Beras merupakan pangan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Tingginya konsumsi beras membuat pemerintah harus memastikan pasokan selalu tersedia agar harga tetap stabil. Dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan tersebut semakin menantang akibat pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, serta gangguan produksi pertanian.
Data yang dikaji dalam penelitian menunjukkan bahwa konsumsi beras Indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Pada periode 2024–2025, konsumsi nasional mencapai sekitar 36,6 juta ton, sementara konsumsi rata-rata masyarakat mencapai 92,1 kilogram per kapita per tahun. Di sisi lain, lonjakan impor terjadi sangat tajam setelah gangguan produksi akibat fenomena El Niño. Impor beras yang sebelumnya berada di bawah 500 ribu ton pada 2020–2022 meningkat menjadi sekitar 3,06 juta ton pada 2023 dan kembali naik menjadi 4,51 juta ton pada 2024. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa produksi dalam negeri belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan nasional.
Untuk memahami penyebab meningkatnya impor tersebut, peneliti menganalisis empat faktor utama, yaitu harga beras domestik, harga beras internasional, produksi beras nasional, serta nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Seluruh data diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Perdagangan, dan Food and Agriculture Organization (FAO) dengan rentang waktu lebih dari tiga dekade sehingga mampu menggambarkan perubahan kebijakan maupun dinamika ekonomi Indonesia dari waktu ke waktu. Analisis dilakukan menggunakan metode Autoregressive Distributed Lag (ARDL) yang memungkinkan peneliti membedakan pengaruh jangka pendek dan jangka panjang dari setiap variabel.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa produksi beras nasional menjadi faktor paling penting dalam mengurangi impor. Dalam jangka panjang maupun jangka pendek, peningkatan produksi domestik secara signifikan menurunkan kebutuhan impor. Temuan ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan produksi di dalam negeri akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan beras dari luar negeri.
Sebaliknya, harga beras internasional justru memiliki pengaruh positif terhadap impor dalam jangka panjang. Artinya, sekalipun harga beras dunia meningkat, Indonesia tetap melakukan impor. Menurut penulis, kondisi ini terjadi karena beras merupakan kebutuhan pokok yang tidak mudah digantikan oleh komoditas lain. Pemerintah tetap memilih melakukan impor demi menjaga ketersediaan stok dan mencegah kenaikan harga yang lebih tinggi di pasar domestik.
Penelitian juga menemukan bahwa harga beras domestik tidak berpengaruh signifikan dalam jangka panjang, meskipun pada jangka pendek kenaikan harga lokal mendorong peningkatan impor. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan impor di Indonesia tidak hanya dipengaruhi mekanisme pasar, tetapi juga dipengaruhi pertimbangan strategis seperti ketahanan pangan, stabilitas sosial, serta kebijakan pemerintah dalam mengelola cadangan beras nasional.
Faktor lain yang turut memengaruhi impor adalah nilai tukar rupiah. Dalam jangka panjang, perubahan kurs rupiah memiliki pengaruh positif terhadap impor, sedangkan dalam jangka pendek pelemahan rupiah cenderung menekan impor karena biaya pembelian beras dari luar negeri menjadi lebih mahal. Temuan ini menggambarkan bahwa hubungan antara nilai tukar dan impor tidak sesederhana teori ekonomi konvensional karena dipengaruhi kondisi produksi nasional dan kebutuhan menjaga ketahanan pangan.
Secara keseluruhan, penelitian menyimpulkan bahwa kebijakan impor beras Indonesia lebih banyak ditentukan oleh faktor strategis dibandingkan mekanisme harga semata. Ketika produksi nasional mengalami penurunan akibat cuaca ekstrem atau gangguan lainnya, pemerintah tetap melakukan impor meskipun harga internasional sedang tinggi atau nilai tukar rupiah melemah. Dengan kata lain, menjaga ketersediaan pangan menjadi prioritas utama dibandingkan efisiensi biaya impor.
Bagi pembuat kebijakan, hasil penelitian ini memberikan pesan penting bahwa peningkatan produksi dalam negeri harus menjadi prioritas utama untuk mengurangi ketergantungan impor. Penulis juga merekomendasikan penguatan produktivitas pertanian, pembangunan sistem peringatan dini terhadap potensi penurunan produksi, serta pengelolaan stok pangan yang lebih berbasis data sehingga keputusan impor dapat dilakukan secara lebih tepat waktu dan proporsional. Penelitian ini juga menyarankan pemanfaatan teknologi pertanian oleh petani serta peningkatan koordinasi antarinstansi dalam pengelolaan kebijakan beras nasional.
Ahwan Nur Agustin menegaskan bersama Lucky Rachmawati bahwa temuan penelitian ini memperlihatkan perlunya melihat impor beras sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan nasional, bukan sekadar respons terhadap perubahan harga pasar. Menurut mereka, peningkatan produksi domestik tetap menjadi langkah paling efektif untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor beras dalam jangka panjang.
Profil Penulis
Ahwan Nur Agustin merupakan peneliti dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang menekuni kajian ekonomi, khususnya ekonomi internasional, perdagangan, dan kebijakan impor pangan.
Lucky Rachmawati merupakan dosen dan peneliti di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan bidang keahlian ekonomi, perdagangan internasional, serta kebijakan ekonomi dan pembangunan.
0 Komentar