Riset Ungkap BRT Porong–Pasuruan Layak Dioperasikan dan Menguntungkan

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Surabaya -Kemacetan lalu lintas dan tingginya penggunaan kendaraan pribadi di koridor Porong–Pasuruan, Jawa Timur, berpotensi diatasi melalui pengembangan Bus Rapid Transit (BRT). Kajian terbaru yang dilakukan Dimas Wisnu Haryoko, Dr. Ir. Budi Witjaksana, M.T., dan Dr. Ir. Hanie Teki Tjendani, M.T. dari Program Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menunjukkan bahwa pengoperasian BRT pada koridor tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan transportasi masyarakat, tetapi juga layak secara ekonomi. Penelitian ini dipublikasikan dalam Formosa Journal of Science and Technology (FJST) Volume 5 Nomor 7 Tahun 2026.

Koridor Porong–Pasuruan merupakan salah satu jalur strategis yang menghubungkan kawasan industri, permukiman, dan pusat kegiatan ekonomi di Jawa Timur. Meskipun memiliki mobilitas masyarakat yang tinggi, hingga kini koridor tersebut belum didukung oleh layanan angkutan umum berbasis jalan yang memadai. Kondisi ini menyebabkan masyarakat lebih memilih menggunakan sepeda motor maupun kendaraan pribadi sehingga meningkatkan kemacetan, konsumsi bahan bakar, dan risiko kecelakaan lalu lintas.

Penulis menjelaskan bahwa pertumbuhan kendaraan bermotor di Indonesia yang mencapai sekitar 4,6 persen setiap tahun menjadi indikator bahwa layanan transportasi umum belum mampu memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat. Ketergantungan terhadap kendaraan pribadi akhirnya menciptakan sistem transportasi yang kurang efisien dan tidak berkelanjutan. Di sisi lain, koridor Porong–Pasuruan memiliki potensi besar karena terhubung dengan kawasan industri PIER, terminal, kawasan permukiman, serta didukung tingginya minat masyarakat terhadap transportasi massal di wilayah sekitarnya.

Untuk mengetahui kebutuhan transportasi yang ideal, tim peneliti menggunakan pendekatan Four Step Model, yaitu metode yang umum dipakai dalam perencanaan transportasi untuk memprediksi pola perjalanan masyarakat. Analisis dilakukan terhadap kebutuhan perjalanan, distribusi pergerakan, pilihan moda transportasi, hingga penentuan rute pelayanan. Setelah kebutuhan penumpang diperkirakan, penelitian dilanjutkan dengan analisis kinerja operasional, perhitungan biaya operasional kendaraan, serta evaluasi kelayakan investasi menggunakan indikator Benefit Cost Ratio (BCR). Pendekatan ini memungkinkan peneliti menilai apakah layanan BRT mampu beroperasi secara efisien sekaligus memberikan keuntungan ekonomi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa skema operasional BRT yang paling optimal adalah layanan yang beroperasi selama 16 jam setiap hari, mulai pukul 05.00 hingga 21.00 WIB. Rute yang dirancang memiliki panjang sekitar 33,4 kilometer dengan kecepatan operasional rata-rata 30 kilometer per jam sehingga waktu tempuh satu perjalanan sekitar 66,8 menit. Untuk satu perjalanan pulang-pergi diperlukan waktu sekitar 143,6 menit, sedangkan waktu satu siklus operasi mencapai 153,62 menit.

Penelitian juga menetapkan interval kedatangan bus atau headway sekitar 14,65 menit, dengan frekuensi layanan sekitar 4,1 bus setiap jam. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, kebutuhan armada yang dinilai paling efisien adalah 10 unit bus berkapasitas 30 penumpang, dengan masing-masing kendaraan melayani sekitar enam perjalanan setiap hari. Perencanaan ini dinilai mampu memberikan pelayanan yang stabil sekaligus menjaga efisiensi operasional.

Selain aspek operasional, penelitian juga menghitung biaya penyelenggaraan layanan. Biaya operasional dasar kendaraan diperkirakan sebesar Rp10.341,79 per kilometer, sedangkan tarif yang dikenakan kepada penumpang sekitar Rp541,71 per kilometer. Dengan asumsi tingkat keterisian penumpang atau load factor sebesar 70 persen, operasional BRT diproyeksikan mampu menghasilkan pendapatan tahunan lebih dari Rp11,36 miliar, sementara biaya operasional tahunan diperkirakan sekitar Rp10,33 miliar.

Perhitungan kelayakan investasi menghasilkan nilai Benefit Cost Ratio (BCR) sebesar 1,10. Dalam analisis ekonomi transportasi, nilai BCR di atas satu menunjukkan bahwa manfaat yang diperoleh lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan. Dengan demikian, proyek pengembangan Bus Rapid Transit pada koridor Porong–Pasuruan dinyatakan layak untuk direalisasikan karena secara finansial mampu memberikan keuntungan sekaligus mendukung penyediaan layanan transportasi publik yang lebih baik.

Menurut Dimas Wisnu Haryoko dan tim peneliti dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, hasil ini memberikan dasar ilmiah yang kuat bagi pemerintah daerah maupun operator transportasi dalam merencanakan investasi BRT di koridor Porong–Pasuruan. Informasi mengenai kebutuhan armada, pola perjalanan masyarakat, biaya operasional, hingga potensi pendapatan dapat menjadi acuan dalam menyusun strategi pelayanan transportasi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Temuan ini juga memiliki dampak yang lebih luas. Kehadiran layanan BRT diperkirakan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi, menekan kemacetan lalu lintas, meningkatkan keselamatan pengguna jalan, serta memperkuat konektivitas antara kawasan industri, pusat perdagangan, dan wilayah permukiman. Dalam jangka panjang, pengembangan transportasi massal yang terencana juga berpotensi mendukung pertumbuhan ekonomi regional sekaligus mengurangi emisi dari sektor transportasi.

Peneliti merekomendasikan agar penelitian selanjutnya mengembangkan perencanaan BRT dengan mempertimbangkan sistem penjadwalan kendaraan, teknologi tiket elektronik, analisis permintaan penumpang pada jam sibuk dan nonjam sibuk, desain halte dan jalur khusus bus, serta memasukkan manfaat sosial dan lingkungan seperti pengurangan waktu perjalanan, penurunan kecelakaan lalu lintas, penghematan biaya operasional kendaraan pribadi, dan penurunan emisi karbon. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan sistem transportasi massal yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

Profil Penulis

Dimas Wisnu Haryoko merupakan mahasiswa Program Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Penelitian ini dilakukan bersama Dr. Ir. Budi Witjaksana, M.T. dan Dr. Ir. Hanie Teki Tjendani, M.T., yang memiliki keahlian di bidang teknik sipil, transportasi, perencanaan infrastruktur, serta pengembangan sistem transportasi berkelanjutan. Fokus penelitian mereka meliputi perencanaan transportasi, analisis kebutuhan angkutan umum, evaluasi operasional, dan studi kelayakan investasi transportasi.

Sumber Penelitian

Haryoko, D. W., Witjaksana, B., & Tjendani, H. (2026). Examination of Operational Strategy and Economic Viability of Bus Rapid Transit (BRT) Along the Porong–Pasuruan Route Through Four Step Model Analysis. Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5, No. 7, 1733–1744. DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i7.104. URL : https://journalfjst.my.id/index.php/fjst

Posting Komentar

0 Komentar