Temuan ini menjadi penting karena porang merupakan salah satu komoditas ekspor bernilai tinggi yang terus berkembang di Indonesia. Namun, di balik peluang tersebut, petani masih menghadapi tantangan berupa ketidakpastian harga, perubahan iklim, serta masa produksi yang relatif panjang sebelum memperoleh hasil. Kondisi tersebut mendorong petani untuk menyusun strategi ekonomi agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi sepanjang tahun.
Porang Menjanjikan, Tetapi Penuh Risiko
Permintaan porang terus meningkat karena kandungan glukomanannya banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan, farmasi, kosmetik, hingga produk ramah lingkungan. Meski demikian, keuntungan dari budidaya porang tidak dapat dinikmati dalam waktu singkat.
Petani harus menunggu cukup lama hingga masa panen tiba. Selain itu, produktivitas tanaman dipengaruhi oleh kualitas bibit, kondisi tanah, curah hujan, dan akses pasar. Harga jual yang berubah-ubah juga membuat pendapatan petani sulit diprediksi.
Menurut para peneliti, kondisi tersebut menyebabkan rumah tangga petani tidak bisa bergantung pada satu jenis usaha saja. Mereka membangun sistem penghidupan yang lebih tangguh melalui kombinasi berbagai pekerjaan agar risiko ekonomi dapat ditekan.
Penelitian Melibatkan Rumah Tangga Petani Porang
Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus terhadap 10 rumah tangga petani porang di Desa Bontolempangan. Informan dipilih secara bertahap melalui metode snowball sampling, yaitu berdasarkan rekomendasi antarpetani yang aktif membudidayakan porang.
Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam, serta dokumentasi kegiatan masyarakat. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan pendekatan Sustainable Livelihood Framework, yaitu kerangka analisis yang melihat bagaimana rumah tangga memanfaatkan berbagai sumber daya untuk mempertahankan kesejahteraan di tengah berbagai risiko.
Tiga Strategi Bertahan Hidup Petani Porang
Penelitian menemukan bahwa rumah tangga petani porang menerapkan tiga strategi utama dalam menjaga kestabilan ekonomi.
1. Mengoptimalkan Lahan Pertanian
Petani meningkatkan produktivitas melalui penggunaan bibit yang lebih baik, pengelolaan lahan yang lebih efisien, serta memperluas area tanam.
Selain porang, mereka juga menanam komoditas lain seperti:
- Jagung
- Padi
- Rumput gajah
- Kunyit
Diversifikasi tanaman ini dilakukan agar tetap ada pemasukan meskipun panen porang masih menunggu waktu.
2. Diversifikasi Mata Pencaharian
Sebagian besar keluarga petani memiliki lebih dari satu sumber pendapatan.
Selain bertani, mereka bekerja sebagai:
- Buruh bangunan
- Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD)
- Pengrajin bambu
- Peternak sapi
Pendapatan tambahan tersebut membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari ketika hasil pertanian belum diperoleh.
3. Mobilitas Kerja dan Migrasi
Sebagian anggota keluarga memilih bekerja sementara di luar desa. Pendapatan yang dikirim kembali kepada keluarga menjadi tambahan modal untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun biaya pertanian.
Strategi ini dinilai efektif dalam mengurangi dampak ketidakpastian ekonomi akibat perubahan harga maupun kondisi cuaca.
Jagung Menjadi Penopang Pendapatan Harian
Salah satu temuan menarik penelitian ini adalah peran jagung sebagai sumber pendapatan jangka pendek.
Karena porang membutuhkan waktu panen yang lama, petani menanam jagung hampir sepanjang tahun. Hasil panen jagung digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus dijual sehingga menghasilkan arus kas yang lebih cepat.
Sementara itu, padi berfungsi sebagai penjamin ketahanan pangan keluarga. Sebagian hasil panen dikonsumsi sendiri, sedangkan sisanya dijual apabila terdapat surplus produksi.
Ternak Menjadi Tabungan Keluarga
Penelitian juga menemukan bahwa sapi memiliki fungsi lebih dari sekadar usaha peternakan.
Bagi petani porang, ternak merupakan aset yang dapat dijual sewaktu-waktu ketika membutuhkan biaya pendidikan anak, kesehatan, maupun kebutuhan mendesak lainnya.
Dengan demikian, ternak menjadi bentuk tabungan yang mudah dicairkan ketika kondisi ekonomi rumah tangga mengalami tekanan.
Kerajinan Bambu Menambah Penghasilan
Selain sektor pertanian, sebagian masyarakat memanfaatkan bambu yang tersedia di sekitar desa untuk membuat berbagai kerajinan seperti tampah (pa'dinding) dan topi tani (saraung).
Produk tersebut dipasarkan di pasar lokal sehingga memberikan tambahan pendapatan, terutama ketika harga komoditas pertanian mengalami penurunan.
Aktivitas ini juga menunjukkan bahwa sumber daya lokal dapat diolah menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat pedesaan.
Pentingnya Dukungan Pemerintah
Peneliti menilai bahwa keberhasilan strategi nafkah petani tidak hanya bergantung pada kemampuan rumah tangga, tetapi juga dukungan berbagai pihak.
Pemerintah desa dan instansi terkait perlu memperkuat kapasitas petani melalui:
- pelatihan budidaya dan kewirausahaan,
- akses terhadap teknologi pertanian,
- kemudahan memperoleh modal usaha,
- penguatan kelembagaan petani,
- serta perluasan akses pasar bagi produk porang dan hasil usaha lainnya.
Langkah tersebut diyakini mampu meningkatkan ketahanan ekonomi rumah tangga petani sekaligus mendukung pengembangan komoditas porang sebagai salah satu produk unggulan Indonesia.
Menurut para penulis, strategi nafkah yang memadukan kegiatan pertanian, usaha pendukung pertanian, dan pekerjaan nonpertanian terbukti membantu rumah tangga petani menjaga kestabilan pendapatan di tengah ketidakpastian pasar dan perubahan lingkungan.
Profil Penulis
Nurwahidah merupakan peneliti dari Universitas Muhammadiyah Makassar yang berfokus pada kajian pembangunan pertanian dan ekonomi pedesaan.
Jumiati (Corresponding Author) merupakan dosen Universitas Muhammadiyah Makassar dengan bidang keahlian ekonomi pertanian, pembangunan pedesaan, dan strategi nafkah rumah tangga petani.
Nadir, Amruddin, dan Firmansyah adalah akademisi dari Universitas Muhammadiyah Makassar yang aktif melakukan penelitian di bidang agribisnis, pembangunan wilayah pedesaan, serta ketahanan ekonomi masyarakat pertanian.
Sumber Penelitian
Judul: Livelihood Strategies of Porang Farming Households in Bontolempangan Village, Bontolempangan Sub-district, Gowa Regency, Indonesia
Penulis: Nurwahidah, Jumiati, Nadir, Amruddin, Firmansyah
Afiliasi: Universitas Muhammadiyah Makassar
Jurnal: Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA)
Volume: 5(2), 2026, halaman 271–290
0 Komentar