Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Jakarta - Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Kedokteran Gigi Universitas Moestopo Mengenai Noda Hitam Gigi Anak dan Hubungannya dengan Risiko Karies. Penelitian yang dilakukan oleh Dwi Ariani, Annisa Septalita, dan Refky Arya Prasetya dari Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 7 Tahun 2026 menyoroti bahwa calon dokter gigi telah memahami konsep dasar etiologi, karakteristik klinis, serta penanganan black stain.
Latar Belakang: Mengenal Noda Hitam Gigi pada Anak
Black stain merupakan garis atau bercak hitam yang menempel erat di sepanjang tepi gusi pada permukaan gigi anak. Meskipun penampilannya sering membuat orang tua khawatir dan menganggapnya sebagai tanda gigi berlubang atau kebersihan mulut yang buruk, secara klinis noda ini tidak bersifat merusak jaringan gigi. Fenomena ini justru menarik perhatian dunia kedokteran gigi karena anak-anak dengan black stain umumnya memiliki kebersihan mulut yang baik dan angka kejadian karies (gigi berlubang) yang lebih rendah. Namun, kekhawatiran orang tua terhadap estetika sering memicu permintaan perawatan invasif yang sebenarnya tidak diperlukan. Oleh karena itu, tingkat pengetahuan calon dokter gigi sangat menentukan ketepatan diagnosis, penatalaksanaan medis berbasis bukti (evidence-based dentistry), dan cara komunikasi dengan pasien maupun orang tua.
Metodologi Penelitian Sederhana
Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif dengan pendekatan cross-sectional yang dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jakarta.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa secara keseluruhan tingkat pengetahuan mahasiswa profesi kedokteran gigi berada pada kategori Cukup dengan rata-rata persentase jawaban benar sebesar 68,48%. Berikut adalah rincian distribusi tingkat pengetahuan dan persepsi mahasiswa:
Temuan penelitian ini memberikan dampak positif bagi pelayanan kesehatan gigi anak dan pengembangan kurikulum pendidikan kedokteran:
Dwi Ariani, drg., M.Si. Dosen dan peneliti di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jakarta. Berkeahlian dalam bidang Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Kedokteran Gigi Anak.
Annisa Septalita, drg., M.Si.. Dosen dan staf pengajar di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jakarta, dengan fokus keahlian pada ilmu kedokteran gigi klinik dan pencegahan.
Refky Arya Prasetya, drg. Peneliti dan akademisi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jakarta, aktif dalam kajian pelayanan kesehatan gigi dan pendidikan profesi.
Sumber Peneliti
Dwi Ariani, Annisa Septalita, Refky Arya Prasetya. Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Profesi Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Mengenai Black Stain Pada Anak-Anak. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS). Vol. 5, No. 7, Tahun 2026.
DOI :https://doi.org/10.55927/fjas.v5i7.76
URL:https://journalfjas.my.id/index.php/fjas
Latar Belakang: Mengenal Noda Hitam Gigi pada Anak
Black stain merupakan garis atau bercak hitam yang menempel erat di sepanjang tepi gusi pada permukaan gigi anak. Meskipun penampilannya sering membuat orang tua khawatir dan menganggapnya sebagai tanda gigi berlubang atau kebersihan mulut yang buruk, secara klinis noda ini tidak bersifat merusak jaringan gigi. Fenomena ini justru menarik perhatian dunia kedokteran gigi karena anak-anak dengan black stain umumnya memiliki kebersihan mulut yang baik dan angka kejadian karies (gigi berlubang) yang lebih rendah. Namun, kekhawatiran orang tua terhadap estetika sering memicu permintaan perawatan invasif yang sebenarnya tidak diperlukan. Oleh karena itu, tingkat pengetahuan calon dokter gigi sangat menentukan ketepatan diagnosis, penatalaksanaan medis berbasis bukti (evidence-based dentistry), dan cara komunikasi dengan pasien maupun orang tua.
Metodologi Penelitian Sederhana
Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif dengan pendekatan cross-sectional yang dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jakarta.
- Subjek Penelitian: Sebanyak 198 mahasiswa program profesi kedokteran gigi berpartisipasi sebagai responden dari total populasi 387 mahasiswa profesi.
- Pengumpulan Data: Data dikumpulkan melalui kuesioner daring menggunakan platform Google Form yang terdiri dari 10 pertanyaan tervalidasi mengenai etiologi, faktor risiko, hingga penanganan black stain.
- Pengkategorian: Tingkat pengetahuan mahasiswa dikelompokkan menjadi tiga kategori berdasarkan persentase jawaban benar: Baik (76–100%), Cukup (56–75%), dan Kurang ($\le$56%).
Hasil analisis data menunjukkan bahwa secara keseluruhan tingkat pengetahuan mahasiswa profesi kedokteran gigi berada pada kategori Cukup dengan rata-rata persentase jawaban benar sebesar 68,48%. Berikut adalah rincian distribusi tingkat pengetahuan dan persepsi mahasiswa:
- Distribusi Kategori Pengetahuan:
Kategori Baik: 70 responden (35,35%)
Kategori Cukup: 86 responden (43,43%)
Kategori Kurang: 42 responden (21,21%) - Pemahaman Konsep Klinis dan Mikrobiologi:
73,7% mahasiswa memahami bahwa black stain terbentuk dari reaksi kimiawi antara gas hidrogen sulfida yang dihasilkan bakteri plak spesifik (seperti Actinomyces) dengan ion besi dalam air liur, membentuk ferric sulfide berwarna gelap.
68,7% mahasiswa mengetahui secara tepat bahwa black stain memiliki efek protektif yang berhubungan dengan penurunan risiko karies gigi pada anak usia dini.
52,0% mahasiswa merekomendasikan pembersihan profesional (scaling atau polishing) sebagai langkah penanganan utama yang bersifat non-invasif. - Miskonsepsi yang Ditemukan:
65,1% responden salah memahami peran faktor genetik sebagai faktor risiko utama.
50,51% responden keliru dalam mengartikan hubungan antara konsumsi makanan tinggi zat besi dan mekanisme pembentukan noda hitam pada gigi.
Temuan penelitian ini memberikan dampak positif bagi pelayanan kesehatan gigi anak dan pengembangan kurikulum pendidikan kedokteran:
- Pencegahan Tindakan Medis Berlebihan: Pengetahuan klinis yang tepat memastikan dokter gigi muda tidak melakukan penambalan atau perawatan invasif pada gigi yang hanya mengalami black stain.
- Edukasi Orang Tua: Calon dokter gigi dapat memberikan penjelasan yang menenangkan kepada orang tua bahwa noda hitam tersebut bukanlah karies gigi aktif, melainkan endapan mineral dan plak non-patologis yang dapat dibersihkan secara berkala.
- Penguatan Kurikulum Pendidikan: Adanya miskonsepsi mengenai faktor genetik dan diet zat besi menunjukkan perlunya penguatan materi mikrobiologi mulut dan jalur biokimia dalam proses pembelajaran akademik dan pelatihan klinik.
Dwi Ariani, drg., M.Si. Dosen dan peneliti di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jakarta. Berkeahlian dalam bidang Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Kedokteran Gigi Anak.
Annisa Septalita, drg., M.Si.. Dosen dan staf pengajar di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jakarta, dengan fokus keahlian pada ilmu kedokteran gigi klinik dan pencegahan.
Refky Arya Prasetya, drg. Peneliti dan akademisi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jakarta, aktif dalam kajian pelayanan kesehatan gigi dan pendidikan profesi.
Sumber Peneliti
Dwi Ariani, Annisa Septalita, Refky Arya Prasetya. Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Profesi Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Mengenai Black Stain Pada Anak-Anak. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS). Vol. 5, No. 7, Tahun 2026.
DOI :
URL:

0 Komentar