Nilai Budaya Sunda dan Keluarga Kunci Utama Membentuk Etika Calon Akuntan Berintegritas


Ilustrasi by AI 

Integrasi filosofi Sunda dan pola asuh keluarga terbukti memperkuat karakter moral serta etika profesional calon akuntan masa depan.

Skandal keuangan, manipulasi laporan akuntansi, dan korupsi di dunia bisnis kerap berakar dari lemahnya integritas individu. Menjawab tantangan tersebut, akademisi Hawa Hilwana Nafisah dan Muhammad Aras Prabowo dari Universitas Nahdlatul Ulama mempublikasikan hasil kajian ilmiah terbaru di International Journal of Integrative Sciences (IJIS) pada Juli 2026. Penelitian ini menyoroti bagaimana aktualisasi nilai-nilai budaya Sunda dan pendidikan karakter berbasis keluarga mampu membentuk landasan etika yang kokoh bagi mahasiswa akuntansi.

Latar Belakang: Krisis Kepercayaan dan Keterbatasan Etika Formal

Profesi akuntan memegang peranan krusial sebagai penyedia informasi keuangan yang jujur dan transparan bagi publik, investor, maupun pemerintah. Namun, maraknya kasus kecurangan akuntansi membuktikan bahwa pendidikan etika formal di bangku kuliah dan kode etik profesi semata tidak cukup untuk mencegah pelanggaran.

Tantangan Etika AkuntanSolusi Berbasis Nilai Lokal & Keluarga

Pembelajaran etika sebatas hafalan teori

Internalisasi moral dari kebiasaan hidup sehari-hari

Maraknya manipulasi laporan keuangan

Penguatan integritas dasar sejak lingkungan keluarga

Tererosinya kepercayaan publik

Penerapan filosofi keselarasan sosial dan empati

Banyak studi sebelumnya hanya berfokus pada kurikulum akademik atau regulasi profesi. Padahal, budaya lokal dan keluarga merupakan kawah candradimuka pertama tempat seseorang menyerap nilai kejujuran, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui metode studi pustaka (library research). Peneliti mengumpulkan dan menganalisis berbagai sumber literatur ilmiah, buku, jurnal nasional maupun internasional, serta dokumen kebudayaan yang relevan dengan kearifan lokal Sunda, sosiologi keluarga, dan etika profesi akuntansi.

Data yang terkumpul dianalisis secara mendalam untuk memetakan keterkaitan antara filosofi Sunda, pola asuh keluarga, dan prinsip-prinsip utama etika akuntansi.

Temuan Utama: Keselarasan Filosofi Sunda dan Etika Akuntansi

Hasil kajian menunjukkan adanya kesesuaian yang sangat erat antara falsafah hidup masyarakat Sunda dengan kode etik profesi akuntansi:

  • Silih Asih (Saling Mengasihi): Mendorong calon akuntan untuk memikirkan dampak sosial dari keputusan profesional mereka, menghindarkan diri dari sifat serakah yang merugikan publik.
  • Silih Asah (Saling Memperkaya Ilmu): Sejalan dengan prinsip kompetensi profesional dan kehati-hatian, menuntut akuntan untuk terus belajar dan meningkatkan keahliannya.
  • Silih Asuh (Saling Membimbing dan Melindungi): Memperkuat rasa tanggung jawab bersama dalam menjaga nama baik profesi dan transparansi kerja.
  • Tepa Salira (Tenggang Rasa & Empati): Berkontribusi langsung pada prinsip objektivitas, memastikan akuntan tetap adil dan bebas dari benturan kepentingan (conflict of interest).
  • Role Model Keluarga: Pola asuh keluarga Sunda yang membiasakan kejujuran, kesederhanaan, dan tata krama sejak dini menjadi "laboratorium etika pertama" sebelum mahasiswa memasuki dunia kerja.

Implikasi dan Dampak Nyata bagi Pendidikan Tinggi

Penelitian ini memberikan panduan praktis bagi perguruan tinggi dan penyusun kurikulum untuk merevitalisasi pembelajaran etika bisnis. Mengajarkan etika tidak lagi sekadar menghafal aturan formal, melainkan mengaitkannya secara kontekstual dengan kearifan lokal yang sudah dihayati mahasiswa sejak kecil.

"Pembentukan etika profesi akuntansi sangat bergantung pada internalisasi nilai-nilai budaya dan keluarga di samping pendidikan formal. Budaya lokal dan pola asuh keluarga berfungsi sebagai fondasi utama dalam menjaga integritas profesional calon akuntan," ungkap Hawa Hilwana Nafisah dan Muhammad Aras Prabowo dari Universitas Nahdlatul Ulama dalam hasil kajiannya.

Dengan memadukan kearifan lokal dan kurikulum akuntansi, perguruan tinggi dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki benteng moral yang kuat saat menghadapi dilema etika di dunia kerja.

Profil Penulis

  • Hawa Hilwana Nafisah, S.Ak. adalah peneliti dan akademisi di bidang akuntansi dari Universitas Nahdlatul Ulama. Fokus keahliannya mencakup etika profesi akuntansi, pendidikan karakter, dan tata kelola keuangan
  • Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak. adalah dosen dan peneliti senior di Universitas Nahdlatul Ulama. Ia memiliki kepakaran di bidang etika akuntansi, akuntansi keperilakuan, dan pengintegrasian kearifan lokal dalam pendidikan tinggi.

Sumber Artikel Penelitian

Judul Artikel: Weaving Integrity: Actualization of Sundanese Cultural and Family Values in the Formation of Prospective Accountants' Ethics
Nama Jurnal: International Journal of Integrative Sciences (IJIS)
Tahun Publikasi: 2026
DOI : https://doi.org/10.55927/ijis.v5i7.45
URL : https://journalijis.my.id/index.php/ijis/index



Posting Komentar

0 Komentar