Motivasi belajar menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi keberhasilan siswa dalam mengikuti proses pendidikan. Siswa yang memiliki motivasi tinggi cenderung lebih aktif mengikuti diskusi, berani bertanya, menyelesaikan tugas, serta bertahan ketika menghadapi kesulitan belajar.
Namun, kondisi awal di kelas V UPTD SD Negeri 79 Parepare menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa masih relatif rendah. Sejumlah siswa kurang aktif dalam pembelajaran, ragu menyampaikan pendapat, dan belum menunjukkan keterlibatan optimal ketika menyelesaikan tugas. Pola pembelajaran yang masih berpusat pada guru juga membatasi interaksi antarsiswa.
Situasi tersebut menjadi tantangan khusus dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Selain memahami materi, siswa perlu mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara lisan dan tertulis. Karena itu, pembelajaran yang mendorong siswa untuk berinteraksi, bekerja sama, dan berani menyampaikan gagasan menjadi penting.
STAD Mengubah Pembelajaran Menjadi Kerja Sama Tim
Model STAD merupakan salah satu bentuk pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok dengan kemampuan akademik yang beragam. Setelah guru menyampaikan materi, siswa bekerja sama untuk memahami pelajaran, saling membantu, dan mempersiapkan diri menghadapi evaluasi individu.
Hasil evaluasi kemudian berkontribusi terhadap pencapaian kelompok. Penghargaan diberikan kepada kelompok yang menunjukkan hasil terbaik. Struktur ini mendorong siswa untuk tidak hanya bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, tetapi juga membantu teman satu tim.
Dalam penelitian Musfirah, Halik, dan Husain, model STAD digunakan untuk mengajarkan materi kalimat perintah dalam Bahasa Indonesia. Pembelajaran kelompok kemudian dipadukan dengan Wordwall, sebuah platform pembelajaran berbasis web yang menyediakan berbagai aktivitas interaktif seperti kuis, teka-teki, dan permainan edukatif.
Wordwall memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran konvensional. Siswa dapat menjawab pertanyaan melalui aktivitas digital yang lebih interaktif, sementara guru dapat menggunakan hasil aktivitas tersebut untuk melihat pemahaman siswa secara lebih cepat.
Penelitian Berlangsung dalam Tiga Siklus
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam tiga siklus. Setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, observasi, dan refleksi.
Penelitian melibatkan satu guru kelas V dan 25 siswa UPTD SD Negeri 79 Parepare, terdiri atas 12 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Penelitian dilakukan pada semester genap tahun ajaran 2025/2026.
Para peneliti mengamati aktivitas guru, aktivitas siswa, dan tingkat motivasi belajar selama proses pembelajaran. Hasil setiap siklus kemudian digunakan untuk memperbaiki pembelajaran pada siklus berikutnya. Dengan cara ini, guru dapat mengidentifikasi siswa yang masih pasif, memperkuat pendampingan teman sebaya, memperbaiki pengelolaan kelompok, dan mengoptimalkan penggunaan Wordwall.
Motivasi Belajar Naik dari 53,55 Persen Menjadi 84 Persen
Peningkatan motivasi belajar terlihat secara bertahap dalam tiga siklus pembelajaran.
- Siklus I: motivasi belajar mencapai 53,55 persen dan berada dalam kategori kurang.
- Siklus II: motivasi meningkat menjadi 65,82 persen dan masuk kategori baik.
- Siklus III: motivasi mencapai 84 persen dan berada dalam kategori sangat baik.
Pada akhir siklus ketiga, sebanyak 20 siswa atau 80 persen berada dalam kategori motivasi sangat baik. Lima siswa lainnya atau 20 persen berada dalam kategori motivasi baik. Tidak ada siswa yang berada dalam kategori cukup, kurang, maupun sangat kurang.
Peningkatan juga terjadi pada aktivitas guru dan siswa. Aktivitas guru meningkat dari 66,66 persen pada siklus pertama menjadi 94,44 persen pada siklus ketiga. Aktivitas siswa juga naik dari 60,66 persen menjadi 90,44 persen.
Menurut Musfirah, Abd. Halik, dan Sitti Nurrafia Husain dari Universitas Negeri Makassar, peningkatan tersebut berkaitan dengan karakter STAD yang mendorong kerja sama dalam kelompok, dukungan antarteman, dan tanggung jawab bersama. Wordwall kemudian menambahkan unsur interaktif yang membuat siswa lebih tertarik mengikuti proses pembelajaran.
Perubahan perilaku siswa terlihat dalam beberapa aspek. Siswa menjadi lebih berani bertanya dan menjawab pertanyaan, lebih aktif mengikuti diskusi, mampu bekerja sama dengan teman, serta lebih mandiri dalam menyelesaikan tugas. Aktivitas kuis dan penghargaan juga menciptakan kompetisi yang sehat di antara kelompok.
Wordwall Membuat Pembelajaran Lebih Menarik
Kombinasi STAD dan Wordwall memberikan dua pengalaman belajar yang saling melengkapi. STAD membangun interaksi sosial dan kerja sama, sedangkan Wordwall menghadirkan aktivitas digital yang lebih interaktif.
Pada tahap awal penelitian, beberapa siswa masih pasif dan ragu menyampaikan pendapat. Setelah guru memperkuat pendampingan teman sebaya, memberikan penghargaan, dan mengoptimalkan aktivitas Wordwall, motivasi belajar meningkat pada siklus kedua.
Pada siklus ketiga, strategi pembelajaran dibuat lebih bervariasi. Guru memberikan motivasi secara berkelanjutan, menggunakan bentuk penghargaan yang lebih menarik seperti papan peringkat, serta melibatkan siswa secara lebih aktif dalam pembelajaran.
Hasilnya, suasana kelas menjadi lebih hidup. Siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga berdiskusi, membantu teman, mengikuti permainan edukatif, dan berkompetisi secara sehat.
Manfaat bagi Guru dan Sekolah
Temuan ini memberikan alternatif praktis bagi guru sekolah dasar yang ingin meningkatkan motivasi belajar Bahasa Indonesia. Model STAD berbantuan Wordwall dapat digunakan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa, terutama ketika materi pembelajaran membutuhkan interaksi dan latihan berulang.
Bagi sekolah, penelitian ini juga menunjukkan pentingnya dukungan terhadap penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Akses terhadap perangkat, jaringan internet, dan fasilitas digital menjadi faktor yang dapat membantu guru menerapkan media interaktif secara optimal.
Meski demikian, penerapan STAD membutuhkan pengelolaan waktu yang baik. Tahapan pembelajaran meliputi penyampaian materi, pembentukan kelompok, diskusi, kuis, hingga pemberian penghargaan. Guru juga perlu memastikan bahwa seluruh siswa berpartisipasi dan tidak hanya mengandalkan anggota kelompok yang lebih aktif.
Para peneliti merekomendasikan pengembangan penelitian lebih lanjut dengan menerapkan kombinasi STAD dan media digital interaktif pada mata pelajaran, jenjang pendidikan, atau keterampilan lain. Penelitian berikutnya juga dapat mengkaji pengaruh model tersebut terhadap hasil belajar, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan pemecahan masalah.
Profil Penulis
- Musfirah — Universitas Negeri Makassar; bidang pendidikan dasar, pembelajaran Bahasa Indonesia, dan inovasi pembelajaran.
- Abd. Halik — Universitas Negeri Makassar; bidang pendidikan dan pengembangan model pembelajaran.
- Sitti Nurrafia Husain — Universitas Negeri Makassar; bidang pendidikan dan pembelajaran sekolah dasar.
0 Komentar