikan nilai tambah dan keuntungan finansial yang pasti.
  • Titik Impas dan Pengembalian Modal Cepat: Batas impas produksi (BEP Unit) berada pada tingkat 790 batang dan impas harga (BEP Price) sebesar Rp392,50 per batang. Karena volume produksi aktual (1.200 batang) dan harga pasar (Rp600) berada jauh di atas titik impas, usaha ini aman dari risiko kerugian. Modal investasi awal juga tergolong sangat cepat kembali, yaitu hanya membutuhkan waktu 2,71 kali siklus produksi.
  • Rantai Pemasaran Efektif: Teridentifikasi dua jalur distribusi utama, yakni Jalur I (Petani $\rightarrow$ Pengumpul $\rightarrow$ Konsumen) dan Jalur II (Petani $\rightarrow$ Pengumpul $\rightarrow$ Pengecer $\rightarrow$ Konsumen). Total margin pemasaran pada kedua jalur adalah Rp900 per batang dengan farmer's share sebesar 40%.
  • Tingkat Efisiensi Pemasaran Tinggi: Seluruh rantai pemasaran dikategorikan efisien karena memiliki nilai mark-up harga jual di bawah 50% (33% pada tingkat pengumpul dan 40% pada tingkat pengecer).
Dampak dari hasil penelitian ini sangat signifikan bagi penguatan ekonomi masyarakat pedesaan, sektor UMKM berbasis sumber daya alam, serta formulasi kebijakan kehutanan masyarakat. Informasi kelayakan bisnis ini memberikan kepastian bagi warga lokal untuk menjadikan pemanenan dan pengolahan pakkat sebagai mata pencaharian yang stabil, bukan sekadar usaha musiman. Di sisi lain, temuan bahwa efisiensi pemasaran tergolong tinggi memberikan jaminan bagi para pedagang bahwa rantai pasok hasil hutan non-kayu ini terdistribusi dengan baik dari hutan hingga tangan konsumenGuna memperkuat manfaat temuan ini, peneliti dari Universitas Sumatera Utara menegaskan pentingnya pemanfaatan pakkat secara berkelanjutan. "Hasil analisis finansial dan pemasaran menunjukkan bahwa pakkat sebagai produk hasil hutan bukan kayu memiliki potensi ekonomi yang nyata serta struktur pemasaran yang efisien di Kecamatan Simangambat," ungkap Yunus Afifuddin dan tim peneliti USU dalam laporan studinya.

Profil Peneliti
Yunus Afifuddin: Peneliti dari Universitas Sumatera Utara yang berfokus pada bidang manajemen sumber daya hutan dan ekonomi kehutanan.
Rosadi Patra Tanjung: Dosen dan peneliti di Universitas Sumatera Utara dengan keahlian dalam analisis sosial ekonomi kehutanan dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu.
Agus Purwoko: Akademisi dari Universitas Sumatera Utara yang mendalami keahlian di bidang tata kelola lingkungan, konservasi sumber daya alam, dan ekonomi masyarakat sekitar hutan.
Hafnita Misrawati Harahap: Peneliti Universitas Sumatera Utara yang berfokus pada bidang analisis finansial usaha kecil berbasis hasil hutan dan strategi pemasaran komoditas lokal.

Sumber Penelitian
Yunus Afifuddin, Rosadi Patra Tanjung, Agus Purwoko, Hafnita Misrawati Harahap. Financial Analysis and Marketing of Pakkat from Rattan Seel (Daemonorops Melanochaetes Bl.) in Simangambat District, North Padang Lawas Regency. International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR). Vol. 4, No. 1 2026, Halaman 69–76.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i1.875
URL: https://mryformosapublisher.org/index.php/ijsmr

Posting Komentar

0 Komentar