Penelitian Ungkap Dukungan Sosial dan Kepercayaan Diri Menjadi Kunci Ketahanan Mental Pasien Penyakit Kronis

Ilustrasi by AI

Surabaya – Dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan sekitar, disertai kepercayaan diri dalam mengelola penyakit, menjadi faktor terpenting yang membantu pasien penyakit kronis tetap tangguh menghadapi berbagai tantangan kesehatan. Sebaliknya, depresi, kecemasan, dan tekanan akibat penyakit terbukti menurunkan kemampuan pasien untuk bangkit dan beradaptasi. Temuan tersebut diungkap oleh Ananda Putri, Suhadianto, dan I Gusti Ayu Agung Noviekayati dari Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR). Melalui kajian literatur sistematis, penelitian ini menyimpulkan bahwa ketahanan psikologis atau resilience merupakan hasil interaksi berbagai faktor psikologis, spiritual, sosial, klinis, dan demografis yang dapat diperkuat melalui intervensi yang tepat.

Penyakit kronis seperti diabetes melitus, penyakit ginjal kronis, penyakit jantung, kanker, stroke, dan penyakit paru obstruktif kronis tidak hanya memengaruhi kondisi fisik seseorang, tetapi juga berdampak besar terhadap kesehatan mental. Pasien harus menjalani pengobatan dalam jangka panjang, menghadapi perubahan aktivitas sehari-hari, serta hidup dengan ketidakpastian mengenai perkembangan penyakitnya. Situasi tersebut sering menimbulkan stres, kecemasan, depresi, hingga menurunkan kualitas hidup apabila tidak diimbangi dengan kemampuan beradaptasi yang baik.

Penelitian ini menjelaskan bahwa tidak semua pasien memberikan respons psikologis yang sama terhadap penyakit kronis. Sebagian mampu tetap optimistis, disiplin menjalani pengobatan, serta mempertahankan kualitas hidup yang baik meskipun menghadapi berbagai keterbatasan. Kemampuan tersebut dikenal sebagai resiliensi, yaitu kemampuan seseorang untuk bangkit, beradaptasi, dan tetap berfungsi secara positif ketika menghadapi tekanan hidup. Peneliti menegaskan bahwa resiliensi bukan sifat bawaan, melainkan kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pengalaman, dukungan lingkungan, dan intervensi psikologis.

Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi resiliensi, peneliti menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) sesuai pedoman PRISMA 2020 dan Joanna Briggs Institute (JBI) 2020. Penelusuran literatur dilakukan melalui enam basis data internasional, yaitu PubMed, Web of Science, Scopus, PsycINFO, EBSCO, dan Google Scholar terhadap artikel yang diterbitkan pada periode 2020–2026. Dari 3.818 artikel yang berhasil ditemukan, hanya 26 penelitian yang memenuhi seluruh kriteria inklusi dan dianalisis menggunakan pendekatan narrative synthesis.

Hasil sintesis menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi resiliensi dapat dikelompokkan ke dalam lima domain utama, yaitu faktor psikologis, spiritual, sosial, klinis, dan sosiodemografis. Di antara seluruh faktor tersebut, dukungan sosial dan efikasi diri (self-efficacy) muncul sebagai faktor yang paling konsisten meningkatkan resiliensi pada berbagai jenis penyakit kronis. Sebaliknya, depresi, kecemasan, dan tekanan psikologis akibat penyakit secara konsisten berkaitan dengan rendahnya tingkat resiliensi.

Pada aspek psikologis, penelitian menemukan bahwa pasien yang memiliki keyakinan terhadap kemampuannya mengelola penyakit cenderung lebih mampu menghadapi tantangan pengobatan jangka panjang. Efikasi diri membuat pasien lebih disiplin menjalankan terapi, lebih percaya diri menghadapi perubahan kondisi kesehatan, dan lebih mudah menemukan cara untuk menyelesaikan berbagai masalah yang muncul selama proses pengobatan. Sebaliknya, depresi dan kecemasan membuat pasien lebih sulit memandang penyakit sebagai tantangan yang dapat diatasi sehingga kemampuan beradaptasi menjadi menurun.

Faktor spiritual juga terbukti memiliki peran yang kuat, terutama pada pasien penyakit ginjal kronis dan kanker. Spiritualitas, religiositas, harapan hidup, serta kemampuan menemukan makna di balik pengalaman sakit membantu pasien menerima kondisi yang dialami dan mempertahankan semangat menjalani pengobatan. Penelitian menunjukkan bahwa pasien yang memiliki kesejahteraan spiritual cenderung memiliki resiliensi yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memperoleh dukungan spiritual.

Sementara itu, dukungan sosial menjadi faktor yang paling konsisten ditemukan dalam seluruh penelitian yang dianalisis. Dukungan dari keluarga, pasangan, teman, maupun tenaga kesehatan membantu pasien merasa tidak menghadapi penyakit seorang diri. Kehadiran orang-orang terdekat mampu mengurangi tekanan emosional, meningkatkan motivasi menjalani pengobatan, sekaligus memperkuat keyakinan pasien bahwa dirinya mampu mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi. Bahkan dalam beberapa penelitian, dukungan sosial terbukti menjadi prediktor paling kuat terhadap tingginya resiliensi pasien penyakit kronis.

Peneliti juga menemukan bahwa faktor klinis seperti beratnya gejala penyakit, tingkat stres akibat penyakit, kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, serta kemampuan mengelola penyakit turut memengaruhi resiliensi. Pasien dengan gejala yang lebih ringan, kondisi kesehatan yang lebih stabil, dan kemampuan melakukan aktivitas secara mandiri cenderung memiliki tingkat resiliensi yang lebih tinggi dibandingkan pasien dengan keterbatasan fisik yang berat. Sebaliknya, faktor sosiodemografis seperti usia, tingkat pendidikan, dan status ekonomi menunjukkan pengaruh yang relatif lebih kecil serta tidak selalu konsisten pada setiap penelitian.

Berdasarkan pembahasan berbagai penelitian, penulis menegaskan bahwa dukungan sosial merupakan faktor yang paling kuat dan paling konsisten dalam membangun resiliensi pasien penyakit kronis. Selain itu, efikasi diri dan kesehatan mental memiliki hubungan yang saling memengaruhi. Pasien yang percaya pada kemampuannya akan lebih mudah mengembangkan strategi koping yang adaptif, sedangkan depresi dan kecemasan justru memperlemah kemampuan seseorang dalam menghadapi tekanan penyakit. Oleh karena itu, intervensi psikologis sebaiknya tidak hanya berfokus pada pasien secara individu, tetapi juga melibatkan keluarga serta lingkungan sosial sebagai bagian dari proses pemulihan.

Penelitian ini merekomendasikan agar layanan kesehatan menerapkan intervensi berbasis resiliensi yang menggabungkan peningkatan efikasi diri, penguatan dukungan keluarga, pelatihan manajemen diri, pendampingan psikologis, serta pemanfaatan nilai-nilai spiritual sesuai latar belakang budaya pasien. Selain itu, tenaga kesehatan juga disarankan melakukan skrining rutin terhadap gejala depresi, kecemasan, dan ketersediaan dukungan sosial sehingga pasien yang berisiko mengalami gangguan psikologis dapat memperoleh bantuan lebih awal.

Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa resiliensi pada pasien penyakit kronis bukan hanya dipengaruhi oleh kondisi medis, tetapi juga oleh kekuatan psikologis, dukungan sosial, dan spiritualitas. Dengan mengembangkan faktor-faktor tersebut secara bersamaan, pasien memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan kesehatan mental, meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan, serta menjalani kehidupan yang lebih berkualitas meskipun harus hidup berdampingan dengan penyakit kronis.

Profil Penulis

Ananda Putri – Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Indonesia.

Suhadianto – Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Indonesia.

I Gusti Ayu Agung Noviekayati – Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Indonesia.

Sumber Penelitian

Judul: Determinants of Resilience among Adults with Chronic Disease: A Systematic Literature Review.

Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4 No. 7, 2026.

DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i7.111

Jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr

Posting Komentar

0 Komentar