Penelitian tersebut menyoroti bagaimana peninggalan berupa pahatan batu di kompleks makam Dinasti Selatan di Tiongkok telah banyak dipublikasikan melalui media digital, namun masyarakat masih mengalami kesulitan memahami makna sejarah dan simbol-simbol budaya yang terkandung di dalamnya. Kondisi ini dinilai penting karena keberhasilan pelestarian warisan budaya tidak hanya bergantung pada banyaknya orang yang melihatnya, tetapi juga pada sejauh mana masyarakat mampu memahami nilai yang diwariskan.
Warisan Budaya Sudah Mudah Dilihat, tetapi Belum Mudah Dipahami
Perkembangan media digital membuat museum, situs sejarah, hingga peninggalan budaya kini dapat diakses melalui berbagai platform, seperti media sosial, pameran virtual, video pendek, hingga aplikasi interaktif. Teknologi ini berhasil memperluas jangkauan informasi kepada masyarakat.
Namun, menurut tim peneliti, penyebaran informasi secara digital sering kali hanya meningkatkan visibilitas, bukan pemahaman. Banyak pengguna dapat melihat foto atau model tiga dimensi suatu peninggalan sejarah, tetapi tidak memahami konteks sejarah, fungsi, maupun simbol yang terkandung di dalamnya. Akibatnya muncul kesenjangan yang disebut peneliti sebagai kondisi "high visibility but low intelligibility", yaitu warisan budaya mudah ditemukan tetapi sulit dipahami.
Kasus ini terlihat jelas pada pahatan batu di kompleks makam Dinasti Selatan yang tersebar di beberapa wilayah seperti Nanjing dan Zhenjiang. Lokasinya yang terpencar serta minimnya informasi di lapangan membuat masyarakat semakin bergantung pada media digital untuk mempelajari warisan budaya tersebut. Namun penyajian informasi digital yang belum optimal justru menjadi tantangan baru.
Penelitian Mengkaji Pengalaman Pengguna pada Platform Digital
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan menganalisis berbagai media digital yang menyajikan informasi mengenai pahatan batu Dinasti Selatan.
Tim peneliti mengumpulkan data dari dua aplikasi mini WeChat yang menjadi media utama penyebaran informasi, yaitu:
- Southern Dynasties Stone Carvings Cloud Exhibition dengan 38 halaman konten.
- Shicheng Xiaoge Talks Nanjing dengan 36 halaman konten.
Kedua platform dianalisis berdasarkan struktur narasi, mekanisme interaksi, metode penyampaian informasi, hingga kemudahan pengguna memahami isi materi. Peneliti juga melakukan analisis tematik untuk mengidentifikasi hambatan yang dialami pengguna saat mempelajari warisan budaya melalui media digital.
Lima Hambatan Utama dalam Penyebaran Warisan Budaya Digital
Hasil penelitian menemukan lima persoalan utama yang menyebabkan masyarakat sulit memahami warisan budaya digital.
1. Informasi konteks masih minim
Sebagian besar platform lebih menampilkan gambar objek dibanding menjelaskan sejarah, fungsi, serta latar budaya yang melatarbelakanginya.
2. Simbol budaya kurang dijelaskan
Makna simbol pada pahatan, seperti hewan mitologi, struktur jalan suci, dan lambang kekuasaan sering kali tidak dijelaskan secara memadai. Akibatnya, pengguna hanya melihatnya sebagai patung kuno biasa.
3. Cerita disajikan secara terpisah
Setiap objek dijelaskan secara individual tanpa menghubungkannya dengan keseluruhan sistem makam maupun perjalanan sejarah yang lebih luas.
4. Interaksi pengguna masih terbatas
Sebagian besar platform hanya menyediakan fitur memperbesar gambar atau menggulir halaman. Fitur yang mendorong eksplorasi aktif, seperti kuis, perbandingan objek, atau penjelasan interaktif, masih sangat sedikit.
5. Keterhubungan antarplatform belum optimal
Media sosial, pameran virtual, dan platform edukasi belum terhubung menjadi satu pengalaman belajar yang berkelanjutan sehingga pengguna mudah berhenti setelah melihat informasi singkat.
Peneliti Mengusulkan Empat Strategi Desain Interaktif
Berdasarkan hasil analisis tersebut, peneliti mengembangkan kerangka strategi desain pengalaman interaktif yang dapat diterapkan pada berbagai proyek digital heritage.
Empat strategi utama tersebut meliputi:
- Penyusunan konten secara bertingkat, mulai dari informasi dasar, penjelasan simbol, hingga referensi akademik bagi pengguna yang ingin mempelajari lebih dalam.
- Interaksi yang mendorong eksplorasi, misalnya fitur pembesaran detail, anotasi pada bagian penting, perbandingan antarobjek, jalur eksplorasi berdasarkan lokasi, serta tugas interaktif.
- Penyebaran lintas media, yaitu menghubungkan media sosial, situs web, pameran digital, dan pengalaman imersif sehingga pengguna memperoleh pengalaman belajar yang berkesinambungan.
- Menjaga autentisitas informasi, dengan membedakan secara jelas fakta sejarah, interpretasi ilmiah, dan unsur kreatif agar masyarakat memperoleh informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bermanfaat bagi Pelestarian Warisan Budaya Dunia
Menurut para penulis, strategi tersebut tidak hanya relevan untuk pahatan batu Dinasti Selatan, tetapi juga dapat diterapkan pada berbagai jenis warisan budaya lain yang tersebar di banyak lokasi.
Pendekatan ini dinilai mampu membantu pengelola museum, pemerintah, pengembang aplikasi budaya, hingga institusi pendidikan dalam membangun pengalaman digital yang lebih menarik sekaligus edukatif.
Peneliti menekankan bahwa keberhasilan digitalisasi warisan budaya tidak cukup hanya dengan menghadirkan visual berkualitas tinggi. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi mampu membantu masyarakat berpindah dari sekadar melihat warisan budaya menjadi memahami makna budaya yang terkandung di dalamnya.
Sebagaimana dijelaskan oleh Zhenya Zhu dan tim, desain pengalaman interaktif yang menggabungkan organisasi konten, mekanisme interaksi, penyebaran lintas media, dan tata kelola autentisitas dapat meningkatkan pemahaman publik sekaligus mendukung keberlanjutan pelestarian warisan budaya digital.
Penelitian Masih Memiliki Keterbatasan
Peneliti mengakui bahwa penelitian ini masih menggunakan analisis terhadap platform digital yang tersedia untuk umum dan belum melibatkan pengujian langsung kepada pengguna.
Pada penelitian berikutnya, mereka merekomendasikan pengujian terhadap berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang usia, pendidikan, dan tingkat pemahaman budaya yang berbeda. Efektivitas strategi juga dapat diukur menggunakan indikator seperti tingkat pemahaman, penyelesaian tugas, keterlibatan pengguna, dan kepuasan selama menggunakan platform digital.
0 Komentar