Penelitian ini berangkat dari persoalan yang sering dihadapi investor. Analisis fundamental dapat membantu menilai kesehatan dan kualitas bisnis perusahaan dalam jangka panjang, tetapi tidak selalu menjawab kapan saham sebaiknya dibeli. Sebaliknya, analisis teknikal dapat membaca tren dan momentum harga, tetapi tidak secara langsung mengukur kekuatan keuangan perusahaan.
Kondisi tersebut menjadi penting di pasar modal Indonesia yang semakin berkembang. LQ45 menjadi salah satu indeks yang banyak diperhatikan karena berisi perusahaan dengan likuiditas tinggi, kapitalisasi pasar besar, dan kinerja yang relatif kuat. Namun, status sebagai anggota LQ45 tidak otomatis berarti seluruh saham di dalamnya memiliki daya tarik investasi yang sama. Perbedaan kinerja keuangan dan pergerakan harga membuat investor tetap membutuhkan proses seleksi.
Menggabungkan Dua Cara Membaca Saham
Haeqal dan Patrisia menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan data sekunder. Laporan tahunan perusahaan diperoleh dari Bursa Efek Indonesia, sementara data historis harga saham berasal dari TradingView, RTI Business, dan Stockbit. Periode pengamatan mencakup 2022 hingga 2025.
Proses analisis dilakukan secara bertahap. Perusahaan terlebih dahulu disaring berdasarkan pertumbuhan pendapatan. Setelah itu, kinerja keuangannya dibandingkan menggunakan 10 indikator fundamental, yaitu Price Earnings Ratio (PER), Book Value per Share (BVPS), Return on Equity (ROE), Dividend Payout Ratio (DPR), Dividend Yield (DY), Price to Book Value (PBV), Current Assets (CA), Gross Debt to Sales (GDS), Current Ratio (CR), dan Earnings per Share (EPS).
Setiap indikator kemudian dibandingkan dengan rata-rata industri. Perusahaan memperoleh skor 1 apabila kinerjanya melampaui tolok ukur industri dan skor 0 apabila tidak. Total skor digunakan untuk menentukan peringkat perusahaan sebelum saham dengan skor tertinggi dibawa ke tahap analisis teknikal.
Pada tahap teknikal, peneliti menggunakan Moving Average atau MA, Moving Average Convergence Divergence (MACD), dan Bollinger Bands. Ketiga indikator tersebut digunakan untuk melihat arah tren harga, momentum pasar, dan tingkat volatilitas. Hasilnya kemudian diterjemahkan menjadi sinyal Buy, Hold, atau Sell.
Enam Saham Lolos Penyaringan Fundamental
Dari 45 perusahaan yang menjadi anggota LQ45, sebanyak 27 perusahaan tercatat konsisten berada dalam indeks selama periode 2022–2025. Setelah mempertimbangkan kelengkapan laporan keuangan, data harga historis, dan pertumbuhan pendapatan positif, 22 perusahaan memenuhi kriteria penyaringan awal. Selanjutnya, perusahaan dengan skor fundamental tertinggi dipilih untuk analisis teknikal.
Enam saham yang terpilih adalah:
- AMRT – PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, sektor ritel.
- ANTM – PT Aneka Tambang Tbk, sektor bahan dasar.
- BBCA – PT Bank Central Asia Tbk, sektor keuangan.
- BBRI – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, sektor keuangan.
- BMRI – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, sektor keuangan.
- ICBP – PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, sektor barang konsumen non-siklis.
Dalam tabel penilaian fundamental, ANTM memperoleh skor tertinggi dengan nilai 8. AMRT dan ICBP masing-masing mencatat skor 7, sedangkan BBCA, BBRI, dan BMRI masing-masing memperoleh skor 6.
Peneliti kemudian menemukan bahwa keenam saham tersebut juga memperlihatkan kondisi teknikal yang mendukung. AMRT menunjukkan tren harga positif dengan dukungan EMA dan MACD. ANTM memperlihatkan tren naik dan momentum positif. BBCA, BBRI, dan BMRI juga menunjukkan tren meningkat dengan momentum positif, sementara ICBP memperlihatkan momentum positif dan volatilitas yang relatif moderat.
BBCA Menjadi Contoh Sinyal Buy
BBCA digunakan sebagai contoh penerapan kerangka keputusan investasi terintegrasi. Saham ini memperoleh skor fundamental 6 dan sekaligus mendapatkan sinyal teknikal Buy. Karena kedua hasil tersebut mendukung, BBCA diklasifikasikan sebagai Buy dalam contoh keputusan investasi penelitian.
Grafik pada halaman 11 artikel memperlihatkan analisis BBCA menggunakan MA, MACD, dan Bollinger Bands. Harga saham berada di atas MA, yang menunjukkan tren bullish. MACD juga menunjukkan bullish crossover dengan histogram positif, sedangkan Bollinger Bands menunjukkan harga berada di kisaran atas tetapi belum memasuki kondisi overbought ekstrem. Kombinasi tersebut dinilai memberikan kondisi pasar yang mendukung untuk memulai atau mempertahankan posisi investasi.
Menurut Haeqal dan Patrisia dari Universitas Negeri Padang, kekuatan utama pendekatan ini terletak pada urutan analisisnya: fundamental digunakan terlebih dahulu untuk menemukan perusahaan yang sehat secara keuangan, kemudian analisis teknikal digunakan untuk menilai apakah kondisi pasar mendukung pelaksanaan transaksi.
Bukan Jaminan Keuntungan
Temuan penelitian tidak berarti keenam saham tersebut otomatis akan menghasilkan keuntungan atau selalu menjadi pilihan terbaik bagi investor. Studi justru menekankan bahwa perusahaan dengan fundamental kuat belum tentu menjadi kesempatan beli pada setiap waktu. Sentimen pasar, momentum harga, dan perubahan jangka pendek dapat membuat harga saham bergerak berbeda dari nilai fundamentalnya.
Bagi investor, kerangka tersebut menawarkan cara yang lebih sistematis untuk menghindari keputusan yang hanya didasarkan pada satu jenis indikator. Analisis fundamental membantu menjawab “perusahaan mana yang layak diperhatikan?”, sedangkan analisis teknikal membantu menjawab “bagaimana kondisi pasar saat keputusan transaksi akan dilakukan?”
Meski demikian, penelitian memiliki keterbatasan. Analisis hanya mencakup perusahaan yang konsisten berada di LQ45 selama 2022–2025 serta menggunakan 10 rasio fundamental dan tiga indikator teknikal. Peneliti menyarankan studi berikutnya memperpanjang periode pengamatan, memperluas sampel ke indeks dan sektor lain, serta memasukkan faktor makroekonomi seperti inflasi, suku bunga, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi. Penggunaan indikator teknikal tambahan, kecerdasan buatan, dan machine learning juga dinilai dapat menjadi arah penelitian selanjutnya.
Profil Penulis
Muhammad Arif Haeqal — penulis utama dan corresponding author, Program Magister Manajemen, Universitas Negeri Padang.
Dina Patrisia — penulis kedua, Program Magister Manajemen, Universitas Negeri Padang.
Artikel sumber tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian spesifik masing-masing penulis di luar afiliasi Program Magister Manajemen. Karena itu, informasi tersebut tidak ditambahkan untuk menghindari klaim yang tidak didukung sumber.
Sumber Penelitian
Judul: Integration of Fundamental and Technical Analysis for Stock Investment Decision Making: Evidence from LQ45 Companies Listed on the Indonesia Stock Exchange
0 Komentar