Analisis Alat Berat Berpotensi Memangkas 40 Hari Rekonstruksi Jalan Hayupi

Illustration by Ai

Sebuah studi yang dilakukan Ahmad Jabar Albanjari dan H. Muhammad Humaidi dari Politeknik Negeri Banjarmasin menemukan bahwa optimalisasi kombinasi alat berat berpotensi memangkas waktu penyelesaian Proyek Rekonstruksi Jalan Hayupi di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, dari 180 menjadi 140 hari kalender. Studi yang diterbitkan pada 2026 dalam International Journal of Integrative Research (IJIR) juga menghitung total anggaran operasional alat berat sebesar Rp4,64 miliar untuk lima pekerjaan utama. Temuan ini menunjukkan bahwa pere
ncanaan alat berat yang lebih tepat dapat membantu kontraktor mengurangi keterlambatan, waktu menganggur mesin, dan biaya operasional yang tidak perlu.

Mengapa Alat Berat Penting dalam Pembangunan Jalan?

Infrastruktur jalan memiliki peran penting, terutama di wilayah pedesaan dan berbukit seperti Kabupaten Banjar. Jaringan jalan yang andal dapat meningkatkan mobilitas masyarakat, mengurangi keterisolasian wilayah, serta mendukung distribusi kebutuhan pokok dan komoditas daerah.

Namun, proyek rekonstruksi jalan dapat mengalami keterlambatan ketika jumlah dan jenis alat berat yang digunakan tidak sesuai dengan beban pekerjaan. Excavator, dump truck, bulldozer, motor grader, vibratory roller, dan rock drill breaker harus bekerja sebagai satu sistem yang saling mendukung. Jika salah satu alat bekerja lebih lambat dibandingkan alat lainnya, alat tersebut dapat menjadi bottleneck atau titik hambatan yang membatasi produktivitas seluruh kelompok kerja.

Albanjari dan Humaidi menjelaskan bahwa alat berat dapat menyerap sekitar 25% hingga 45% dari total nilai kontrak proyek konstruksi. Produktivitas aktual alat juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi medan, keterampilan operator, manajemen pekerjaan, waktu siklus, cuaca, serta karakteristik tanah dan batuan setempat.

Dalam proyek Jalan Hayupi, analisis difokuskan pada segmen efektif sepanjang 300 meter, yaitu STA 0+650 hingga STA 1+150 di Desa Bunglai, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar. Lima pekerjaan utama yang dianalisis adalah pembersihan lahan dan stripping, penggalian tanah biasa, penggalian batu, penimbunan material hasil galian, serta pekerjaan lapis pondasi agregat Kelas A.

Bagaimana Analisis Dilakukan?

Albanjari dan Humaidi menggunakan data sekunder dari dokumen proyek. Data tersebut mencakup Bill of Quantities (BoQ), spesifikasi alat berat, rencana kurva-S, harga bahan bakar solar, biaya pelumas, serta upah tenaga kerja.

Para peneliti menghitung produktivitas setiap alat berat per jam dengan mempertimbangkan faktor seperti waktu siklus, kapasitas alat, dan efisiensi kerja. Mereka kemudian menghitung biaya operasional per jam dengan menggabungkan biaya sewa alat, bahan bakar, pelumas, serta upah operator dan pengawas.

Tahap berikutnya berfokus pada identifikasi bottleneck. Peneliti tidak hanya menjumlahkan kapasitas teoritis seluruh alat, tetapi menentukan alat yang memiliki kapasitas produksi gabungan paling rendah pada setiap jenis pekerjaan. Kapasitas tersebut kemudian menjadi faktor utama dalam menentukan durasi pekerjaan secara realistis.

Pendekatan yang digunakan mengacu pada prinsip produktivitas alat berat dan perhitungan biaya konstruksi yang merujuk pada Peraturan Menteri PUPR Nomor 1 Tahun 2022 dan Nomor 8 Tahun 2023.

Temuan Utama: Alat yang Menjadi Hambatan Berbeda pada Setiap Pekerjaan

Hasil analisis menunjukkan bahwa produktivitas alat berat berbeda-beda tergantung jenis pekerjaan.

Pada pekerjaan pembersihan lahan dan stripping, bulldozer Komatsu D85E-SS menjadi alat penentu dengan produktivitas 90,00 meter persegi per jam. Durasi yang diusulkan untuk pekerjaan ini adalah 18 hari.

Pada penggalian tanah biasa, excavator Hyundai HX 340SI menjadi alat penentu dengan kapasitas produksi gabungan 300,68 meter kubik per jam. Pekerjaan ini diperkirakan membutuhkan waktu 38 hari.

Sementara itu, penggalian batu menghadapi hambatan pada dump truck Hino 500. Kapasitas gabungannya hanya 27,24 meter kubik per jam, sehingga pekerjaan ini menjadi aktivitas terlama dengan estimasi 46 hari.

Untuk pekerjaan penimbunan material hasil galian, dump truck Hino 500 kembali menjadi alat penentu dengan kapasitas 99,87 meter kubik per jam. Pekerjaan tersebut diperkirakan hanya membutuhkan satu hari.

Pada pekerjaan lapis pondasi agregat Kelas A, dump truck Hino 500 juga menjadi bottleneck dengan kapasitas 45,04 meter kubik per jam dan durasi yang diusulkan selama sembilan hari.

Anggaran Alat Berat Mencapai Rp4,64 Miliar

Peneliti menghitung total anggaran operasional langsung alat berat untuk lima pekerjaan utama sebesar Rp4.642.172.450.

Biaya terbesar berasal dari pekerjaan penggalian batu yang mencapai sekitar Rp2,61 miliar, diikuti pekerjaan penggalian tanah biasa sebesar sekitar Rp1,62 miliar. Pekerjaan pembersihan lahan membutuhkan sekitar Rp275,31 juta, penimbunan material hasil galian sekitar Rp16,10 juta, sedangkan lapis pondasi agregat Kelas A sekitar Rp124,71 juta.

Untuk biaya per jam, penelitian mencatat biaya operasional excavator Hyundai HX 340SI sebesar Rp938.150 per jam. Dump truck Hino 500 mencapai Rp556.450 per jam, sedangkan bulldozer Komatsu D85E-SS sebesar Rp973.750 per jam.

Sementara itu, biaya operasional vibratory roller SAKAI diperkirakan sebesar Rp518.190 per jam, dan motor grader Komatsu GD511A sebesar Rp666.750 per jam.

Perhitungan tersebut mencakup biaya langsung seperti sewa alat, solar, pelumas, dan tenaga kerja. Peneliti tidak memasukkan biaya overhead umum proyek, mobilisasi dan demobilisasi, serta keuntungan kontraktor.

Optimalisasi Jadwal Menghemat 40 Hari

Temuan paling penting dari penelitian ini adalah potensi pengurangan waktu pelaksanaan proyek.

Dalam rencana awal melalui kurva-S, proyek dijadwalkan selesai dalam 180 hari kalender. Setelah produktivitas gabungan alat berat dianalisis dan titik-titik bottleneck diidentifikasi, durasi yang diusulkan dapat dikurangi menjadi 140 hari kalender.

Artinya, terdapat penghematan waktu sebesar 40 hari kalender atau 22,22% dari jadwal awal.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa proyek dengan alat berat yang besar dan berkapasitas tinggi belum tentu berjalan cepat apabila kapasitas setiap alat tidak seimbang. Sebagai contoh, excavator dapat bekerja dengan produktivitas tinggi, tetapi pekerjaan tetap melambat apabila jumlah dump truck tidak mampu mengangkut material yang dihasilkan.

Implikasi bagi Kontraktor dan Proyek Jalan

Temuan Albanjari dan Humaidi memberikan pelajaran praktis bagi kontraktor: pemilihan alat berat sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan kapasitas masing-masing mesin, tetapi juga bagaimana seluruh alat bekerja sebagai satu rangkaian.

Peneliti secara khusus merekomendasikan penambahan armada dump truck untuk pekerjaan penggalian batu dan lapis pondasi agregat. Peningkatan kapasitas transportasi material dapat membantu excavator dan motor grader bekerja lebih optimal tanpa terlalu banyak menunggu alat pengangkut.

Bagi proyek jalan di wilayah pedesaan, berbukit, atau memiliki kondisi medan yang kompleks, pendekatan ini dapat membantu kontraktor menyusun jadwal yang lebih realistis dan mengendalikan biaya alat berat. Analisis tersebut juga dapat membantu mengurangi waktu idle, meningkatkan pemanfaatan alat, serta menjadi dasar untuk menentukan kapan penambahan alat benar-benar diperlukan.

Namun, para peneliti juga merekomendasikan penelitian lanjutan yang menggunakan observasi langsung di lapangan. Faktor seperti curah hujan dan kehilangan waktu selama pekerjaan berlangsung dapat memengaruhi waktu siklus dan produktivitas aktual alat berat.

Profil Penulis

Ahmad Jabar Albanjari merupakan penulis pertama penelitian dan berafiliasi dengan Politeknik Negeri Banjarmasin.

H. Muhammad Humaidi juga berafiliasi dengan Politeknik Negeri Banjarmasin dan menjadi penulis korespondensi dalam artikel tersebut. Sumber artikel mencantumkan alamat kontaknya, yaitu m.humaidi@poliban.ac.id. Artikel yang tersedia tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian spesifik masing-masing penulis secara lebih rinci, sehingga informasi tersebut tidak dapat dikonfirmasi dari sumber.

Sumber Penelitian

Judul artikel: Analysis of Heavy Equipment Cost and Productivity Budget in the Hayupi Road Reconstruction Project, Banjar Regency

Penulis: Ahmad Jabar Albanjari dan H. Muhammad Humaidi

Afiliasi: Politeknik Negeri Banjarmasin

Jurnal: International Journal of Integrative Research (IJIR)

Volume: Vol. 4, No. 7

Tahun: 2026

Halaman: 489–496

DOI: 10.59890/ijir.v4i7.225

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa koordinasi dan optimalisasi alat berat dapat mempercepat pelaksanaan proyek jalan sekaligus memberikan dasar yang lebih jelas untuk mengendalikan biaya operasional. Dalam proyek Rekonstruksi Jalan Hayupi, optimalisasi yang diusulkan mampu memangkas estimasi waktu dari 180 menjadi 140 hari, atau menghemat 40 hari, dengan total anggaran operasional alat berat sebesar Rp4,64 miliar untuk lima pekerjaan yang dianalisis.

 


Posting Komentar

0 Komentar