Mengunggah banyak video setiap hari ternyata belum tentu mampu meningkatkan interaksi pelanggan. Temuan tersebut disampaikan dalam penelitian yang dilakukan Nurhasanah bersama Dr. H. Rudi Kurniawan, S.T., M.M. dari Politeknik LP3I Kampus Tasikmalaya. Penelitian yang berlangsung pada Maret hingga Mei 2026 ini mengulas bagaimana Brand Bastohana, sebuah UMKM fashion bordir asal Tasikmalaya, memanfaatkan fitur Shopee Video sebagai strategi pemasaran digital. Hasilnya menunjukkan bahwa keberhasilan pemasaran video lebih ditentukan oleh kualitas konten dan keterlibatan audiens dibandingkan sekadar frekuensi unggahan.
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara pelaku usaha memasarkan produknya. Jika sebelumnya promosi lebih banyak mengandalkan media konvensional seperti televisi, koran, atau brosur, kini platform digital menjadi pilihan utama karena mampu menjangkau konsumen secara lebih cepat, interaktif, dan terukur.
Di tengah meningkatnya persaingan bisnis daring, fitur Shopee Video menjadi salah satu sarana promosi yang banyak dimanfaatkan pelaku UMKM. Melalui video pendek yang langsung terhubung dengan halaman produk, penjual dapat memperlihatkan kualitas barang secara lebih menarik sekaligus membangun kepercayaan calon pembeli. Namun, seberapa efektif strategi tersebut masih menjadi pertanyaan bagi banyak pelaku usaha.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tim peneliti mengamati aktivitas akun bastohana.id, melakukan wawancara dengan tim pemasaran Bastohana, mengumpulkan dokumentasi performa akun Shopee, serta menelaah berbagai literatur ilmiah mengenai pemasaran digital. Pendekatan yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif sehingga peneliti dapat memperoleh gambaran menyeluruh mengenai proses pembuatan hingga evaluasi konten video.
Penelitian menemukan bahwa implementasi video content marketing di Bastohana dilakukan melalui lima tahapan utama, yaitu:
- Menentukan ide konten berdasarkan pertanyaan konsumen saat siaran langsung.
- Melakukan proses produksi video menggunakan studio sederhana dan pencahayaan tambahan.
- Mengedit video dengan menambahkan pembuka (hook) pada 3–5 detik pertama serta hashtag yang relevan.
- Mengunggah video secara rutin ke Shopee.
- Mengevaluasi performa melalui Shopee Seller Center untuk menentukan strategi berikutnya.
Selama periode penelitian, Bastohana termasuk sangat aktif mengunggah konten, yakni sekitar 6–8 video setiap hari. Akun tersebut memiliki sekitar 23.800 pengikut, memperoleh rating toko 4,9 dari 5, sementara jumlah tayangan video berkisar antara 1 hingga 1.100 kali. Akan tetapi, tingkat interaksi pengguna masih tergolong rendah dengan rata-rata hanya 0–3 komentar pada setiap video.
Peneliti juga menemukan bahwa tidak semua jenis video memberikan hasil yang sama. Konten bertema Outfit of The Day (OOTD) menjadi yang paling diminati dengan rata-rata 500–700 tayangan, lebih tinggi dibandingkan video ulasan produk maupun video promosi biasa. Selain itu, waktu unggah ikut memengaruhi performa. Video yang dipublikasikan pada pukul 13.00–14.00 WIB dan 16.00–19.00 WIB cenderung memperoleh jangkauan lebih luas dibandingkan waktu lainnya.
Meski demikian, penelitian mengungkap adanya paradoks dalam strategi pemasaran Bastohana. Frekuensi unggahan yang tinggi ternyata belum mampu menghasilkan keterlibatan audiens yang optimal. Banyak video hanya memperoleh sedikit komentar meskipun dipublikasikan secara konsisten.
Menurut peneliti, kondisi tersebut menunjukkan bahwa algoritma platform digital tidak hanya mempertimbangkan jumlah unggahan, tetapi juga kualitas visual, relevansi isi, dan kemampuan konten mendorong audiens untuk berinteraksi. Video yang menarik secara visual dan mampu membangun kedekatan emosional lebih berpotensi memperoleh distribusi yang lebih luas di dalam platform.
Selain persoalan interaksi, penelitian juga mengidentifikasi sejumlah kendala teknis yang memengaruhi efektivitas pemasaran digital Bastohana. Beberapa di antaranya adalah kualitas video yang menurun setelah diunggah, pencahayaan yang kurang optimal ketika listrik padam, keterbatasan kamera ponsel, koneksi internet yang tidak stabil, perubahan algoritma Shopee Video, serta rendahnya partisipasi pengguna dalam memberikan komentar maupun umpan balik.
Sebagai respons terhadap berbagai tantangan tersebut, Bastohana mulai melakukan sejumlah perbaikan, antara lain menggunakan ring light untuk meningkatkan kualitas pencahayaan, memanfaatkan kamera belakang ponsel agar gambar lebih tajam, membuat variasi konten yang lebih beragam, menyesuaikan jadwal unggahan sesuai waktu paling efektif, serta mengombinasikan Shopee Video dengan fitur Shopee Live agar komunikasi dengan pelanggan menjadi lebih aktif.
Penelitian ini juga menghasilkan sejumlah rekomendasi praktis bagi pelaku UMKM yang ingin memanfaatkan video pendek sebagai strategi pemasaran digital. Peneliti menyarankan agar setiap video memiliki resolusi minimal 1080p, menggunakan peralatan produksi yang lebih baik, menyisipkan call to action (CTA) secara konsisten, menyusun kalender konten mingguan, memperkuat daya tarik pada lima detik pertama video, serta mengintegrasikan Shopee Video dengan Shopee Live agar jangkauan dan konversi penjualan meningkat.
Menurut Nurhasanah dan Dr. H. Rudi Kurniawan dari Politeknik LP3I Kampus Tasikmalaya, keberhasilan pemasaran digital tidak dapat diukur hanya dari banyaknya konten yang dipublikasikan. Yang lebih menentukan adalah kemampuan pelaku usaha menghasilkan video yang berkualitas, relevan, menarik perhatian sejak awal, serta mampu mendorong audiens untuk berinteraksi dan akhirnya melakukan pembelian. Temuan ini memberikan gambaran bahwa strategi pemasaran digital UMKM perlu berorientasi pada pengalaman pengguna, bukan sekadar mengejar kuantitas unggahan.
Bagi pelaku UMKM Indonesia, hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa investasi pada kualitas produksi konten dan pemahaman terhadap karakteristik algoritma platform digital dapat memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan sekadar meningkatkan jumlah unggahan harian. Pendekatan tersebut diyakini mampu memperkuat daya saing produk lokal di tengah pertumbuhan perdagangan elektronik yang semakin kompetitif.
Profil Penulis
Nurhasanah merupakan peneliti dari Program Studi Manajemen Pemasaran, Politeknik LP3I Kampus Tasikmalaya yang memiliki minat pada bidang digital marketing, pemasaran berbasis konten, media sosial, dan strategi pemasaran UMKM.
Dr. H. Rudi Kurniawan, S.T., M.M. adalah akademisi di Politeknik LP3I Kampus Tasikmalaya yang menekuni bidang manajemen pemasaran, strategi bisnis, dan pengembangan usaha berbasis teknologi digital.
0 Komentar