Surabaya – Dukungan emosional dari suami dan keluarga, disertai skrining psikologis sejak dini, berperan penting dalam mencegah baby blues syndrome pada ibu yang baru pertama kali melahirkan. Kecemasan, stres, kurang tidur, rendahnya kepercayaan diri, serta kurangnya kesiapan menjadi ibu terbukti meningkatkan risiko gangguan emosional pada dua minggu pertama setelah persalinan. Temuan tersebut diungkap oleh Mutiara Amalia, I Gusti Ayu Agung Noviekayati, dan Suhadianto dari Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR). Melalui kajian literatur sistematis, penelitian ini menyimpulkan bahwa berbagai faktor psikososial saling berinteraksi sehingga dukungan keluarga menjadi salah satu pelindung terkuat untuk mencegah terjadinya baby blues syndrome.
Masa nifas merupakan salah satu fase transisi terbesar dalam kehidupan seorang perempuan. Selain harus memulihkan kondisi fisik setelah melahirkan, ibu juga dituntut beradaptasi dengan proses menyusui, pola tidur yang berubah, perawatan bayi, hingga peran baru sebagai orang tua. Bagi ibu yang baru pertama kali memiliki anak, perubahan tersebut sering kali terasa sangat berat karena belum memiliki pengalaman sebelumnya. Ketika tuntutan fisik dan emosional melebihi kemampuan beradaptasi, ibu dapat mengalami perubahan suasana hati berupa mudah menangis, mudah marah, cemas, kelelahan, dan merasa tidak mampu menjalankan perannya sebagai ibu. Kondisi inilah yang dikenal sebagai baby blues syndrome.
Meskipun umumnya bersifat sementara dan membaik dalam waktu kurang dari dua minggu, baby blues tidak boleh dianggap sebagai kondisi yang sepele. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gejala yang menetap atau semakin berat dapat menjadi tanda awal berkembangnya depresi pascapersalinan apabila tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, mengenali faktor-faktor psikososial yang memengaruhi kondisi tersebut menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan mental ibu setelah melahirkan.
Untuk memahami faktor-faktor tersebut, peneliti menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengikuti pedoman PRISMA 2020. Artikel ilmiah dikumpulkan dari basis data PubMed, DOAJ, Google Scholar, dan GARUDA yang diterbitkan pada periode 2020–2026. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, sebanyak 15 penelitian memenuhi kriteria dan dianalisis secara mendalam. Seluruh penelitian tersebut membahas berbagai faktor psikososial yang berkaitan dengan baby blues pada ibu primipara, seperti dukungan sosial, kecemasan, stres, strategi koping, kesiapan menjadi ibu, efikasi diri, hubungan pernikahan, kualitas tidur, kelelahan, pengalaman persalinan, hingga kondisi ekonomi keluarga.
Hasil kajian menunjukkan bahwa dukungan suami dan keluarga merupakan faktor pelindung yang paling konsisten. Dukungan emosional berupa mendengarkan tanpa menghakimi, bantuan nyata dalam merawat bayi dan pekerjaan rumah, pendampingan saat menyusui, pemberian informasi yang benar, hingga penghargaan terhadap keputusan ibu terbukti mampu mengurangi beban psikologis selama masa nifas. Menariknya, penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas dukungan jauh lebih penting dibandingkan jumlah anggota keluarga yang membantu. Bantuan yang sesuai dengan kebutuhan ibu lebih bermanfaat daripada keterlibatan yang justru bersifat mengatur atau mengkritik.
Penelitian ini juga menemukan bahwa kecemasan menjadi salah satu pemicu utama baby blues. Kekhawatiran mengenai kemampuan menyusui, kesehatan bayi, kondisi tubuh setelah melahirkan, hingga kemampuan menjalankan peran sebagai ibu dapat meningkatkan tekanan emosional. Kecemasan tersebut sering kali menyebabkan gangguan tidur dan kelelahan berkepanjangan sehingga memperburuk kestabilan emosi. Oleh karena itu, peneliti menilai bahwa pemeriksaan tingkat kecemasan perlu menjadi bagian dari pelayanan kesehatan ibu setelah melahirkan.
Selain kecemasan, efikasi diri atau kepercayaan ibu terhadap kemampuannya merawat bayi juga memiliki pengaruh besar. Ibu yang yakin bahwa keterampilan mengasuh dapat dipelajari secara bertahap cenderung lebih mudah beradaptasi ketika menghadapi kesulitan menyusui atau bayi yang sering menangis. Sebaliknya, ibu dengan rasa percaya diri yang rendah lebih mudah menganggap kesulitan tersebut sebagai bukti bahwa dirinya gagal menjadi seorang ibu. Strategi koping yang adaptif, komunikasi terbuka dengan pasangan, serta kemampuan membangun resiliensi menjadi faktor penting yang membantu ibu melewati masa penyesuaian tersebut.
Kualitas tidur dan kelelahan fisik juga menjadi jalur penting yang menghubungkan tekanan psikologis dengan munculnya baby blues. Kurangnya waktu tidur akibat menyusui, rasa nyeri setelah persalinan, serta kewajiban merawat bayi sepanjang malam membuat kemampuan ibu mengendalikan emosi menjadi menurun. Namun, penelitian ini menegaskan bahwa kurang tidur bukan hanya persoalan fisik, melainkan juga dipengaruhi oleh kondisi sosial, misalnya apakah suami ikut berbagi tanggung jawab merawat bayi atau apakah keluarga memberikan bantuan yang benar-benar meringankan pekerjaan ibu.
Faktor lain yang turut meningkatkan risiko baby blues adalah konflik dalam rumah tangga, tekanan ekonomi, kehamilan yang tidak direncanakan, pengalaman persalinan yang traumatis, kurangnya pengetahuan mengenai masa nifas, serta terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan mental. Peneliti menjelaskan bahwa faktor-faktor tersebut tidak bekerja secara terpisah, melainkan saling memengaruhi melalui mekanisme stres–adaptasi–dukungan, di mana tekanan yang tinggi tanpa dukungan sosial yang memadai akan meningkatkan kerentanan ibu terhadap gangguan emosional setelah melahirkan.
Berdasarkan hasil kajian tersebut, peneliti merekomendasikan agar skrining psikososial dimulai sejak masa kehamilan, bukan setelah persalinan. Pemeriksaan perlu mencakup kondisi suasana hati, kecemasan, kualitas tidur, kelelahan, kesiapan menjadi ibu, dukungan keluarga, serta kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari. Evaluasi lanjutan juga disarankan dilakukan sebelum ibu pulang dari fasilitas kesehatan, kemudian diulang pada hari ketiga hingga ketujuh setelah melahirkan—masa ketika gejala baby blues umumnya mencapai puncaknya—serta kembali sekitar dua minggu pascapersalinan. Apabila gejala terus memburuk atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri maupun bayi, ibu harus segera mendapatkan penanganan profesional.
Menurut Mutiara Amalia dan tim peneliti, upaya mencegah baby blues tidak cukup hanya dengan memberikan edukasi kepada ibu. Suami, keluarga, bidan, perawat, dan tenaga kesehatan juga perlu dilibatkan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung proses adaptasi ibu setelah melahirkan. Pembagian tugas merawat bayi, dukungan emosional, bantuan praktis, serta pendampingan psikologis yang tepat waktu menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental ibu pada masa nifas.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa baby blues syndrome bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan merupakan hasil interaksi berbagai faktor psikososial. Dengan mengenali risiko sejak masa kehamilan, memperkuat dukungan keluarga, serta menerapkan skrining psikologis secara rutin, tenaga kesehatan dapat membantu ibu yang baru pertama kali melahirkan menjalani masa transisi menuju peran sebagai orang tua dengan lebih tenang dan mengurangi risiko berkembangnya gangguan mental pascapersalinan yang lebih serius.
Profil Penulis
Mutiara Amalia – Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Indonesia.
I Gusti Ayu Agung Noviekayati – Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Indonesia.
Suhadianto – Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Indonesia.
Sumber Penelitian
Judul: Psychosocial Factors Influencing Baby Blues Syndrome in Primiparous Mothers: A Systematic Literature Review.
Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4 No. 7, 2026.
0 Komentar