Perkembangan industri modern mendorong penggunaan berbagai bahan kimia berbahaya, seperti etanol, formalin, toluena, dan asam sulfat, dalam proses produksi. Di balik manfaatnya, bahan-bahan tersebut juga memiliki risiko tinggi apabila terjadi kebocoran pada tangki penyimpanan maupun jalur distribusi. Tumpahan bahan kimia dapat menyebabkan kecelakaan kerja, membahayakan kesehatan pekerja, serta mencemari lingkungan jika tidak segera ditangani. Karena itu, industri membutuhkan sistem yang mampu memberikan respons cepat sebelum tumpahan meluas.
Menurut Jenni Ria Rajagukguk dan Wanda Kurniawan dari Universitas Krisnadwipayana, sebagian besar sistem pembatas tumpahan yang telah digunakan masih bergantung pada pengoperasian manual atau belum memiliki kemampuan mendeteksi cairan secara otomatis. Kondisi tersebut membuat penanganan keadaan darurat sangat bergantung pada kecepatan operator, sehingga risiko penyebaran bahan berbahaya tetap tinggi. Penelitian ini menghadirkan pendekatan baru melalui integrasi sensor elektronik, mikrokontroler, dan aktuator dalam satu sistem otomatis.
Menguji Prototipe Barricade Otomatis
Tim peneliti merancang prototipe ASEB berukuran sekitar 100 × 50 sentimeter yang terdiri atas water level sensor, Arduino sebagai pusat kendali, linear motor actuator sebagai penggerak pembatas, serta tombol manual sebagai alternatif pengoperasian darurat.
Pengujian dilakukan melalui eksperimen laboratorium. Sensor diuji pada berbagai ketinggian cairan antara 0 hingga 5 sentimeter, kemudian sistem diuji sebanyak 10 kali untuk mengetahui tingkat akurasi deteksi. Peneliti juga mengukur waktu yang dibutuhkan barricade untuk menutup dan membuka area setelah menerima sinyal dari sensor. Seluruh hasil pengujian dianalisis menggunakan pendekatan kuantitatif untuk melihat konsistensi performa sistem.
Sensor Mendeteksi Tumpahan dengan Akurasi 100 Persen
Hasil pengujian menunjukkan bahwa sensor bekerja secara konsisten sesuai prinsip konduktivitas listrik. Semakin tinggi permukaan cairan, nilai hambatan listrik yang terbaca sensor semakin rendah. Hubungan tersebut membuktikan bahwa sensor mampu mengenali perubahan volume cairan secara stabil.
Pengujian terhadap sistem otomatis menghasilkan performa yang sangat baik. Dari sepuluh kali percobaan, sensor selalu berhasil mendeteksi keberadaan cairan dan mengaktifkan motor penggerak ketika diperlukan.
Beberapa hasil utama penelitian meliputi:
- Sistem mendeteksi keberadaan cairan dengan akurasi 100 persen.
- Linear motor selalu aktif ketika sensor mendeteksi cairan.
- Motor tetap tidak aktif ketika tidak terdapat cairan.
- Tidak ditemukan kesalahan deteksi selama seluruh rangkaian pengujian.
- Waktu rata-rata menutup barricade mencapai 40,60 detik.
- Waktu rata-rata membuka barricade sekitar 36,26 detik.
Perbedaan waktu antara proses membuka dan menutup terjadi karena motor harus mengatasi tekanan cairan dan beban mekanis ketika menutup pembatas. Meski demikian, peneliti menilai waktu respons tersebut masih memadai untuk mendukung sistem keselamatan pada kondisi darurat.
Mendukung Keselamatan Kerja Industri
Keunggulan utama ASEB terletak pada kemampuannya bekerja secara otomatis tanpa menunggu operator. Begitu sensor mendeteksi adanya cairan, sistem langsung mengirimkan perintah kepada aktuator untuk menutup area terdampak sehingga penyebaran bahan kimia dapat segera dibatasi.
Jenni Ria Rajagukguk dan Wanda Kurniawan dari Universitas Krisnadwipayana menjelaskan bahwa integrasi sensor, mikrokontroler, dan linear actuator memberikan sistem kemampuan untuk merespons keadaan darurat secara otomatis serta meningkatkan efektivitas manajemen keselamatan industri. Dengan teknologi tersebut, risiko paparan bahan kimia terhadap pekerja dapat dikurangi sekaligus membantu perusahaan meminimalkan pencemaran lingkungan akibat kebocoran bahan berbahaya.
Selain memberikan perlindungan bagi pekerja, sistem ini juga berpotensi mendukung efisiensi operasional perusahaan. Respons yang lebih cepat dapat mengurangi kerugian produksi, mempercepat penanganan keadaan darurat, serta memperkuat penerapan standar keselamatan kerja di berbagai sektor industri, termasuk manufaktur, petrokimia, farmasi, dan pengolahan bahan kimia.
Peluang Pengembangan Menuju Industri Cerdas
Meskipun menunjukkan hasil yang sangat baik, penelitian ini masih menggunakan prototipe skala laboratorium sehingga memerlukan pengujian lebih lanjut pada lingkungan industri yang sebenarnya. Faktor-faktor seperti suhu, kelembapan, tekanan, serta karakteristik berbagai jenis bahan kimia masih perlu dievaluasi agar sistem semakin andal ketika diterapkan dalam operasi nyata.
Peneliti juga merekomendasikan pengembangan teknologi ini melalui integrasi Internet of Things (IoT) untuk pemantauan jarak jauh, penggunaan sensor yang mampu mengenali berbagai jenis bahan kimia, serta pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) guna meningkatkan kemampuan prediksi dan respons terhadap kondisi darurat. Dengan pengembangan tersebut, Automatic Safety Emergency Barricade berpotensi menjadi bagian penting dari sistem keselamatan pada industri modern berbasis otomasi.
Profil Penulis
Jenni Ria Rajagukguk merupakan peneliti pada Program Magister Management Technology, Fakultas Teknik, Universitas Krisnadwipayana, Jakarta. Bidang keahliannya meliputi otomasi industri, teknologi rekayasa, sistem keselamatan kerja, dan pengembangan teknologi berbasis mikrokontroler.
Wanda Kurniawan merupakan peneliti pada Program Magister Management Technology, Fakultas Teknik, Universitas Krisnadwipayana, Jakarta. Fokus penelitiannya mencakup sistem otomasi, teknologi mikrokontroler, rekayasa industri, serta inovasi keselamatan kerja berbasis teknologi.
Sumber Penelitian
Rajagukguk, Jenni Ria, & Kurniawan, Wanda. (2026). Automatic Safety Emergency Barricade. Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA), Vol. 5, No. 2, hlm. 323–338.
0 Komentar