![]() |
| Illustration by Ai |
Perahu bagan yang digunakan nelayan di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, ternyata menyimpan berbagai konsep geometri yang selama ini diterapkan secara alami oleh masyarakat pesisir. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Mulyati dari STKIP YPUP Makassar bersama Nely Salu Padang, Fitri Arniati, dan Miftahul Janna, yang dipublikasikan pada Juni 2026 di Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA). Penelitian ini penting karena menunjukkan bahwa matematika tidak hanya ditemukan di ruang kelas, tetapi juga hidup dalam budaya dan aktivitas sehari-hari masyarakat.
Para peneliti menemukan bahwa struktur perahu bagan
mengandung berbagai unsur geometri seperti garis sejajar, garis tegak lurus,
sudut, segitiga, persegi panjang, simetri, luas, keliling, skala, hingga
perbandingan ukuran. Konsep-konsep tersebut digunakan nelayan saat merancang,
membangun, dan mengoperasikan alat tangkap tradisional tersebut berdasarkan
pengalaman dan pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Matematika Hadir dalam Kehidupan Nelayan
Kabupaten Barru dikenal sebagai salah satu wilayah pesisir
di Sulawesi Selatan yang memiliki aktivitas perikanan cukup tinggi. Salah satu
alat tangkap yang masih banyak digunakan adalah perahu bagan atau boat lift
net, yaitu alat penangkap ikan berbentuk rangka persegi yang dilengkapi
jaring, tiang penyangga, tali, lampu, dan perahu bermotor.
Bagi masyarakat pesisir Barru, perahu bagan bukan sekadar
alat untuk mencari ikan. Struktur dan cara pembuatannya mencerminkan kecerdasan
lokal dalam memanfaatkan prinsip-prinsip teknik dan matematika agar alat
tersebut kuat, seimbang, dan efektif digunakan di laut.
Menurut para peneliti, selama ini perahu bagan lebih sering
dikaji dari sisi perikanan, produktivitas tangkapan, dan ekonomi nelayan.
Sementara itu, nilai-nilai matematika yang terkandung di dalamnya masih jarang
diteliti secara mendalam.
Meneliti Perahu Bagan dari Perspektif Etnomatematika
Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif
eksploratif dengan perspektif etnomatematika. Pendekatan ini digunakan untuk
mengungkap hubungan antara konsep matematika dan budaya masyarakat pesisir.
Tim peneliti melakukan observasi langsung di wilayah pesisir
Kabupaten Barru, mewawancarai nelayan, pembuat bagan, pemilik bagan, serta
tokoh masyarakat yang memahami proses pembuatan dan penggunaan alat tangkap
tersebut. Dokumentasi foto, catatan lapangan, dan identifikasi unsur geometri
juga dilakukan untuk memperkuat hasil penelitian.
Melalui proses tersebut, para peneliti memetakan berbagai
konsep matematika yang terdapat pada setiap bagian perahu bagan.
Banyak Konsep Geometri Tersembunyi dalam Struktur Bagan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh bagian
perahu bagan memiliki hubungan dengan konsep geometri yang diajarkan di
sekolah.
Beberapa temuan utama antara lain:
- Persegi
panjang ditemukan pada rangka utama tempat pemasangan jaring.
- Garis
sejajar dan tegak lurus terlihat pada susunan batang rangka dan tiang
penyangga.
- Segitiga
terbentuk dari hubungan antara tiang utama, tali penyangga, dan rangka
bagan.
- Sudut
muncul pada pertemuan tali, tiang, dan rangka.
- Simetri
terlihat pada keseimbangan sisi kiri dan kanan bagan.
- Luas
dan keliling berkaitan dengan ukuran jaring penangkap ikan.
- Skala
dan perbandingan ukuran digunakan dalam menentukan dimensi rangka,
tinggi tiang, dan panjang tali.
Peneliti juga menemukan bahwa nelayan melakukan berbagai
aktivitas matematis tanpa menyebutnya sebagai matematika. Mereka mengukur
panjang rangka, memperkirakan ukuran jaring, menentukan tinggi tiang,
membandingkan ukuran komponen, dan mengatur keseimbangan struktur berdasarkan
pengalaman lapangan.
Menurut hasil wawancara, keseimbangan menjadi faktor yang
sangat penting. Jika sisi kiri dan kanan bagan tidak seimbang, alat tangkap
dapat mudah miring atau rusak ketika menghadapi gelombang laut. Karena itu,
nelayan secara tidak langsung menerapkan konsep simetri dan proporsi dalam
proses pembuatannya.
Bukti Kecerdasan Lokal Masyarakat Pesisir
Penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat pesisir Barru
memiliki pengetahuan praktis yang kaya mengenai bentuk, ukuran, dan konstruksi.
Pengetahuan tersebut diperoleh melalui pengalaman panjang dan diwariskan secara
turun-temurun.
Dalam kajian etnomatematika, kondisi ini menunjukkan bahwa
matematika berkembang tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga
melalui budaya dan aktivitas sehari-hari masyarakat. Perahu bagan menjadi
contoh nyata bagaimana konsep matematika hidup dalam praktik tradisional.
Mulyati dan tim peneliti menjelaskan bahwa keberadaan konsep
geometri pada perahu bagan memperlihatkan adanya hubungan erat antara budaya
lokal dan matematika. Pengetahuan yang dimiliki nelayan tidak hanya bernilai
teknis, tetapi juga mengandung nilai sosial, budaya, dan pendidikan.
Potensi Besar untuk Pendidikan Matematika
Salah satu manfaat utama penelitian ini adalah peluang
mengintegrasikan budaya lokal ke dalam pembelajaran matematika. Para peneliti
menilai bahwa perahu bagan dapat digunakan sebagai media pembelajaran geometri
yang lebih kontekstual dan mudah dipahami siswa, terutama di daerah pesisir.
Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak hanya mempelajari
rumus dan teori, tetapi juga memahami bagaimana konsep matematika diterapkan
dalam kehidupan nyata masyarakat di sekitarnya. Pendekatan ini juga dapat
meningkatkan apresiasi terhadap warisan budaya lokal.
Peneliti merekomendasikan pengembangan bahan ajar, modul,
lembar kerja siswa, maupun media pembelajaran berbasis etnomatematika perahu
bagan. Penelitian lanjutan juga dapat dilakukan pada alat tangkap tradisional
lainnya untuk memperkaya sumber belajar matematika berbasis budaya Indonesia.
Profil Penulis
Mulyati, M.Pd. adalah akademisi dari STKIP YPUP
Makassar yang meneliti bidang pendidikan matematika dan etnomatematika.
Nely Salu Padang merupakan peneliti dari Institusi
Jambatan Bulan yang memiliki perhatian pada kajian budaya dan pendidikan
masyarakat.
Fitri Arniati adalah akademisi dari Universitas
Pendidikan Muhammadiyah Sorong yang fokus pada pengembangan pembelajaran
berbasis budaya lokal.
Miftahul Janna merupakan dosen dan peneliti dari Universitas
Negeri Makassar yang menekuni bidang pendidikan dan pengembangan
pembelajaran matematika.
Sumber Penelitian
Link Jurnal: https://journalmudima.my.id/index.php/mudima
Link Artikel: https://doi.org/10.55927/mudima.v6i6.73

0 Komentar