Gambar Ilustration AI
FORMOSA NEWS - Medan - Kombinasi AI dan Sensor IoT Siap Atasi Krisis Overtourism di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Penelitian yang dilakukan oleh Kartini Harahap dari Universitas Sumatera Utara dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Asian Journal of Management Analytics (AJMA) edisi Vol. 5 No. 3 Tahun 2026 menyoroti bahwa solusi krusial bagi pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia yang kerap mengalami krisis overtourism, di mana kunjungan harian pada musim puncak dapat mencapai 9.000 orang per hari, melampaui batas aman ekologis yang berada pada angka 3,500 orang .
Latar Belakang: Menyeimbangkan Konservasi dan Pariwisata
Pariwisata berbasis alam di Indonesia menghadapi tantangan besar antara mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga kelestarian lingkungan . Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang memiliki luas 50.276 hektare mencatatkan lebih dari 368.000 kunjungan wisatawan sepanjang tahun 2024 . Namun, lonjakan wisatawan yang tidak terintegrasi dengan pemantauan real-time berdampak pada kemacetan lalu lintas, erosi vegetasi, peningkatan emisi kendaraan, hingga memicu konflik spasial dengan masyarakat adat suku Tengger . Bila beberapa destinasi dunia seperti Venesia dan Barcelona telah mengadopsi sistem pemantauan berbasis AI, banyak kawasan konservasi di negara berkembang masih mengandalkan sistem kuota manual atau penutupan sementara yang bersifat reaktif . Konsep Digital Carrying Capacity Management (DCCM) hadir untuk menjembatani kesenjangan tersebut melalui pemanfaatan data digital secara adaptif.
Metodologi Penelitian Sederhana
Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran yang menggabungkan simulasi komputer, penilaian pakar, dan pemrosesan data otomatis :
.
Temuan Utama Penelitian
Riset ini menghasilkan beberapa temuan penting yang membuktikan efektivitas integrasi teknologi cerdas dalam pengelolaan kawasan pariwisata :
Penerapan model daya dukung digital memberikan dampak praktis bagi pengelola taman nasional dan pemangku kepentingan :
Latar Belakang: Menyeimbangkan Konservasi dan Pariwisata
Pariwisata berbasis alam di Indonesia menghadapi tantangan besar antara mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga kelestarian lingkungan
Metodologi Penelitian Sederhana
Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran yang menggabungkan simulasi komputer, penilaian pakar, dan pemrosesan data otomatis
- Simulasi Dinamika Sistem (System Dynamics Modeling): Pemodelan interaksi antara arus wisatawan, daya dukung lingkungan, dan kapasitas infrastruktur dari tahun 2024 hingga 2030 menggunakan perangkat lunak Vensim DSS
. - Analisis Keputusan Multikriteria (Fuzzy-MCDM): Pengukuran bobot prioritas terhadap indikator ekologi, sosial, dan teknologi berdasarkan masukan dari 12 pakar lingkungan, pengelola kawasan, dan akademisi
. - Prediksi Kecerdasan Buatan (AI): Pengolahan data sensor dan lingkungan menggunakan algoritma machine learning (Gradient Boosting, Random Forest, dan Logistic Regression) untuk menghitung indeks daya dukung secara akurat
.
Temuan Utama Penelitian
Riset ini menghasilkan beberapa temuan penting yang membuktikan efektivitas integrasi teknologi cerdas dalam pengelolaan kawasan pariwisata
- Sistem Cerdas Mengungguli Metode Konvensional: Skenario Smart Capacity Optimization (SCO) berbasis AI berhasil menurunkan beban ekologis hingga 35 persen dan meningkatkan efisiensi daya dukung sebesar 28 persen dibandingkan skenario tanpa kontrol digital (Business as Usual)
. - Dimensi Digital Menjadi Faktor Paling Berpengaruh: Penilaian Fuzzy-AHP menunjukkan bahwa dimensi digital menyumbangkan kontribusi terbesar bagi keberlanjutan kawasan (0,521)
. Tiga indikator digital utama adalah keaktifan sensor IoT (bobot 0,209), akurasi data (0,189), dan algoritma prediksi AI (0,167) . - Akurasi AI yang Tinggi: Algoritma Gradient Boosting terbukti paling andal dalam memprediksi status daya dukung kawasan dengan tingkat akurasi mencapai 94,2 persen dan nilai ROC-AUC sebesar 0,95
. - Sistem Peringatan Dini Berbasis Indeks: Penelitian ini merumuskan Digital Carrying Capacity Index (DCCI) yang membagi kondisi kawasan menjadi Zona Berkelanjutan (DCCI < 1,00), Zona Waspada (1,00–1,25), dan Zona Risiko Overtourism (> 1,25)
.
Penerapan model daya dukung digital memberikan dampak praktis bagi pengelola taman nasional dan pemangku kepentingan
- Pengaturan Kuota Dinamis: Pengelola dapat menyesuaikan jadwal dan batas kunjungan harian secara otomatis melalui dashboard berbasis sensor tanpa harus menutup kawasan secara mendadak
. - Model Tata Kelola Nasional: Kerangka DCCI dapat diterapkan pada destinasi prioritas lain di Indonesia untuk mendukung kebijakan pariwisata hijau dan berkelanjutan
. - Perlindungan Lingkungan dan Masyarakat: Pengendalian volume kendaraan secara presisi membantu menurunkan emisi karbon, menjaga kualitas air, serta mengurangi potensi konflik sosial di area konservasi
.
Kartini Harahap, M.Si. Dosen dan Peneliti, Universitas Sumatera Utara berfokus pada keahlian transformasi digital, manajemen pariwisata berkelanjutan, dan administrasi publik
Sumber Penelitian
Kartini Harahap. Digital Capacity Management for Sustainable Tourism: A Breakthrough in Overtourism Control in Bromo Tengger Semeru National Park. Asian Journal of Management Analytics (AJMA). Vol. 5, No. 3, Tahun 2026 Hal. 511-.528.
DOI :

0 Komentar