Masalah motivasi belajar masih menjadi tantangan dalam pembelajaran sekolah dasar. Di SDIT Bina Insan Parepare, pengamatan awal guru menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil siswa memiliki motivasi belajar tinggi. Sebagian besar berada pada tingkat motivasi sedang, sementara beberapa siswa menunjukkan motivasi yang rendah. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi keterlibatan siswa di kelas, pemahaman terhadap materi, pencapaian akademik, serta perkembangan berbagai keterampilan penting.
Musfirah dan rekan-rekannya melihat perlunya pendekatan pembelajaran yang tidak hanya menempatkan guru sebagai sumber informasi. Siswa perlu diberi ruang untuk membaca, berpikir, berinteraksi, menyampaikan gagasan, dan menghasilkan sesuatu dari proses belajar. Pendekatan seperti ini menjadi semakin penting pada jenjang sekolah dasar karena anak-anak cenderung belajar lebih efektif melalui keterlibatan langsung, interaksi, dan kerja sama.
Lima Tahap RADEC Membuat Siswa Lebih Aktif
RADEC merupakan model pembelajaran yang namanya diambil dari lima tahapan utama, yaitu Read, Answer, Discuss, Explain, dan Create.
Pada tahap Read, siswa membaca dan mempelajari informasi dari berbagai sumber. Selanjutnya, pada tahap Answer, siswa menjawab pertanyaan berdasarkan informasi yang telah dipahami. Tahap Discuss memberi kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi dalam kelompok, membandingkan jawaban, dan memperbaiki pemahaman.
Setelah itu, siswa memasuki tahap Explain, yakni menjelaskan hasil pemahaman mereka kepada teman-teman di kelas. Tahap terakhir adalah Create, ketika siswa menggunakan pengetahuan yang diperoleh untuk menghasilkan ide, karya, atau produk kreatif.
Rangkaian tersebut membuat pembelajaran tidak berhenti pada aktivitas mendengarkan penjelasan guru. Siswa didorong untuk terlibat secara aktif sejak memahami informasi hingga menciptakan hasil belajar. Model ini juga mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, kreativitas, dan keterampilan literasi.
Penelitian Melibatkan 28 Siswa Kelas V
Penelitian Musfirah, Sultan, dan Septiana menggunakan penelitian tindakan kelas yang berlangsung dalam dua siklus. Penelitian melibatkan satu guru dan 28 siswa kelas V.A SDIT Bina Insan Parepare, terdiri atas 14 siswa perempuan dan 14 siswa laki-laki.
Setiap siklus mencakup tahap perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, pengamatan, dan refleksi. Pembelajaran dilakukan dalam dua pertemuan pada setiap siklus, dengan durasi masing-masing dua jam pelajaran atau 70 menit. Materi yang digunakan berfokus pada teks iklan dan brosur dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Para peneliti mengumpulkan data melalui observasi, kuesioner motivasi belajar, dan dokumentasi. Setelah siklus pertama, hasil refleksi digunakan untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran pada siklus kedua. Guru kemudian memberikan lebih banyak kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat, meningkatkan pengawasan agar siswa tetap fokus, dan menerapkan tahapan RADEC secara lebih optimal.
Motivasi Belajar Meningkat pada Siklus Kedua
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pada aktivitas guru, aktivitas siswa, dan motivasi belajar. Pada siklus pertama, pelaksanaan pembelajaran masih berada dalam kategori cukup. Setelah dilakukan perbaikan pada siklus kedua, aktivitas guru, aktivitas siswa, dan motivasi belajar meningkat ke kategori baik.
Secara khusus, jumlah siswa yang memenuhi kriteria ketuntasan motivasi belajar meningkat dari 19 siswa pada Siklus I menjadi 28 siswa pada Siklus II. Artinya, seluruh siswa yang terlibat dalam penelitian mencapai kriteria motivasi belajar yang telah ditetapkan pada akhir siklus kedua.
Perubahan tersebut juga terlihat dalam proses pembelajaran. Guru menjadi lebih terstruktur dalam memberikan instruksi, mengelola kelas, dan memfasilitasi diskusi kelompok. Sementara itu, siswa memperoleh lebih banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat, bekerja sama, menjelaskan pemahaman, dan terlibat dalam aktivitas pembelajaran.
Para peneliti menyimpulkan bahwa penerapan RADEC secara bertahap mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih aktif dan bermakna. Pembelajaran yang memberi ruang kepada siswa untuk berpartisipasi secara langsung dinilai dapat mengurangi kejenuhan sekaligus meningkatkan rasa ingin tahu terhadap materi yang dipelajari.
Relevan untuk Pembelajaran Berbasis Kurikulum Merdeka
Temuan ini memiliki implikasi bagi guru sekolah dasar yang ingin meningkatkan motivasi belajar tanpa bergantung sepenuhnya pada metode ceramah. RADEC menyediakan struktur pembelajaran yang jelas, tetapi tetap memberi ruang bagi siswa untuk belajar secara mandiri dan kolaboratif.
Model tersebut juga sejalan dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21 karena menggabungkan literasi, kemampuan berpikir tingkat tinggi, komunikasi, kerja sama, dan kreativitas. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, pendekatan ini dapat mendukung pembelajaran yang berpusat pada siswa serta pengembangan karakter dan kompetensi yang diharapkan dari peserta didik.
Namun, para peneliti juga mengingatkan bahwa hasil penelitian ini perlu dibaca sesuai konteksnya. Penelitian hanya dilakukan pada satu kelas dengan jumlah siswa yang terbatas, menggunakan materi pembelajaran tertentu, dan berlangsung dalam dua siklus. Karena itu, hasilnya belum dapat secara otomatis digeneralisasi untuk semua sekolah atau seluruh materi Bahasa Indonesia. Penelitian lanjutan dengan jumlah peserta lebih besar dan waktu pelaksanaan lebih panjang diperlukan untuk melihat keberlanjutan dampak RADEC terhadap motivasi belajar siswa.
Profil Penulis
- Musfirah — Universitas Negeri Makassar; bidang penelitian pendidikan dasar dan pembelajaran Bahasa Indonesia.
- Muhammad Asrul Sultan — Universitas Negeri Makassar; bidang pendidikan dan pengembangan pembelajaran.
- Septiana B — Universitas Negeri Makassar; bidang pendidikan dan pembelajaran sekolah dasar.
0 Komentar