Hasil riset menunjukkan bahwa AI tidak harus menggantikan peran manajer untuk memberikan dampak positif bagi perusahaan. Sebaliknya, AI dapat berfungsi sebagai sistem pendukung yang membantu manajer mengolah informasi, membaca pola keuangan, membuat prediksi, dan memperoleh rekomendasi, sementara keputusan strategis tetap berada di tangan manusia.
Pendekatan inilah yang menjadi inti Human-Centered Artificial Intelligence. Dalam konsep tersebut, teknologi dirancang untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan mengambil alih seluruh proses pengambilan keputusan. Transparansi, kemampuan menjelaskan hasil AI, akuntabilitas, serta pengawasan manusia menjadi bagian penting dari penerapannya.
AI Mengubah Cara Perusahaan Mengelola Keuangan
Perkembangan AI telah membawa perubahan besar dalam manajemen keuangan. Teknologi seperti machine learning, analitik prediktif, dan AI generatif dapat membantu perusahaan meningkatkan akurasi peramalan, mengotomatisasi pelaporan keuangan, mengoptimalkan anggaran, serta memperkuat pengelolaan risiko.
Namun, penggunaan AI juga menghadirkan persoalan baru. Ketergantungan berlebihan terhadap rekomendasi algoritma dapat menimbulkan masalah terkait transparansi, akuntabilitas, etika, dan kepercayaan. Karena itu, pendekatan yang menggabungkan kemampuan teknologi dengan keahlian manusia semakin penting dalam pengambilan keputusan keuangan.
Kondisi tersebut juga relevan bagi perusahaan di Indonesia. Adopsi AI berkembang di berbagai sektor, termasuk perbankan, asuransi, dan teknologi finansial. Meski demikian, kesiapan data, kompetensi karyawan, tata kelola, serta penerapan AI secara etis masih menjadi tantangan.
Melibatkan 120 Manajer dan Eksekutif Keuangan
Ekadjaja menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap 120 manajer dan eksekutif keuangan dari perusahaan di Indonesia yang telah menggunakan sistem keuangan berbasis AI. Responden mencakup manajer keuangan, chief financial officer, manajer akuntansi, direktur keuangan, dan eksekutif lain yang terlibat dalam perencanaan serta pengambilan keputusan keuangan.
Responden dipilih berdasarkan pengalaman dan keterlibatan mereka dalam penggunaan sistem keuangan berbasis AI. Mereka harus berada pada posisi manajerial di bidang keuangan atau akuntansi, memiliki pengalaman minimal satu tahun menggunakan sistem keuangan yang didukung AI, serta terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan keuangan.
Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dengan skala lima tingkat, mulai dari sangat tidak setuju hingga sangat setuju. Sebelum survei utama dilakukan, instrumen diperiksa oleh akademisi dan praktisi serta diuji coba kepada 30 responden untuk memastikan pertanyaan dapat dipahami dan relevan. Analisis data kemudian dilakukan menggunakan SmartPLS 4.
Mayoritas responden berusia 35–44 tahun atau sebesar 38,3 persen. Sebanyak 58,3 persen memiliki gelar sarjana, 37,5 persen bergelar magister, dan 4,2 persen bergelar doktor. Dari sisi pengalaman, 42,5 persen telah bekerja selama 6–10 tahun dan 33,3 persen memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun.
Dampak AI Terlihat pada Kualitas Keputusan Keuangan
Salah satu temuan paling kuat menunjukkan bahwa penerapan HCAI memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kualitas pengambilan keputusan keuangan. Nilai koefisien hubungan mencapai 0,788, dengan t-value 16,524 dan nilai p kurang dari 0,001. Artinya, perusahaan yang menerapkan AI dengan tetap mempertahankan keterlibatan manusia cenderung memiliki kualitas keputusan keuangan yang lebih baik.
Kualitas keputusan keuangan dalam riset ini mencakup kemampuan menghasilkan keputusan yang akurat, tepat waktu, objektif, dan sesuai dengan tujuan organisasi. AI dapat membantu menyediakan informasi secara cepat, melakukan analisis terhadap data dalam jumlah besar, menghasilkan prediksi, dan memberikan rekomendasi yang dapat dipertimbangkan oleh manajer.
Dengan demikian, manfaat AI tidak semata-mata berasal dari otomatisasi. Nilai strategisnya justru muncul ketika informasi yang dihasilkan teknologi dipadukan dengan pengetahuan, pengalaman, dan pertimbangan manusia.
Kualitas Keputusan Berhubungan dengan Keberlanjutan Perusahaan
Riset Margarita Ekadjaja juga menemukan bahwa kualitas pengambilan keputusan keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan berkelanjutan. Nilai koefisiennya mencapai 0,531, dengan t-value 7,184 dan p kurang dari 0,001.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa keputusan keuangan yang akurat, tepat waktu, dan berbasis bukti dapat membantu perusahaan mengalokasikan sumber daya secara lebih efektif, mengantisipasi risiko keuangan, serta memperkuat perencanaan strategis. Dalam jangka panjang, kemampuan tersebut dapat mendukung ketahanan dan daya saing perusahaan.
Dalam riset ini, kinerja berkelanjutan tidak hanya dipahami sebagai keuntungan finansial. Konsep tersebut mencakup kemampuan perusahaan mencapai keberhasilan jangka panjang dengan menyeimbangkan aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial.
HCAI Juga Berdampak Langsung pada Kinerja Berkelanjutan
Selain meningkatkan kualitas keputusan keuangan, HCAI ditemukan memiliki pengaruh positif dan signifikan secara langsung terhadap kinerja perusahaan berkelanjutan. Nilai koefisiennya sebesar 0,296, dengan t-value 3,541 dan p kurang dari 0,001.
Model penelitian juga menunjukkan bahwa penerapan HCAI menjelaskan 62,1 persen variasi kualitas pengambilan keputusan keuangan. Sementara itu, HCAI bersama kualitas keputusan keuangan menjelaskan 68,7 persen variasi kinerja perusahaan berkelanjutan.
Temuan yang lebih menarik muncul pada hubungan tidak langsung. Kualitas pengambilan keputusan keuangan terbukti menjadi mediator yang signifikan antara HCAI dan kinerja perusahaan berkelanjutan, dengan koefisien tidak langsung 0,418, t-value 6,623, dan p kurang dari 0,001. Karena pengaruh langsung dan tidak langsung sama-sama signifikan, hubungan tersebut dikategorikan sebagai mediasi parsial.
Artinya, AI yang berorientasi pada manusia dapat membantu keberlanjutan perusahaan melalui dua jalur: memberikan pengaruh langsung terhadap kinerja dan meningkatkan kualitas keputusan keuangan yang kemudian memperkuat kinerja tersebut.
Perusahaan Perlu Menggabungkan AI dan Kompetensi Manusia
Bagi dunia usaha, temuan ini memberikan pesan penting: investasi AI sebaiknya tidak berhenti pada pembelian teknologi. Perusahaan juga perlu meningkatkan kompetensi karyawan, membangun tata kelola AI, memastikan sistem dapat dijelaskan, serta mempertahankan pengawasan manusia.
Ekadjaja menekankan bahwa AI sebaiknya digunakan sebagai pendukung keputusan. Sistem dapat menyediakan analitik prediktif, informasi keuangan secara real time, dan rekomendasi, tetapi manajer tetap bertanggung jawab atas keputusan strategis. Pendekatan tersebut dapat diterapkan dalam penganggaran, evaluasi investasi, perencanaan keuangan, hingga pengelolaan risiko.
Bagi perusahaan yang sedang melakukan transformasi digital, hasil ini menunjukkan bahwa keberhasilan AI sangat bergantung pada kombinasi antara teknologi, kemampuan manusia, dan tata kelola organisasi. Pengembangan sumber daya manusia perlu berjalan seiring dengan pengembangan sistem AI.
Riset tersebut juga memiliki keterbatasan. Data dikumpulkan dalam satu periode sehingga belum dapat menggambarkan perubahan penerapan AI dan kinerja perusahaan dalam jangka panjang. Selain itu, sampel hanya mencakup 120 manajer dan eksekutif keuangan dari perusahaan di Indonesia, sehingga hasilnya belum tentu dapat digeneralisasi ke seluruh sektor atau negara.
Profil Penulis
Margarita Ekadjaja merupakan akademisi dari Universitas Tarumanagara, Indonesia, yang meneliti isu manajemen, kecerdasan buatan, pengambilan keputusan keuangan, dan kinerja perusahaan berkelanjutan. Artikel yang menjadi sumber berita ini mencermati penerapan AI yang tetap menempatkan kompetensi dan pengawasan manusia sebagai bagian penting dalam pengelolaan keuangan perusahaan.
0 Komentar