Penelitian yang dipublikasikan pada Journal of Social Interactions and Humanities (JSIH) Volume 5 Nomor 2 Tahun 2026 ini mengungkap bahwa Kabupaten Sarmi telah memiliki 80 objek yang diduga sebagai cagar budaya, meskipun baru delapan objek yang telah memperoleh penetapan resmi sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Temuan tersebut menjadi penting karena Sarmi merupakan salah satu wilayah strategis di pesisir utara Papua yang pernah menjadi basis pertahanan Jepang sekaligus lokasi pertempuran besar antara Jepang dan Sekutu pada tahun 1944. Jejak sejarah itu masih dapat ditemukan dalam bentuk landasan pesawat, meriam, jangkar kapal perang, hingga berbagai struktur militer lainnya yang masih bertahan sampai sekarang.
Warisan Sejarah yang Selama Ini Kurang Dimanfaatkan
Selama bertahun-tahun, penelitian mengenai peninggalan sejarah di Sarmi lebih banyak berfokus pada pendataan fisik situs. Kajian yang menghubungkan warisan budaya dengan pendidikan, identitas bangsa, dan pembangunan ekonomi daerah masih sangat terbatas.
Padahal, keberadaan situs-situs tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi, bukan hanya bagi masyarakat Papua, tetapi juga bagi sejarah Indonesia dan kawasan Pasifik. Penelitian ini menegaskan bahwa pelestarian cagar budaya tidak sekadar menjaga benda bersejarah, melainkan juga mempertahankan bukti perjalanan bangsa untuk generasi mendatang.
Penelitian Menggabungkan Survei Lapangan dan Wawancara
Tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan melakukan studi pustaka, observasi lapangan, serta wawancara mendalam.
Lokasi penelitian difokuskan pada tiga kawasan yang telah memiliki objek cagar budaya, yaitu:
- Pulau Wakde
- Kampung Tanjung Batu
- Kampung Holmafen
Selain mengamati langsung kondisi objek sejarah, peneliti juga mewawancarai pemilik objek, Tim Ahli Cagar Budaya, pejabat pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, tenaga pendidik, dan tokoh masyarakat. Seluruh informasi kemudian dianalisis secara deskriptif melalui triangulasi berbagai sumber agar menghasilkan gambaran yang komprehensif mengenai peran warisan budaya di Kabupaten Sarmi.
Delapan Objek Resmi, Puluhan Lainnya Masih Menunggu Penetapan
Penelitian mencatat terdapat 80 objek yang diduga sebagai cagar budaya (ODCB).
Dari jumlah tersebut:
- 1 struktur telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
- 7 objek telah memperoleh status resmi.
- 72 objek lainnya masih berstatus dugaan sehingga membutuhkan proses penetapan lebih lanjut.
Objek yang telah ditetapkan meliputi landasan pesawat di Pulau Wakde, laras meriam, kaki meriam, tiga meriam artileri anti-serangan udara di Kampung Tanjung Batu, serta dua jangkar kapal di Pulau Wakde dan Kampung Holmafen. Sebagian besar merupakan peninggalan Perang Dunia II yang masih memperlihatkan bentuk asli meskipun mengalami korosi dan kerusakan akibat usia.
Laboratorium Sejarah bagi Generasi Muda
Salah satu temuan utama penelitian adalah besarnya manfaat situs sejarah sebagai media pembelajaran.
Beberapa sekolah di Kabupaten Sarmi telah mengajak siswa melakukan pembelajaran langsung di lapangan dengan mengunjungi monumen, landasan pesawat, meriam, maupun jangkar kapal. Melalui pengalaman tersebut, siswa tidak hanya membaca sejarah dari buku, tetapi juga melihat langsung bukti fisik peristiwa yang pernah terjadi.
Menurut para peneliti, pengalaman belajar berbasis situs sejarah mampu memperkuat pemahaman sejarah, membangun kemampuan berpikir kritis, sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk menjaga warisan budaya bangsa. Situs-situs tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium penelitian bagi bidang sejarah, arkeologi, antropologi, teknik, hingga ilmu kebumian.
Menguatkan Identitas Nasional
Penelitian juga menunjukkan bahwa penetapan resmi cagar budaya memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding sekadar perlindungan benda bersejarah.
Landasan pesawat di Wakde menjadi bukti penting strategi militer di kawasan Pasifik, sedangkan meriam dan jangkar kapal mencerminkan perkembangan teknologi perang pada masa Perang Dunia II.
Keberadaan benda-benda tersebut memperlihatkan bahwa Papua, khususnya Kabupaten Sarmi, memiliki posisi penting dalam sejarah Indonesia maupun sejarah dunia. Karena itu, pelestarian cagar budaya turut memperkuat identitas nasional dan rasa kebangsaan masyarakat.
Peluang Besar bagi Pariwisata dan Ekonomi Lokal
Selain memiliki nilai pendidikan dan sejarah, penelitian menemukan bahwa warisan budaya Sarmi berpotensi menjadi penggerak ekonomi daerah melalui pengembangan wisata sejarah.
Dalam tiga tahun terakhir, situs-situs tersebut telah menarik perhatian berbagai lembaga nasional maupun internasional, termasuk Pemerintah Jepang, Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Papua, dan Pemerintah Provinsi Papua.
Peneliti menilai potensi ekonomi dapat dikembangkan melalui pemberdayaan UMKM lokal, penjualan suvenir, kuliner khas, jasa pemandu wisata, penyediaan akomodasi, hingga penyelenggaraan festival budaya, pertunjukan seni, film dokumenter, dan konten digital bertema sejarah.
Namun, pengembangan tersebut memerlukan dukungan infrastruktur seperti papan informasi, peta lokasi, buku panduan populer, serta pemandu wisata yang memahami sejarah lokal.
Pengelolaan Terpadu Menjadi Kunci
Dalam pembahasannya, peneliti menegaskan bahwa perhatian terhadap situs-situs sejarah di Sarmi selama ini masih lebih banyak berfokus pada aspek pelestarian dibanding pemanfaatan ekonomi.
Padahal, keberhasilan pengembangan wisata sejarah membutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, akademisi, komunitas pelestari budaya, dan masyarakat setempat. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar nilai pendidikan dan identitas nasional yang dimiliki situs-situs bersejarah juga dapat memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat lokal.
Profil Penulis
Sonya M. Kawer merupakan akademisi dari Universitas Cenderawasih yang menekuni bidang pendidikan sejarah, warisan budaya, dan pelestarian cagar budaya Papua.
Aquarisal Patrick Fabian adalah dosen Universitas Cenderawasih dengan bidang kajian sejarah, pendidikan, dan pengembangan kebudayaan.
Apner Krei merupakan akademisi Universitas Cenderawasih yang berfokus pada penelitian sejarah lokal, kebudayaan Papua, dan pelestarian warisan budaya.
Sumber Penelitian
Kawer, S. M., Fabian, A. P., & Krei, A. (2026). The Role of Cultural Heritage Sites as Centers for Education, National Identity, and Tourism-Based Economy in Sarmi Regency, Papua. Journal of Social Interactions and Humanities (JSIH), Vol. 5, No. 2, 195–204.
0 Komentar