Di tengah meningkatnya kebutuhan akan transparansi dan akuntabilitas keuangan, perusahaan jasa transportasi dituntut mampu menyajikan laporan keuangan yang akurat, relevan, dan dapat dibandingkan dari waktu ke waktu. Sektor transportasi memiliki karakteristik transaksi harian dengan arus pendapatan yang cepat serta beban operasional yang besar, seperti biaya bahan bakar, gaji pengemudi, perawatan kendaraan, hingga penyusutan armada. Karena itu, sistem akuntansi yang baik menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan usaha.
Penelitian menemukan bahwa PT Suka Mulia masih menggunakan sistem pencatatan keuangan yang sederhana dan berbasis kas (cash basis). Pendapatan perusahaan dicatat berdasarkan setoran harian dari pengemudi tanpa pengelompokan menurut jenis layanan maupun periode akuntansi. Sementara itu, berbagai beban operasional belum dicatat secara sistematis berdasarkan prinsip akrual sebagaimana diatur dalam PSAK No. 1.
Observasi Langsung dan Wawancara Menjadi Dasar Analisis
Untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai praktik akuntansi perusahaan, tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi langsung di perusahaan, wawancara dengan pihak direksi, staf administrasi, dan pengemudi, serta dokumentasi berbagai catatan keuangan yang tersedia.
Selanjutnya, data dianalisis menggunakan teknik triangulasi agar informasi yang diperoleh tetap valid dan kredibel. Peneliti membandingkan hasil wawancara, dokumen, dan pengamatan lapangan sebelum menarik kesimpulan mengenai kesesuaian praktik perusahaan dengan standar akuntansi nasional.
Sejumlah Temuan Penting
Penelitian mengidentifikasi beberapa persoalan utama dalam penerapan akuntansi di PT Suka Mulia, antara lain:
- Pencatatan pendapatan masih dilakukan berdasarkan setoran kas harian tanpa klasifikasi menurut jenis layanan maupun periode akuntansi.
- Perusahaan belum menerapkan sistem pembukuan yang rutin dan berkelanjutan.
- Beban operasional seperti perawatan kendaraan, penggantian suku cadang, dan biaya lainnya hanya didukung bon atau faktur tanpa dicatat secara sistematis.
- Laporan laba rugi belum disusun secara berkala sehingga kondisi keuangan perusahaan sulit dievaluasi secara akurat.
- Prinsip akrual belum diterapkan sehingga kualitas informasi keuangan menjadi kurang relevan dan kurang dapat dibandingkan antarperiode.
Peneliti juga mencatat bahwa perusahaan lebih memusatkan perhatian pada kelancaran operasional angkutan dibandingkan pembangunan sistem administrasi dan akuntansi yang formal. Dalam praktiknya, pengemudi diwajibkan menyetorkan sejumlah uang kepada perusahaan, sedangkan biaya bahan bakar ditanggung sendiri oleh pengemudi. Kondisi tersebut menyebabkan pencatatan pendapatan perusahaan belum mencerminkan keseluruhan aktivitas ekonomi yang terjadi.
Mengapa Temuan Ini Penting?
Menurut para peneliti, lemahnya penerapan standar akuntansi tidak hanya berdampak pada penyusunan laporan keuangan, tetapi juga memengaruhi kualitas pengambilan keputusan manajemen.
Tanpa laporan keuangan yang lengkap, perusahaan akan kesulitan:
- Mengevaluasi laba atau rugi secara akurat;
- Mengendalikan biaya operasional;
- Menyusun strategi bisnis jangka panjang;
- Memperoleh kepercayaan investor maupun lembaga keuangan; dan
- Memenuhi tuntutan transparansi dalam pengelolaan usaha.
Masalah seperti ini tidak hanya ditemukan di PT Suka Mulia. Penelitian juga menyoroti bahwa banyak usaha kecil dan menengah di Indonesia masih menganggap akuntansi sekadar kegiatan administratif, sehingga penyusunan laporan keuangan belum menjadi prioritas utama.
Rekomendasi untuk Perusahaan Transportasi
Berdasarkan hasil penelitian, tim penulis merekomendasikan beberapa langkah yang dapat dilakukan perusahaan agar kualitas laporan keuangannya meningkat.
Pertama, perusahaan perlu mulai menerapkan pembukuan sederhana namun dilakukan secara rutin untuk seluruh transaksi pendapatan dan beban.
Kedua, laporan keuangan perlu disusun secara periodik sesuai PSAK No. 1, khususnya laporan laba rugi sebagai dasar evaluasi kinerja perusahaan.
Ketiga, seluruh pendapatan dan biaya operasional harus dikelompokkan berdasarkan periode akuntansi sehingga memudahkan analisis kondisi keuangan.
Keempat, perusahaan dianjurkan meningkatkan pemahaman mengenai standar akuntansi melalui pelatihan maupun pendampingan agar proses penerapan PSAK dapat dilakukan secara bertahap.
Beril Syahputra Ginting Suka dan tim dari Universitas Quality Berastagi menegaskan bahwa penerapan sistem akuntansi berbasis akrual akan menghasilkan informasi keuangan yang lebih relevan, andal, dan mudah dibandingkan antarperiode. Kondisi tersebut diharapkan mampu mendukung pengambilan keputusan manajerial yang lebih tepat sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan jasa transportasi di tengah persaingan yang semakin ketat.
Profil Penulis
Beril Syahputra Ginting Suka merupakan akademisi dan peneliti dari Program Studi Akuntansi, Universitas Quality Berastagi dengan fokus kajian pada akuntansi keuangan, penyajian laporan keuangan, dan penerapan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Penelitian ini disusun bersama Milawati Br Ginting dan Nenni Lestari Br Surbakti, yang juga berasal dari Universitas Quality Berastagi.
0 Komentar