Kediri — Strategi pemasaran ramah lingkungan (green marketing) yang dipadukan dengan dukungan influencer terbukti mampu meningkatkan minat beli produk skincare ramah lingkungan di kalangan Generasi Z. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Intan Putri Viona, Angga Rizka Lidiawan, dan Yudiarto Perdana Putra dari Kadiri University. Penelitian yang dilaksanakan pada Maret hingga Juni 2026 tersebut menunjukkan bahwa kombinasi kedua strategi pemasaran tersebut menjadi faktor penting dalam membangun ketertarikan konsumen terhadap produk skincare berkelanjutan, khususnya Avoskin.
Kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, termasuk di industri kecantikan. Konsumen kini tidak hanya memperhatikan manfaat produk untuk kesehatan kulit, tetapi juga mempertimbangkan bahan baku yang digunakan, kemasan yang ramah lingkungan, hingga komitmen perusahaan dalam menjaga kelestarian lingkungan. Perubahan perilaku tersebut sangat terlihat pada Generasi Z yang aktif mencari informasi melalui media sosial sebelum memutuskan membeli suatu produk. Mereka cenderung memilih merek yang memiliki nilai keberlanjutan dan didukung oleh komunikasi digital yang dianggap autentik.
Melihat perubahan tren tersebut, para peneliti menilai bahwa green marketing dan influencer menjadi dua strategi yang semakin banyak diterapkan perusahaan kosmetik. Green marketing tidak hanya menampilkan produk sebagai ramah lingkungan, tetapi juga membangun citra perusahaan melalui penggunaan bahan alami, kemasan berkelanjutan, dan kampanye pelestarian lingkungan. Di sisi lain, influencer memiliki kemampuan membangun kedekatan dengan pengikutnya sehingga rekomendasi yang diberikan lebih mudah dipercaya dibandingkan iklan konvensional. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kedua faktor tersebut terhadap minat beli Generasi Z di Kota Kediri.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 96 responden Generasi Z di Kota Kediri yang telah mengenal atau menggunakan produk Avoskin. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda untuk melihat pengaruh green marketing dan influencer terhadap minat beli konsumen. Sebelum analisis dilakukan, seluruh instrumen penelitian telah dinyatakan valid dan reliabel sehingga layak digunakan sebagai dasar pengambilan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa green marketing memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen. Semakin baik perusahaan menerapkan strategi pemasaran yang menonjolkan kepedulian terhadap lingkungan, semakin tinggi pula ketertarikan Generasi Z untuk membeli produk tersebut. Konsumen menganggap penggunaan bahan alami, kemasan ramah lingkungan, serta kampanye keberlanjutan sebagai nilai tambah yang meningkatkan kepercayaan terhadap merek skincare.
Selain itu, penelitian juga membuktikan bahwa influencer memiliki pengaruh positif terhadap minat beli. Influencer yang dinilai kredibel, jujur, dan memiliki nilai yang sejalan dengan isu lingkungan mampu meningkatkan keyakinan konsumen terhadap produk yang dipromosikan. Bagi Generasi Z, rekomendasi dari figur digital terasa lebih personal sehingga mampu mengurangi keraguan sebelum melakukan pembelian. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan emosional yang dibangun influencer melalui media sosial menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk keputusan konsumen.
Ketika kedua strategi tersebut diterapkan secara bersamaan, hasilnya menjadi lebih kuat. Analisis penelitian menunjukkan bahwa green marketing dan influencer secara simultan memberikan pengaruh signifikan terhadap minat beli produk Avoskin. Kedua variabel tersebut mampu menjelaskan 51,8 persen variasi minat beli konsumen, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Temuan ini memperlihatkan bahwa keberhasilan pemasaran produk ramah lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan klaim keberlanjutan, tetapi juga membutuhkan komunikasi digital yang efektif melalui influencer yang dipercaya konsumen.
Menurut Intan Putri Viona, Angga Rizka Lidiawan, dan Yudiarto Perdana Putra dari Kadiri University, keberhasilan pemasaran produk skincare berkelanjutan bergantung pada sinergi antara komitmen perusahaan terhadap lingkungan dan kemampuan influencer menyampaikan pesan tersebut secara autentik. Perusahaan kosmetik yang mampu menunjukkan bukti nyata penggunaan bahan alami, kemasan ramah lingkungan, serta menggandeng influencer dengan kredibilitas tinggi akan lebih mudah membangun kepercayaan konsumen, khususnya Generasi Z yang sangat aktif di media sosial.
Temuan ini memberikan implikasi penting bagi industri kecantikan di Indonesia. Persaingan yang semakin ketat membuat perusahaan tidak cukup hanya menawarkan kualitas produk, tetapi juga harus mampu menunjukkan tanggung jawab terhadap lingkungan. Di sisi lain, pemilihan influencer tidak boleh hanya didasarkan pada jumlah pengikut, melainkan juga kesesuaian nilai, reputasi, dan kredibilitas yang dimiliki. Strategi tersebut dinilai lebih efektif dalam membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen muda yang semakin peduli terhadap isu keberlanjutan.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa Generasi Z tidak lagi menjadikan manfaat produk sebagai satu-satunya pertimbangan dalam membeli skincare. Nilai keberlanjutan, kepedulian terhadap lingkungan, serta komunikasi yang autentik melalui influencer menjadi faktor yang semakin menentukan minat beli. Oleh karena itu, perusahaan kosmetik yang ingin memperluas pasar di kalangan konsumen muda perlu mengintegrasikan strategi green marketing dengan kolaborasi influencer yang memiliki kredibilitas tinggi agar mampu meningkatkan kepercayaan sekaligus mendorong keputusan pembelian.
Profil Penulis
Sumber Penelitian
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i7.213
Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr/article/view/213
0 Komentar