AI Tidak Menggantikan Manajer, Penelitian Ungkap Keputusan Terbaik Tetap Memerlukan Penilaian Manusia

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Papua - Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin banyak digunakan untuk membantu perusahaan mengambil keputusan strategis. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa AI bukan pengganti manajer. Teknologi ini justru paling efektif ketika dipadukan dengan pengalaman, penilaian, dan tanggung jawab manusia. Temuan tersebut dipublikasikan pada 2026 oleh Junus Johanis Lunamasa dari Universitas Sepuluh Nopember Papua dalam Formosa Journal of Science and Technology (FJST). Penelitian ini penting karena menjelaskan bagaimana organisasi dapat memanfaatkan AI tanpa mengabaikan peran manusia sebagai pengambil keputusan utama.

Perkembangan AI telah mengubah cara perusahaan mengolah data, memprediksi tren, hingga menyusun strategi bisnis. Di berbagai sektor, mulai dari keuangan, pemasaran, sumber daya manusia, hingga operasional, AI mampu menyajikan analisis dalam waktu singkat dengan memanfaatkan data dalam jumlah besar. Namun, kemajuan teknologi tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Rekomendasi yang dihasilkan AI tidak selalu sesuai dengan kondisi nyata di lapangan sehingga tetap memerlukan interpretasi manusia sebelum dijadikan dasar pengambilan keputusan.

Menurut Lunamasa, kualitas keputusan organisasi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan algoritma, tetapi juga oleh kemampuan manajer memahami konteks organisasi, menilai validitas data, mempertimbangkan aspek etika, serta bertanggung jawab atas keputusan yang diambil. Karena itu, AI diposisikan sebagai alat pendukung, bukan sebagai pengganti manusia dalam proses manajerial.

Untuk memahami proses tersebut, penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sebanyak 18 manajer dari berbagai perusahaan yang telah menerapkan AI dalam fungsi manajerial diwawancarai secara mendalam menggunakan teknik wawancara semi-terstruktur. Para partisipan berasal dari perusahaan yang telah menggunakan AI setidaknya selama enam bulan dan memiliki pengalaman manajerial minimal dua tahun. Hasil wawancara kemudian dianalisis menggunakan thematic analysis guna menemukan pola berpikir para manajer saat memanfaatkan AI dalam pengambilan keputusan organisasi.

Penelitian menemukan lima faktor utama yang membentuk proses pengambilan keputusan berbasis AI di tingkat manajerial.

Pertama, literasi data menjadi fondasi utama. Sebanyak 16 dari 18 manajer menyatakan bahwa kemampuan membaca dashboard, memahami sumber data, dan mengevaluasi kualitas informasi sangat menentukan apakah rekomendasi AI layak digunakan. Para manajer tidak langsung menerima hasil analisis AI, melainkan memeriksa kembali asal-usul data serta kesesuaiannya dengan kondisi bisnis yang sedang dihadapi.

Kedua, pengalaman manajerial tetap memiliki peran dominan. Sebanyak 15 informan menilai pengalaman kerja, pemahaman terhadap budaya organisasi, serta pengetahuan mengenai karakter pasar menjadi faktor penting yang tidak dapat digantikan AI. Walaupun sistem mampu menghasilkan prediksi yang akurat, keputusan akhir tetap membutuhkan intuisi dan pemahaman terhadap kondisi yang tidak selalu dapat dibaca oleh algoritma.

Ketiga, validasi manusia merupakan tahap paling penting. Hampir seluruh responden, yaitu 17 dari 18 manajer, menyatakan bahwa rekomendasi AI selalu diperiksa kembali melalui perbandingan dengan data historis, diskusi internal, maupun konfirmasi kepada unit kerja terkait. AI dipandang sebagai pemberi alternatif keputusan, sedangkan keputusan final tetap berada di tangan manusia.

Keempat, kolaborasi lintas fungsi memperkuat kualitas keputusan. Penelitian menunjukkan bahwa pengambilan keputusan berbasis AI melibatkan kerja sama antara manajer, analis data, tim teknologi informasi, bagian operasional, pemasaran, hingga pimpinan organisasi. Setiap pihak memberikan perspektif berbeda sehingga keputusan menjadi lebih komprehensif dan realistis untuk diterapkan.

Kelima, etika dan akuntabilitas menjadi perhatian utama. Sebanyak 13 informan mengungkapkan kekhawatiran terhadap potensi bias algoritma, perlindungan data pribadi, transparansi rekomendasi AI, serta dampak keputusan terhadap karyawan maupun pelanggan. Mereka menegaskan bahwa tanggung jawab akhir tetap berada pada manajer, bukan pada sistem AI. Dengan kata lain, setiap keputusan harus dapat dijelaskan dan dipertanggungjawabkan kepada seluruh pemangku kepentingan.

Berdasarkan temuan tersebut, Lunamasa menggambarkan proses pengambilan keputusan berbasis AI dalam empat tahapan utama. Pertama, manajer memahami informasi yang diberikan AI. Kedua, informasi tersebut ditafsirkan sesuai kondisi organisasi. Ketiga, rekomendasi AI divalidasi melalui pengalaman, data pembanding, dan diskusi bersama berbagai pihak. Terakhir, keputusan diambil dengan mempertimbangkan manfaat, risiko, aspek etika, dan tanggung jawab organisasi. Pola ini menunjukkan bahwa AI mempercepat proses analisis, tetapi tidak mengambil alih fungsi berpikir strategis manusia.

Penelitian juga menemukan bahwa AI mampu meningkatkan kualitas keputusan organisasi melalui tiga manfaat utama, yaitu mempercepat akses terhadap informasi, memperkuat analisis berbasis data, dan mengurangi keputusan yang hanya didasarkan pada asumsi subjektif. Namun, manfaat tersebut baru dapat dirasakan apabila organisasi memiliki manajer yang mampu memahami keterbatasan AI serta melakukan validasi terhadap setiap rekomendasi yang dihasilkan sistem.

Temuan ini memberikan implikasi penting bagi dunia usaha dan organisasi. Investasi pada teknologi AI saja tidak cukup untuk meningkatkan kualitas keputusan. Perusahaan juga perlu memperkuat kompetensi manajer melalui peningkatan literasi data, pemahaman terhadap cara kerja algoritma, mekanisme validasi keputusan, serta penyusunan tata kelola AI yang berorientasi pada etika dan transparansi. Organisasi juga disarankan membangun kolaborasi yang lebih erat antara manajer, analis data, tim teknologi informasi, dan unit operasional agar pemanfaatan AI benar-benar memberikan nilai tambah bagi perusahaan.

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Jumlah partisipan masih terbatas pada 18 manajer sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasi untuk seluruh jenis organisasi. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan pendekatan campuran (mixed methods), melibatkan lebih banyak responden, serta membandingkan berbagai sektor industri seperti manufaktur, pendidikan, kesehatan, keuangan, dan layanan publik agar diperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara AI, literasi data, dan kualitas pengambilan keputusan.

Profil Penulis

Junus Johanis Lunamasa merupakan akademisi dari Universitas Sepuluh Nopember Papua. Bidang kajiannya berfokus pada manajemen strategis, perilaku organisasi, transformasi digital, dan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam pengambilan keputusan organisasi. Melalui penelitian ini, ia menegaskan bahwa masa depan organisasi tidak bergantung pada AI semata, tetapi pada kemampuan manusia memanfaatkan teknologi secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.

Sumber Penelitian

Lunamasa, J. J. (2026). Understanding Strategic Sensemaking of Managers in Artificial Intelligence Driven Organizational Decision Making. Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5 No. 7, 2045–2062. DOI: 10.55927/fjst.v5i7.131. URL : https://journalfjst.my.id/index.php/fjst

Posting Komentar

0 Komentar